cerita gay

Day 1

Suasana hening mengudara di seluruh kamar ku. Seakan sebuah ruangan kedap suara, suara diluar ruangan tidak mampu menembus lamunanku.

Aku seorang penderita HIV

Suara itu terus berkumandang dipikiranku seakan menjadi topik pembicaraan hangat antara organ-organ dipikiranku.

Aku sudah menjadi orang mati. Tidak ada masa depan, tidak ada kehidupan. Semua hanya berjalan hanya untuk berjalan. Hanya untuk melanjutkan hidup menunggu hidup mempermainkan semuanya lalu aku akan mati

 

 ***

“ Ricky Halim? “ Sebuah suara keluar dari pintu coklat di klinik. Seperti akan mendengar sebuah vonis aku berjalan masuk dengan tenggorokan tercekat. Aku berusaha menenangkan diri. Berharap semua akan baik-baik saja. Harapku.

“Halo Ricky. Saya Dokter Fanny, yang menangani hasil darah kamu. Gimana kabar kamu? Sehat?” Senyum Dokter Fanny seakan mengatakan “kamu baik-baik saja” Tetapi ketika aku melihat matanya. Ada sesuatu yang dia sembunyikan

“Baik dok. Jadi bagaimana hasil saya? Semua baik-baik saja?” Aku sudah tidak ingin berbasa-basi. Aku sangat ingin membuktikan apakah firasatku selama ini salah apa benar.

“Kamu gak bisa berbasa basi ya. Hahaha” Dokter Fanny tertawa lalu mengeluarkan amplop putih yang masih dalam keadaan tersegel. “Oke Ricky kita langsung saja. Apapun hasilnya saya belum tau. Tapi sebelum kita membuka hasilnya, saya ingin memastikan kalau kamu sudah tau kan apa itu HIV?”

“Kalau untuk hal dasar saya sudah cukup tau sih dok. Sudah pernah belajar dan browsing juga” Aku mencoba menahan diri. Mengatur pikiran agar fokus meskipun hati sudah tidak tahan.

“Okay, coba sebutkan apa yang kamu tau dari penyakit ini?” Tangan Dokter Fanny memutar-mutar amplop berisikan hasil tes. Dan membuat aku semakin tidak fokus

“hem, eh.. ya aku tau dia penyakit seksual yang menular. Sekali kena harapan hidup sudah sangat rendah” Aku mencoba mengeluarkan isi otakku tentang HIV itu. Tetapi yang ada dipikiran aku hanya itu. HIv akan membuat aku mati.

“Untuk awal kamu benar. HIV adalah suatu penyakit menular. Bisa ditularkan melalui hubungan seks yang tidak sehat. Gunta-ganti pasangan tanpa alat pengaman. Jarum suntik ataupun transfusi darah. Tapi kamu salah kalau HIV sudah pasti akan mati.” Senyum kembali mereka di bibir dokter Fanny. Dia memperlihatkan sebuah diagram yang berisi sebuah tanaman yang aku yakini itu tanaman kaktus.

“HIV itu tidak mematikan. Tetapi yang berbahaya itu adalah AIDS. Banyak orang beranggapan ketika kita kena HIV sudah pasti kita akan terkena AIDS. Ya memang. Tetapi tidak benar juga. Masa dari HIV awal adalah 9-10 tahun dari awal si penderita terkena virus. Virus akan menyerang system kekebalan tubuh si penderita atau disebut CD4. Bila masa itu sudah lewat dan CD4 sudah habis dan tidak berguna lagi maka baru si penderita akan memasuki tahap AIDS” Aku begitu menyimak apa yang dokter cantik itu katakan. Seakan aku akan menghadapi masa-masa itu maka itu semua sangat penting untuk aku.

“Tapi untuk saat ini kita punya obat. Bukan untuk menyembuhkan tetapi hanya untuk menekan jumlah virus agar tidak menyerang CD4 penderita lebih banyak. Kita sebut itu ARV. Kamu bisa cek kembali di google. Obat ini bisa menekan jumalah virus tetapi tidak bisa menghilangkan. Penderita harus rutin dalam meminum ini. Karena bila si penderita kehilangan saja satu dosis. Dia harus mengulang semua pengobatan dari awal. Karena itu memberikan waktu untuk virus beradaptasi terhadap obat sehingga mereka kebal terhadap obat tersebut.”

“Jadi sekali minum dia tidak akan pernah lepas? Seumur hidupnya?” Dokter Fanny menganggukan kepalanya menjawab pertanyaanku

“Ya seumur hidup. Sampai nanti ketika obat HIV sudah ditemukan maka baru dia bisa lepas dari obat itu” Dokter fanny tersenyum. Dan kali ini aku menganggap itu sebuah senyum jahat yang seolah – olah mengatakan hahaha rasakan itu kau penderita HIV! Semakin susah hidup kalian! Hahahaha

 

***

“Aku kayaknya mau test HIV deh dut” Aku menatap seorang laki-laki bertubuh tidak terlalu gendut. Tetapi hati ini sangat jahil untuk mengatakan kalau dia gendut

“Buat apa sayang? Kamu emangnya kena HIV?”Dia kembali menatapku. Seakan mencoba mencerna apa yang aku katakan.

“Ya gak tau sih. Ya kan tes karena mau tau. Kan buat jaga-jaga” Aku menampar pipinya yang sedikit gembul dan memainkan pipinya.

“Hmmm yaudah aku juga deh. Tapi ya gak bakal lah kita kena”

“Iya sih. Tapi siapa tau kan dulu aku sama mantanku sedikit nakal. Dan kita putus karena dia selingkuh. Takut ajah dia nularin aku”

“Hayo sama siapa hayo terakhir? Kamu ngapain ajah?” Dia mencoba menjahili aku kembali. Tetapi malah membuat aku menjadi berfikir dan mengingat kehidupan lama.

Ya, aku seorang homoseksual. Aku seorang laki-laki yang menyukai sesama laki-laki. Dan dalam hubungan dua orang homoseksual atau biasa orang-orang bilang Gay, akan jarang sekali sebuah hubungan yang berlandaskan perasaan. Orang-orang itu mencintai karena kebutuhan seks berlaka. Ada bahasa dalam dunia gay. Gue top ya pasangannya bottom. Top bahasa untuk seorang yang berlaku menjadi laki-laki dalam seks dan bottom menjadi seorang perempuan dalam hubungan seks. Tidak perlu aku jelaskan bagaimana proses seks itu kalian pasti sudah tau. Tapi ya memang itu dunia gay. Dan aku orang yang termasuk didalamnya.

Mencintai karena seks. Dan lebih parah seks tanpa harus cinta. Ya karena sama-sama butuh akhirnya kami menjalin hubungan satu malam. Atau mungkin hanya beberapa jam. Setelah itu? HIlang dengan dunia masing-masing. Aku lah salah satu pelakunya.

“hei! Kok melamun? Mikirin apa sih?” Si Andre mencubit hidungku dan memaksa aku kembali dalam dunia nyata

“Nothing. Cuma mikri beberapa hal yang rahasia” Aku menjulurkan lidahku. Sengaja mengatakan rahasia yang aku tau akan membuat dia bête.

“Lah kok gitu sih? Apaan deh” Aku meninggalkan dia di bangku taman yang kami duduki dan berjalan menuju beberapa orang yang sedang latihan dance

***

“Ricky? Kok melamun? Jadi sekarang kita akan buka hasilnya. Siap?” wajah dokter Fanny seakan bingung dengan diriku yang tiba-tiba terdiam dan membuatku sedikit salah tingkah

“Okay dok. Siap. Apapun hasilnya aku sudah tau” Dokter Fanny bingung tapi tidak menggubris perkataanku. Dia hanya focus membuka amplop itu dan membacanya sebelum menjelaskan kepadaku apa hasilnya. Dengan ekpresinya yang berubah menjadi buruk aku seakan tau apa hasil dati tes itu. Semua feeling yang aku rasakan, semua pertanda yang ada di tubuh dan disekitar seakan terjawab semua. Tidak ada yang tau keadaan kita selain kita sendiri. Tubuh akan mengirimkan signal kalau kita sedang sakit. Dan aku tau itu kalau aku akan menghadapi sesuatu penyakit buruk ini.

Menjadi orang yang punya kelebihan sensitive yang tinggi sedikit membuatku terganggu. Mengetahui segalana sedikit lebih awal. Mengetahui sesuatu akan terjadi sebentar lagi. Orang akan mengatakan aku telalu parno. Tapi ini yang aku rasakan. Semua akan menjadi kenyataan. Cepat atau lambat.

Mengetahui beberapa hal yang tidak orang tau. Mengetahui keberadaan sesuatu yang tidak terlihat mata. Mengetahui apa yang orang lain rasakan. Mengetahui apa yang orang lain sedang alami mekipun tidak mengerti tapi aku mengetahui. Terdengar lebay. Tapi ya inilah yang terjadi. Ini sebuah gift yang sedikit mengganggu

“Apa dok hasilnya?” aku seakan masih berharap kalau firasat ku akan salah kali ini. Berharap ada sesuatu kesempatan untuk aku menjadi lebih baik. Tetapi senyum yang dipaksakan dari bibir Dokter Fanny kembali menegaskan

.“Ricky ? Kamu postif HIV” Aku hanya tersenyum. Miris

Advertisements

2 thoughts on “Day 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s