cerita gay

Day 2

“Kalau anak laki-laki gak boleh gampang nangis. Harus kuat, gak boleh cengeng dan harus bisa mandiri” Seorang anak laki-laki sedang di usap-usap kepalanya oleh seorang wanita yang terlihat sebagai kakaknya. DIa hanya terdiam dengan sesekali sesenggukan menahan tangisannya.

“Harus kuat” Pikirnya dalam hati

 

***

“Honey, are you okay?” Andre menepuk pipiku dengan lembut. Berusaha untuk membalikan aku ke alam sadar.

“I’m okay honey. I’m just tired” Aku berusaha untuk membohongi Andre dengan sedikit gimik menggulat seperti orang mengua.

“Are you sure? You look so messy” Dia membuat tanda aneh dengan matanya yang tertuju ke pakaianku..

“Whats wrong with me?” AKu memandang baju kaos yang aku pakai. Mekipun memang suddah sedikit pudar. Aku rasa ini masih pantas. Celana jogging dan sandal jepit, tidak ada yang salah dengan mereka kan? Pikirku

“Kamu memang sudah semakin kacau. Kamu gak pernah jalan sama aku pakaian kayak gembel dapet baju pinjaman” Mendengar komentar jahat dia tentang pakaianku membuat aku sedikit tertawa.

“Hahaha you so funny, honey” Aku memberikan sedikit tinju tepat di lengannya. Kalau dia tidak sedang menyetir mungkin aku akan memberikan berbagai macam tinju di tubuhnya.

“So? Mau kemana kita hari ini?” Andre berusaha mencairkan suasana. Setelah berjalan 6bulan hubungan kami. Dia sudah cukup mengenal perilaku diriku yang menurut dia abstrak.

Dia tau apa yang bisa membangkitkan mood. Dia selalu membawa aku ketempat yang bisa aku jadikan spot selfie. Atau ketika aku lagi tidak nafsu makan, dia akan membawaku ke tempat makan yang sedikit pedas. Atau ketika tiba-tiba aku lagi malas untuk berbicara. Dia selalu membuat tingkah aneh yang membalikan mood.

Tapi kali ini berbeda. Sekeras apapun dia mencoba. Selalu gagal. Karena kali ini bukan moodku yang hancur. Tapi seluruh hidup, mimpi dan harapan. Semua hancur lebur! Tidak ada masa depan dari seorang yang terkena HIV. Sekarang aku sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang diri. Aku adalah sumber penyakit yang bisa saja menularkan penyakit ini secara tidak sengaja.

“Pulang ajah yuk?” Mendengar jawabanku membuat kepalaku di tempeleng.

“Aku baru keluar dari komplek rumah kamu. Kamu bilang mau pulang? Aku tinggalin kamu di tol jagorawi” Sekali lagi dia mengerti keadaanku dan mencoba membuat sesuatu yang lucu. Tapi itu gagal.

“Aku positif HIV. Apa yang kamu harapan dari aku?” Aku menatap keluar jendela Berharap tidak menatap mata Andre saat itu.

“Maksud kamu? Memang kamu pikir selama 6bulan ini aku mengharapkan apa dari kamu?” Andre terlihat berusaha menahan emosinya. Sekali lagi dia mencoba mengerti aku.

“Ya kamu gak usah pura-pura tidak mengerti. Dalam hubungan semacam kita apalagi yang diharapkan dari seorang pacar kalau bukan seks? Dan aku gak akan pernah bisa kasih itu”

Laki-laki harus kuat.. Gak boleh cengeng! Kata-kata itu terus berputar dikepalaku.

“Aku gak pernah mengharapkan apapun dari kamu. Aku mau kita hubungan seperti biasa. Aku jalan sama kamu bukan karena seks! Kamu harus tau itu. Penyakit kamu gak akan buat aku mundur dari kamu. Dan untuk masalah seks, kita akan tetap cari caranya. Dan kita akan bisa lakukan itu sayang” Ada perasaan haru dan kecewa ketika mendengar apa yang Andre katakan.

***

“Di dunia ini berhubungan sama kenti! Jangan berharap u bakal dapet hati! Ini Cuma seperti dunia hiburan! Kenyataannya lu gak bakal bisa hidup bareng sama yang lu suka! Inget itu!” AKu berusaha mencerna kata-kata dari sebuah video di youtube. Berisikan sebuah parodi film yang dibuat menjadi dunia gay.

Bercerita dua orang sahabat gay yang sedang ngobrol santai di sebuah cafe. Cowok yang satu terlihat sedikit melambai dan yang satu lagi terlihat lebih macho. Ya meskipun begitu mereka sama-sama gay.

Yang cowok yang kemayu sedang patah hati karena dia telah di tinggal kekasihnya. Dan yang cowok macho sedang mendengarkan ceritanya.

“Dia bilang gue itu special buat dia. Gue berbeda dari orang lain. Gue buat dia nyaman berada di dekat gue. Tapi kenyataannya dia malah tidur sama si bencong alay jahanam itu.” Kalimat terakhir dia seakan ingin menumpahkan kekesalannya dengan sedikit nada tinggi.

“hemm lalu” si macho hanya memberikan respon yang simple

“Iya! Dia bilang mau ada tugas di jogja dan kenyataanya dia pergi sama si bencong alay jahanam itu! Kejamnya lagi dia bawa itu si bencong ke tempat yang dulu gue datengin bareng dia! Semua tempat sama! Gimana gue gak sakit hati tau gak” Si kemayu mengambil tissue yang di berikan si macho. Dan kembali menangis tersedu-sedu.

“Gini ya. Kan gue udah bilang sama lu berkali-kali. Jangan pernah main hati di dunia begini! Disini kalau u main hati yang ada u di sia-siakan! Kalau u bukan gadung kaya, ya u harus manfaatin tubuh lo! Idiot” Mendengar ucapan si macho kemayu hanya diam saja dengan air mata yang terus berlinang.

“Lo liat gue. Gue gak pernah main hati! Makanya gue happy-happy ajah mau jalan sama siapapun yang gue mau.” Kemayu menatap si macho dan membuat si macho salah tingkah.

“Tapi apa salah kalau gue mengharapkan sebuah cinta dari seseorang? Gue gak bisa suka sama cewe ya gue akan mencari yang buat gue nyaman. Ya sebenarnya esensi dari sebuah hubungan ya rasa sayang dan cinta” Kemayu bermain dengan tissue bekas airmata dia. Dia membuat pecahan kecil dari tissue tersebut. Mengibaratkan hatinya yang telah robek

“Kalau u mengharapkan sebuah hubungan kaya gitu ya silahkan u mencoba mencintai wanita. Karena hubungan seperti itu hanya ada di antara hubungan cewek dan cowok. Kalau kayak kita? Cuma kenti!”

“Tapi apa lo gak pernah suka sama cowok yang jalan sama u?”

“Gue pernah suka sama orang. Tapi gue kapok. Jadi mulai saat itu gue memutuskan untuk have fun ajah”

“Gue yakin itu salah. Orang yang seperti itu gak pantas disebut gay atau homoseksual. Karena mereka hanya membuat jelek kaum seperti ini. Mereka mungkin pantas di sebut binatang yang cuma pentingin kenti mereka. Gue bukan binatang. Gue gay”

“Terserah lo deh. Ya konsekuensinya u akan patah hati terus. Karena yang mikir seperti u sedikit. Dan kalau pun ada dia gak akan mau sama u”

Lalu mereka terdiam. Merenungi semua pembicaraan mereka.

***

“Tuh kan kamu bengong lagi. Mikir apa sih kamu?” Andre menyentil kupingku. Dan seketika menarik aku kembali alam sadar. Lagi

“Kita ada dimana?” AKu melihat sebuah pantai di luar jendela.

“Ancol hahaha kamu kan kalau galau suka banget pergi ke alam. Ya meskipun ancol gak seberapa setidaknya bisa membuat kamu fresh.” Sekali lagi dia berusaha mengerti aku. Dan kali ini usahanya cukup berhasil membuat aku seidkit nyaman. Dia kembali membuat aku nyaman.

Aku memeluk lehernya. Dan dengan hatihati aku mendaratkan bibirku ke bibirnya. Aku terlalu sayang, dan aku takut perasaan ini akan menjadikan aku seperti si kemayu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s