cerita gay

Day 3

Ada salah satu ayat di alkitab berkata kalau rancangan Tuhan itu indah. Rencana Tuhan mendatangkan kebaikan. Tidak ada rancangan kecelakaan. Tidak perlu ada ke khawatiran dalam hidup. Karena bunga bakung di taman tidak pernah dirawat tetapi dia tumbuh dengan indah. Burung – burung pipit tidak ada yang memberi makan tetapi hidupnya terjamin.

Tapi itu yang tertulis di dalam alkitab. Sebuah buku yang katanya berisi dengan kata-kata yang berasal dari Tuhan. Entah benar atau tidak, tetapi banyak orang yang mempercayainya. Dan aku salah satu orang yang pernah percaya akan semua kata-kata di buku tersebut. Tapi untuk sekarang? Kata-kata itu hanya sekedar kata-kata bulshit.

 

***

Air dingin mengalir dari shower langusng mengenai ubun-ubun kepalaku. Membangunkanku dari mimpi yang membuai. Menarikku kembali kedunia nyata. Dunia yang sudah mati bagiku.

Aku menyabuni tubuhku sedikit lebih banyak dari biasanya dan menggosok keras – keras kulitku. Berharap kalau sabun ini bisa membersihkan semua virus ini. Aku berharap kepada Tuhan yang dulu aku sembah, aku berharap Dia memberi sediki mujizat dan menghilangkan semua virus ini. Memberikan kesempatan kedua untuk aku keluar dari jalan ini.

Tapi semakin aku menggosok semakin aku merasa kotor. Aku merasa semua sia-sia. Aku merasa semua telah menyatu menjadi daging. Tuhan sudah pergi meniggalkan aku yang sangat-sangat kotor.

“Rick, udah mau jam 7. Cepet mandinya nanti telat masuk kantor” Teriakan nyokap menyadarkanku dari kesedihan. Aku terlalu banyak terlarut dalam keadaan.

“Iya” Jawabku seadanya

***

I’m beautiful in my way
‘Cause God makes no mistakes
I’m on the right track, baby
I was born this way

 

Lady gaga memenuhi seluruh kamarku dengan suaranya yang khas. Sebuah lagu yang sudah sangat familiar dengan kaum LGBT menandakan ada panggilan masuk di handphonneku

 

“Halo” Suara seseorang yang sudah sangat aku kenal menyapaku dari ujung sana

“Halo, kenapa telepon pagi-pagi?” Aku berusaha menempelkan handphone di telinga. Menjaga di posisinya aga tidak terjatuh dan membuatku tertidur lagi.

“Kalau di jam aku sih sekarang sudah jam 3 sore sayang. Aku kira kamu lagi di gereja. Ternyata masih tidur” Suara lembut dan penuh perngertiannya menjadi sesuatu yang penting untuk telingaku. Membuat otak menjadi tidak ngantuk.

“Hahaha namanya juga hari minggu gendut. Ya harus istirahatlah setelah 6hari bekerja” Kami berdua pun tertawa. Seakan melupakan bahwa kita akan segera berpisah.

“Kamu gak ke gereja?” Mendengar kata gereja sekarang membuat aku menjadi sedikit sensitive.

“Nggak. Mau ngapain disana? Nyanyi gak jelas lalu denger ceramah gak penting” Aku berjalan keluar dari kamar mencari segelas air putih dapur.

“Hush! Gak boleh gitu ngomongnya! Apaan sih kamu?” Mungkin kalau Andre ada disebelahku. Aku akan diguyur dengan air yang akan aku minum. Tapi untungnya tidak

“Lah? Kenapa? Benar kan? Tuhan itu gak ada gendut. Tuhan itu gak pernah ada buat aku. Jadi aku simpulkan Tuhan itu gak ada!” Dan benar saja jawaban aku membuat Andre marah besar.

“Kalau Tuhan itu gak ada kamu gak akan pernah ada di dunia. Aku gak suka kamu kaya gitu ngomongnya. Kamu boleh kecewa sama Tuhan, kamu boleh marah sama Tuhan. Tapi kamu gak boleh ngomong kaya gitu! Tuhan itu ada dan nyata!”

 

Aku bukan seseorang yang nakal. Bukan sesorang yang tidak penah beribadah. Dari aku kecil aku sudah menjadi pemeluk agama Kristen Protestan. Sejak kecil aku begitu memujaNya. Aku sangat bergantung akan dia. Aku taat akan agama, menjadi pelayannya di ibadah. Tapi aku merasakan hidup yang diberikan oleh Dia begitu keras. Aku ingin menyerah, tetapi banyak yang bilang kalau proses yang besar akan menghasilkan orang yang besar. Tetapi aku tidak merasakan akan menjadi orang besar.

 

Seorang anak kecil yang berumur belum 5 Tahun harus merasakan kerasnya hidup. Tanpa ayah, tanpa kasih sayang ibu karena ibu harus membesarkan 5 orang anak seorang diri, merasakan sendiri tanpa ada teman kerena menjadi orang yang sangat miskin dan saudara yang sibuk akan dunia mereka. Aku terbiasa sendiri, dan Tuhan yang menjadi tempat sandaran, seakan ikut menjauh dan meninggalkan.

“Dre, aku baru bangun tidur. Please, jangan pancing emosi aku” Aku malas berdebat dengan satu-satunya orang yang mengerti aku saat ini

“Okay, aku akan diam. Tapi denger ini. Kita boleh jadi gay, kita boleh mencintai. Tapi jangan lupa kalau kita juga mahkluk beragama” Aku hanya membalas dengan gumamam tidak jelas

 

***

 

Menatap kaca aku melihat seseorang laki-laki kurus dan sedikit gondrong ala-ala korea. Aku melihat tidak ada yang salah selain gizi buruknya. Tetapi aku tau, itu aku seseroang penderita HIV.

“AKu jalan ya ma” Aku berteriak dari depan pintu, Mamaku yang ada di dapur segera menghampiriku.

“Hati-hati anaknya mama. Semangat kerjanya. God Bless your day.” Umur sudah 21 tapi aku masih di perlakukan sebagai anak 8 tahun. Tetapi sebagai anak aku hanya bisa menerimanya. Aku memberikan senyuman manis yang terbaik yang bisa aku berikan.

Selagi mengendarai motor aku tertawa kecil mendengar perkataan nyokapku. Polos, tidak tau apa-apa. Tuhan tidak akan pernah memberikan berkat kepadaku. Semua yang ada aku miliki. Semua ini hasil jerih payah aku, kakakku dan nyokap. Semua ada karena kami terlalu capek akan permainan dunia yang terus mempermainkan kaum miskin. Kami berontak dan mendapatkan sedikit jerih payah. Tuhan itu gak ada!

 

“Aku ada” Sebuah suara muncul. Seperti suara yang biasa aku buat dalam pikirianku. Tapi berbeda.

 

“Gak ada! Lo cuma mitos!” Aku membalas suara itu.

 

“Kamu tau dalam lubuk hatimu Aku ada. Kamu sudah tau karena kamu sudah terbiasa akan kehadiranKu. Aku yang menemanimu ketika kamu sendiri, ketika kamu sedang beraktifitas, ketika kamu sedang jalan dengan temanmu, dan ketika kamu sedang tidur. Bahkan aku ada ketika kamu bertemu dengan orang-orang yang merusak kamu. Aku ada menyaksikan kamu merusak diri kamu. Aku ada ketika kamu mendapatkan ciuman pertama. Aku ada di semua tempat yang kamu datangi untuk melakukan pelarian. Aku ada!”

 

“Kalau Tuhan ada kenapa Tuhan mengizinkan semuanya? Kenapa Tuhan tidak mencegah semuanya sebelum terjadi?” Aku seperti orang gila berbicara sendiri. Untung saja ada masker yang menutupi sebagian wajahku.

 

“Kamu mengabaikan Aku”

 

“Karena Tuhan terlebih dahulu mengabaikan Ricky. Ricky capek sama semuanya Tuhan. Tuhan terlalu keras sama Ricky. Tuhan terlalu memberikan tekanan di hidupnya Ricky. Ricky capek, Ricky gak kuat. Ricky butuh sosok orang yang bisa Ricky percaya. Tuhan tidak berwujud. Ricky gak bisa peluk Tuhan untuk ngadu semua kesakitan Ricky.” Tidak ada jawaban lagi

 

“Kalau Tuhan bilang ini salah kenapa Tuhan memberikan rasa sayang ini? Kalau menjadi gay salah kenapa Tuhan tidak menetapkan hati ini hanya mencintai satu wanita saja? Kenapa Ricky berbeda dari lahir? Kenapa Tuhan kasih perasaan ini dari Ricky kecil? Kalau ini salah kenapa Tuhan izinkan?” Kembali tidak ada jawaban

 

“Tidak ada yang salah dengan mencintai bukan? Kenapa aku tidak boleh mencintai Andre? Dan kenapa Tuhan kejam menghukum Ricky dengan penyakit ini? Tuhan udah merampas hidup Ricky, Tuhan udah ngerampas semua mimpi, semua sudah Tuhan rampas.”

 

Air mata sudah mulai berjatuhan. Seakan bom atom yang meledak. Kali ini aku meledak, meledak dengan kesunyian dan air mata.

 

“Tuhan izinkan papi tingalin kita, buat semua kehidupan Ricky menjadi keras. Tuhan buat mami dan cici koko sibuk buat hidup. Tuhan izinkan semua anak menghina Ricky dan keluarga Ricky. Tuhan izinkan Ricky di tinggalin sama semua teman Ricky. Gak ada yang tinggal di hidupnnya Ricky. Ricky capek sendirian. Dan ketika ada yang menemani Ricky sekarang Tuhan buat Ricky kena HIV seakan Tuhan mau mengambil Andre dari hidup Ricky. Semuanya! Semuanya Tuhan rampas! Sampai semua tidak tersisa”

Sesak. Dada ini terasa sesak. Begitu banya pertanyaan dan keluh kesah yang tidak pernah kelaur. Pagi ini, dengan kecepatan motor 50KM/Jam aku melampiaskan semuanya. Semua keluar bersama air mata yang seakan sudah terlalu lama tidak keluar. Mereka luber membanjiri pipi dan maskerku.

 

Tidak ada jawaban dari suara didalam kepalaku Aku kembali sendiri. Sunyi. Dia kembali meninggalkan diriku sendiri tanpa ada jawaban. AKu harus kembali menerka-nerka tentang semua yang aku alami. Kembali harus berjuang. Sendiri.

Dengan mata sembab aku berjalan dari parkiran motor. Aku harus kembali berakting kalau semua baik-baik saja. Dan memberikan senyuman terbaik yang aku bisa berikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s