cerita gay

Day 4

Ruangan klinik ini masih sepi, belum ada siapa-siapa hanya ada 2orang petugas yang sedang menyiapkan berkas-berkas. Ketika melihatku memasuki ruangan tersebut dia tersenyum.

“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya suster tersebut dengan senyuman tipis.

“Hmm, saya mau melakukan tes lanjutan untuk menjalani terapi ARV” Aku menyerahkan lembar hasil tes kemarin ke klinik tersebut. Dia membaca dan melirik kearahku. Sebagai klinik yang memang dikhususkan untuk menangani penyakit seperti ini, mungkin dia sudah terbiasa menghadapi orang-orang yang berpenyakit seperti ini jadi dia tidak akan bersikap aneh. Hanya saja ada sebuah tatapan yang menyiratkan kasihan hidupmu nak, kenapa kamu bisa terkena penyakit ini. Tapi mungkin hnaya perasaanku saja.

“Oh ya, kamu tunggu dulu disini, saya akan siapkan peralatannya.” Dia kembali tersenyum lalu menghilang di balik tirai yang membatasi meja resepsionis dan sebuah ruangan yang aku yakini ruangan obat. Lalu di pergi kesebuah ruangan lain yang mungkin memang sedang mempersiapkan.

Setelah 15menit dia kembali dan menyuruhku memasuki sebuah ruangan, darahku diambil dan aku kembali disuru menunggu selama 1jam. Sama seperti waktu aku di test HIV kemarin. Tetapi kali ini aku sendiri. Andre sedang sibuk dengan kerjaan dia.

***

“Kamu mau aku temani?” Andre menatap mataku. Aku melihat ada suatu rasa khawatir dimatanya.

“It’s okay. Aku bisa kok. Lagian kalau kamu temani aku kamu bolos terus kerjanya. AKu kan bisa malam, jadi kamu tenang saja” Aku mengambil tangannya dan meletakan pipiku ke telapaktangannya. Aku memjamkan mataku berharap aku akan tertidur dan bangun dengan kondisi kembali normal. Dia mengelus-elus pipiku. Lembut dan terasa menyenangkan.

Tidak ada perasaan yang paling nyaman didunia selain perasaan di terima. Perasaan dihargai sebagaimana kita adanua. Dan semua itu aku rasakan dari Andre. Aku berkenalan dengan dia di sebuah aplikasi berbasis lokasi. Bagi kaum gay seperti kami itu adalah aplikasi yang sudah dimiliki oleh kaum gay.

Aku kenal dia sebagai orang yang mesum. Seorang yang mencari sebuah kesenangan didalam dunia gay ini. Awalnya aku tidak mempedulikannya. Karena aku adalah orang yang jarang sekali mau berhubungan dengan hal ‘fun’ seperti itu. Aku hanya mau melakukan dengan seseorang yang aku percaya yaitu pacar.

Aku hanya menjadikan dia pelarian, dimana aku butuh seorang yang mengerti, dihargai, dan dikasihi. Dan dia ada disaat aku butuh itu semua. Memang terkadang seakan aku mempermainkan dia, tetapi tatap matanya yang teduh yang berhasil membuat aku luluh. Dan semua perhatian dia yang begitu lebay (dalam arti baik tentunya), dia sanggup menggeser semua kriteria seorang pacar di benakku.

***

“Kita putus” Aku menuliskan sebuah pesan ke seseorang yang bertuliskan jelekkk. Tanpa balasan dan tanpa sanggahan pesanku hanya diberi tanda read.

Bagaimana rasanya menyukai seseorang tanpa tau dia suka dengan anda? Dengan sebuah status yang tidak jelas, aku terpakut oleh dia. Aku bertahan dengan sebuah hubungan beda pulau yang tidak jelas apakah dia masih akan melanjutkan hubungan kita atau tidak. Hingga suatu saat aku mendapat kabar kalau dia sudah bersama orang lain di pulau sana. Dia mengangap hubungan ini sudah berakhir, tanpa memberi tau aku bahwa ini sudha berakhir. Dia menemukan yang lain disana ketika aku masih menunggu kabar dia. Bahkan aku dijadikan pelampiasan ketika dia berkunjung ke kampung halaman tanpa tau kalau dia sudah melampiaskan hasrat di tempat lain dengan kekasih barunya.

***

“Ricky” Mendengar namaku dipanggil membuatku sadar dari berbagai macam nostalgia gila dipikiranku.

“Aku mengikuti seorang dokter wanita yang sudah cukup tua. Aku mengharapkan semua berjalan lancar dan aku bisa segera meminum obat tersebut. Meskipun aku sudah putus asa, aku mengharapkan ada sebuah harapan. Entah apa itu, setidaknya aku mempersiapkan diriku.

“Halo Ricky, apa kabar?” Semua dokter disini mungkin memiliki basa-basi yang sudah basi menurutku.

“Baik, dok. Jadi bagaimana?” Aku langsung menuju topic pembahasan. Dokter tersebut langsung mengeluarkan sebuah amplop putih yang khas dengan klinik tersebut.

“Okay, jadi kamu sudah tau kamu memiliki virus HIV ditubuh kamu. Kamu harus segera melakukan terapi ini. Karena lebih cepat lebih baik. Karena kadar CD4 kamu sdudah cukup rendah.” Dokter tersebuh memperkihatkan angka-angka yang tidak aku mengerti.

“Sebelum aku saya memberikan obat ARV ke kamu, kamu harus melakukan tes darah dahulu. Kita mau tau bagaimana tubuh kamu sanggup menerima dosis. Agar tidak ada efek samping. Dia memberikan sebuah surat yang aku yakin itu sebagai rekomendasi untuk melakukan tes darah.

“Ada yang mau ditanyakan?” Dia menatapku seakan membaca isi otak ku.

“Kalau saya minum ARV ini apakah saya akan sehat dok?” Aku tidak mau menatap dokter tersebut. Entah kenapa aku takut.

“Ya kamu akan tetap terjangkit virus tersbut. Ya ini hanya untuk membantu kamu. Meningkatkan harapan hidup kamu. Karena bagaimanapun juga kamu sudah sakit. Tidak akan sehat.” Deg! Dokter itu seakan menusuk jantungku. Tepat! Dia mengatakan hal tersebut seakan-akan itu hal yang biasa untuk aku.

“Jadi apa yang aku bisa lakuin untuk menjaga kadar CD4?” Aku berusaha untuk tenang.

“Apa ya? Ya kamu harus jaga diri kamu. Gak boleh stess, kecapean. Banyak olahraga dan jaga pola hidup sehat. Ya tapi bagaimanpun juga CD4 kamu akan terus turun. Karena itu cara kerja obatnya” Kali ini dokter tersebut sudah benar-benar menusuk semakin dalam bahkan menghancurkan semua harapan. SEorang dokter yang berkerja di dalam klinik seperti ini dia berkata sedemikian rupa. Seakan aku hanya sesorang yang sedang mewancarai dia untuk sebuah tugas karyawisata. Dia tidak sadar telah berhadapan dengan seorang yang hamper putus asa.

Mendengar itu aku sudah malas berlama-lama berhadapan dengan dokter tersebut. AKu ingin segera pergi dan berharap tidak menemukandokter seperti itu lagi. AKu kembali menangis selama perjalanan motorku. Kembali merasa putus asa, kembali merasakan sakit hati.

“Kenapa harus aku TUhan?”

***

Keesokan harinya aku menghapiri klinik dekat rumahku. Berhubung aku terdaftar sebagai perserta BPJS aku berharap tes darah aku bisa mendapat pengganti dari BPJS tersebut. Entah memang penyakit ini sudah sangat terkutuk. SEmua orang yang mendengar kata “Saya penderita HIV” Pasti akan menjauh.

“Saya rasa untuk tes darah tersebut tidak tercover dalam pembiayaan BPJS.” Dokter di klinik BPJSku memundurkan kursinya kebelakang setelah aku menceritakan aku penderita HIV.

“Bukankah sudah ada program baru kalau pendertia hiv bisa mendapatkan pengobatan ARV dengan gratis” Aku merasa dokter ini ingin segera menjauh dariku.

“Iya betul, tetapi kami disini tidak ada perlengkapan untuk itu semua”

“Iya saya tau dok, makanya itu tujuan saya kesini ya saya mau meminta surat rujukan dari klinik ini untuk menjalani terapi ARV di Rumah Sakit yang ada perlengkapan tersebut”

“Maaf, saya tidak bisa memberikan itu. Anda bisa dating ke RS yang anda mau tuju dahulu, kalau butuh surat rujukan, baru anda bisa kembali dengan membawa keterangan dari rumah sakit tersebut”

Mendengar pernyataan bodoh dari dokter tersebut aku merasa sangat diribetkan dengan prosedur ‘tersebut.

“Bagaimana bisa saya dapat surat rujukan dari RS itu kalau saya belum dapat surat rujukan dari sini? Saya terdaftar di klinik ini!!” Aku menggebrak meja dan membuat dokter itu ikutan marah.

“Lebih baik anda segera kelluar dari klinik ini kalau anda bersikap seperti itu” Lalu dia berdiri dan membukakan pintu seakan mempersilahkan saya keluar. Melihat sikapnya seperti itu aku merasakan sakit yang luar biasa. Penyakit ini memang sudah menurunkann derajat manusia ke paling rendah.

Aku mengambil tasku yang aku letakan dilantai.

“Anda mengusir saya bukan karena saya menggebrak meja anda. Karena dari awal anda sudah takut dengan penyakit saya bukan? Anda tidak mau dekat-dekat dengan saya bukan?” Dokter tersbut tidak mau menjawab pertanyaan. Dia hanya menunjuk keluar. Aku melihat orang-orang heran dengan kami berdua. Tidak mau menambah masalah, aku memutuskan untuk segera pergi dari klinik tersebut.

“Anda dokter Herman. Saya akan catat nama anda.” Lalu aku meninggalkan semua dan melajukan motorku dengan perasaan benar-benar hancur.

***

“Aku terima kamu apa adanya. AKu gak peduli kamu sakit atau nggak! Aku tetep sayang kamu.” Andre terdengar emosional di serbang sana

“Bullshit! Gak ada yang namanya cinta apa adanya disini. Aku gak akan bisa kasih kamu sex yang selama ini kamu mau” Aku terpancing emosi. Aku merasa capek, aku ingin mengakiri semuanya. Dan aku tidak mau menahan Andre semakin lama, aku putus dari dia.

“kamu kira selama kita hampir satu tahun sdah berapa kali kita melakukan sex?? Gak pernah kan? Tapi aku masih sayang kamu kan? Jadi please, kamu gak harus hadapin ini semua sendiri. Biarkan aku bantu kamu. Aku mau disamping kamu” Terdengar ada isak disuara teduh tersebut.

“Dan aku sayang kamu, gak akan aku tahan kamu lama-lama. Kamu harus cari orang lain. Kamu harus mencoba menjadi normal, punya istri dan anak.” Aku menahan tangis mengatakan hal itu. Dia melekat dihatiku terlalu dalam.

“Aku Cuma mau kamu, please! Aku gak bisa kayak gini, ini semua susah buat aku”

“Kamu kira ini semua gampang buat aku? Kamu kira aku gampang ajah biarkan kamu pergi?”

“Kalau gitu jangan biarkan aku pergi. AKu mau di samping kamu. Entah sampai kapan. Selama mungkin yang aku bisa.” Aku meneteskan air mata mendengar apa yang Andre katakana. Perkataan itu terlalu manis diantara semua hal yang pahit di dalam hidup sekarang ini. AKu begit terenyuh dengan perkataannya. Aku hanya diam dan terisak.

“Ricky? Setidaknya beri aku waktu untuk menikmati semua kebersamaan kita. AKu gak bbisa mendadak seperti ini” Andre memelas. Hidup ini terlalu berat buatku. Apapun yang aku pilih, apappun yang aku lakukan semuanya seakan serba salah.

“Sampai akhir desember ini. Lalu semua akan berakhir. Satu tahun pertama kita akan jadi yang pertama dan yang terakhir.”

 

****

Karena penolakan terbesar yang dialami oleh penderita HIV/AIDS kebanyakan berasal dari petugas medis itu sendiri

Jauhi penyakitnya, jangan jauhi penderitanya

Kami mau hidup normal, kami mau menggapai semua mimpi kami. Meski waktu sudah tidak lama

-Selamat Hari HIV/AIDS sedunia-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s