cerita gay

Day 5

“I miss you” Aku mengirimkan sebuah chat ke seseorang yang bernama Kristan. Sebagai seorang gay, dia adalah satu-satunya wanita yang bisa aku cintai. Orang lain yang melihat hubungan kami mungkin mengira kami adalah pasangan yang begitu kompak dan serasi. Tapi dia begitu special kalau untuk dijadikan seorang pacar.

“I miss you too, honey. Ada apa hon?” Kristan begitu mengenalku. Ada yang mengatakan kalau seorang sahabat adalah sebuah jiwa yang terpisah dalam dua raga. Kristan tau apa yang aku rasakan sekarang. Betapa depresinya aku saat ini.

“Nothing” Aku berusaha mengelabui dia.

“Aha? Nothing? I know you so well honey. So, ada apa?” Aku tidak bisa membalas apa-apa. Aku hanya langsung mencari kontak dia, lalu aku menekan tombol telepon. Aku hanya menangis, dia hanya bingung dan hanya mendengarkan isakanku. Entah berapalam aku menangis, aku berusaha untuk mejelaskan apa yang terkjadi. Tetapi ketika aku mau bercerita aku hanya terus mengeluarkan isakan.

“Okay, kita harus ketemu secepatnya.”

***

Kristan menatapku yang sedang menyantap pasta di hadapanku. Hari ini aku yang mengajak Kristan untuk bertemu. Karena aku tau aku tidak sanggup untuk menghadapi semua ini sendiri. Karena Andre cepat atau lambat akan pergi. AKu butuh orang yang mengerti keadaanku. Dan itu hanya Kristan. Tetapi aku hanya mengatakan beberapa cerita konyol dan perkataan tidak berarti. Sepertinya dia sudah tidak sabar untuk mengetahui keadaan laki-laki labil dihadapannya.

“Jangan sampe gue bawa kecoa ke dalam mangkok u biar u gak berkutat sama makanan u terus.” Dia menarik makananku.

“Hahaha kenapa sih? Kan gue laper.” Lalu dia hanya memberikan tatapan yang seperti biasa. Seperti berbicara aha?.

“lu janji, lu mau cerita kalau ada makanan. Tapi sekarang lu mulut lu Cuma sibuk kunyah. Gue mau ceritanya sekarang. NOW!” Kristan membesarkan matanya.

“Okay, gue cerita sekarang. Galak amat.Kalau gue udah gak ada kangen lu” Kristan hanya memberikan tatapan ahanya. Aku menceritakan apa yang menimpaku saat ini. Dia tau kalau aku seorang gay, dia tau semua masalah ku. Dan aku rasa dia cukup layak untuk mengetahui kalau temannya ini akan segera meninggal.

Sepanjang aku cerita, dia hanya terdiam. Tatapan itu. Tatapan yang sama ketika aku menceritakan kalau aku seorang gay. Tatapan tidak percaya. Tetapi kali ini lebih dari tidak percaya. Kali ini dia seakan benar-benar tidak percaya.

Ketika aku menceritakan aku gay, dia tertawa-tawa. Dia sangat welcome terhadap kaum LGBT, jadi aku merasa aman. Tetapi ketika dia mendengar aku seorang HIV positif, dia kehabisan kata-kata, ekspresi, dan dia hanya terdiam lalu menundukan kepalanya. Aku merasa suatu kesalahan untuk menceritakan hal ini. Karena bagaimanpun juga orang akan takut dengan apa yang ada di dalam tubuh aku ini.

“Kris? Are you okay?” Aku berusaha melihat wajahnya yang tertunduk. Dia menggeleng lalu mengangkat kepalanya.

“Seriously? Kenapa bisa? Gue udah bilang sama lu. Terserah lu mau ngapain sama hidup lu, u mau bertingkah bagaimanapun gue dukung lu rick. Tapi gue kan udah bilang sama lu. Please, safe!!” Wajahnya merah.. Seperti menahan sesuatu agar tidak meledak keluar. Aku tidak tau itu perasaan sedih, marah, kecewa, jijik, atau apapun. Aku hanya merasa bersalah telah bercerita hal ini.

“Gue udah safe. Mungkin memang gak safe, tapi gue sama mantan gue doang, kris. Tapi ya namanya udah nasib, y ague tetep ajah kena Kris.” Kali ini aku yang menundukan wajahku. Aku malu dan merasa bersalah. Baru kali ini aku begitu merasa malu dihadapan teman dekatku sendiri.

“Tapi kan u gak tau mantan lu itu setia apa nggak. Ah kalau gue gak salah, dia itu gak setia, right? Dia selingkuh sama lu. Dan u gak tau sebelum sama lu dia udah sama siapa? Ugh!” Dia mengetuk-ketuk meja. Dia hanya mengaduk-aduk makanan dihadapannya.

“Iya gue salah. Gue udah bodoh banget.” Dia hanya mendengus kesal. Mungkin lebih dari sekedar kesal. Entah dengusan apa itu.

“Lalu? Apa yang mau lu lakuin selanjutnya? Jangan bilang lu udah nyerah sama hidup. Gue gak akan membiarkan hal itu.” Pertanyaan yang selama ini selalu ada di benakku. Apa lagi selanjutnya.

“Gue gak tau. Mungkin gue mau keluar dari dunia ini. Gue mau bertobat sepertinya.” Aku menatap matanya. Aku merasakan pisau menusuk jantungku. Tatapan itu bukann tatapan menghakimi, tetapi tatapan itu jauh lebih sakit dari tatapan menghakimi. Aku merasa bersalah total!

“Rick, lu udah tau kalau gue akan dukung apapun yang lu pilih. Lu pilih menjadi gay, okay gue dukung lu. Bukan berarti gue mau menjerumuskan u ke jalan yang salah. Tapi gue mau terima u apa adanya. Gue dukung lu beribu-ribu persen.” Aku hanya menatap Kristan. Kali ini aku tidak mau membantah siapapun.

“Tapi kalau sekarang lu mau balik ke jalan yang benar. Gue juga akan dukung lu beribu-ribu persen Rick. Tapi apapun yang u pilih nanti, gue mau lo gak abu-abu. Kalau u mau jadi hitam ya hitam. TApi kalau u mau jadi putih ya harus putih. Gak boleh abbu-abu.” Kristan seperti ingin meneteskan air mata

“Setiap minggu gue berdoa Rick buat lu. Gue mau lo jadi Ricky yang dulu. Gue maul u balik ke jalan yang benar. Mungkin ini jawaban Tuhan supaya lu balik kejalan yang benar. Meskipun gue gak suka cara Tuhan seperti ini. Tapi gue yakin ini yang terbaik buat lu Rick.” Kristan berbicara panjang lebar. Dan kali ini aku hanya diam. Aku tidak membantah meskipun kali ini Kristan membawa nama Tuhan. Aku sudah begitu pasrah dihadapannya.

“Iya, mungkin memang ini yang terbaikbuat gue. Mungkin gue udah terlalu bandel. Semua kesempatan yang udah dikasih buat gue, gue udah sia-siain. Mungkin Tuhan terlalu sayang sama gue, jadi gue dipaksa buat turutin jalannya dia. Gue udah dikasih rel sekarang” Aku sendiri tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Terdengar rasional, terdengar masuk akal. Selama ini aku menjadi seseorang anak Tuhan yang taat, tetapi aku begitu nakalnya aku keluar dari semua jalur itu. Aku hidup dengan bebas, melakukan semua hal menjijikan itu dengan mengatasnamakan cinta. Padahal itu semua hal yang sangat jauh dari cinta.

Selama ini aku mengatakan, aku pilih jadi gay Karena aku tau ini semua karena Tuhan sendiri yang memberikan perasaan ini. Love is love. Gak salah kalau gue mencintai seseorang. Karena cinta gak pernah memandang status, ras, gender atau apapun. Tetapi selama ini gue udah jadi makhluk munafik. Gue sudah terjerumus kedalam lubang kesalahan tanpa gue sadari. Semua udah gak jadi love is love. Semua ini karena gue yang terlalu terbawa nafsu.

Seperti palu godam yang menghantam kepalaku. Aku sadar, aku sudah salah. Dan tanpa terasa aku menitikan air mata. Aku menjatuhkan air mata yang seakan tidak pernah habis. Tetapi air mata ini buka air mata kesedihan yang selama ini aku keluarkan. Air mata ini seperti air mata harapan, air mata menyesal.

Tidak pernah salah aku bercerita segala sesuatu kepada Kristan. Dia bagaikan symbol yang dikirimkan Tuhan kalau aku tidak pernah sendiri. Sekalipun aku merasakan sendiri. Selama ini aku minta sosok Tuhan dalam hidup. Ternyata Tuhan sudah mengirimkan dari dulu, sejak 4 Tahun aku sudah bertemu dia. Mungkin kalau aku bukan seorang gay, mungkin dia adalah tulang rusukku.

“Thanks Kris buat semuanya.” Aku mengengam tangannya. Seakan aku menyalurkan kata-kata yang tidak aku sanggup katakan.

***

 

Karena tidak pernah ada yang salah dari yang namanya perasaan. Karena perasaan itu murni, kita tidak pernah dapat menyangkal sebuah perasaan. Dia timbul dan berkembang sesuai kehendaknya. Tetapi jangan pernah coba-coba melakukan sesuatu yang diluar dari kebenaran dengan mengatasnamakan cinta.

Cinta itu sabar, cinta itu murah hati. Cinta tidak cemburu. Cinta tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Cinta tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Cinta tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Cinta tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Cinta menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Cinta tidak berkesudahan.

Dosa itu dosa tidak ada pengecualian. Bukan mau menjadi orang munafik. Sampai sekarang aku bukan seseorang yang straight. Aku tetap seorang gay. Aku tidak hitam, tapi aku tidak putih. Aku pilih menjadi seorang yang balance di segala aspek. Tapi aku mau mencoba melakukan segala yang benar. Karena kesempatan tidak pernah datang kembali. Setiap hari ada harga yang perlu kita bayar untuk apa yang kita lakukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s