cerita gay

Day 6

So I’m gonna love you. Like I’m gonna lose you
I’m gonna hold you Like I’m saying goodbye.

Wherever we’re standing
I won’t take you for granted ’cause we’ll never know,
When we’ll run out of time

So I’m gonna love you like I’m gonna lose you.

***

Kopi, menurut gue adalah sebua minuman yang begitu nikmat. Mampu membangkitkan kenangan manis. Aromanya begitu memikat ketika aku melewati sebuah coffe shop. Aku membayangkan aku menyeruput minuman hangat tersebut sambil menikmati pahit manis dari kopi tersebut. Dan aku membayangkan kamu. Kamu ada di depanku dan menatapku dengan tatapan yang memikat melebihi wangi kopi tersebut.

Segera aku membuyarkan lamunanku. Aku berusaha untuk melupakan Andre secepat mungkin. Meskipun aku sadar memang akan susah. Dan tanpa sadar aku telah berdiri mematung di depan café tersebut dari awal dengan seseroang menatapku dari dalam.

“Aduh, malu deh gue” Pikirku lalu aku menjauh dari café kenangan aku dan Andre.

 

***

“Hari ini tepat satu tahun pertemuan kita.” Aku menatap Andre yang sedang menikmati mie instantnya yang sedang mengepul. Kami sedang berada di salah satu Warung Kopi di sepanjang jalan Puncak.

“Iya, gak berasa ya. Semoga kita bisa sampe seterusnya.” Andre tetap berkutat dengan mie instantnya. Entah terlalu enak menghangatkan diri di tengah rintik-rintik cuaca puncak atau mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.

“Come on, honey. Gak usah bertingkah seperti itu.” Kini giiran aku yang sibuk dengan mie instantku. Lalu suasana menjadi hening. Hanya ada suara rintik hujan dan klakson kendaraan dijalan. Kami terdiam, mencoba untuk mencerna kembali apa yang akan kami putuskan kedepannya. Mencoba berkhayal alam akan menyetujui hubungan kita.

“Coba aku ketemu kamu duluan. Sebelum kamu berubah jadi bandel. Sebelum kamu bertemu mantan kamu yang kurang ajar itu. Sebelum dia membuat kamu mengalami semua ini. Aku pasti akan jaga kamu, aku gak akan sia-siain kamu. Aku gak akan kasih kamu penyakit itu.” Andre membuka suara.

“Hahaha seandainya ya. Kamu sih kelamaan. Kemana saja kamu selama ini?” Aku memberikan senyumku. Lalu mengusap tangannya. Hanya kami berdua di warkop ini. Seakan alam menyetujui kami untuk berpisah dengan cara indah.

“Mungkin aku sibuk bandel dengan orang lain. Dan lagian aku kenal kamu pertama kali, kamu cuekin aku beberapa bulan. Aku kejar-kejar kamu gak ada respon” Andre menggengam tanganku. Tetapi dengan pandangan ke kegelapan lembah didepan.

“Kencan pertama kita, kita jalan-jalan ke Summarecon Serpong kan? Waktu itu kamu mau nunjukin kembang api disana. Dan akhirnya aku pulang-pulang masuk angina karena pulang jam 3. Hahaha”

“Iya, aku inget kamu pake baju putih dengan gambar bendera Amerika Serikat dan celana merah kesayangan kamu.”

“Iya, aku inget. Dan first kiss kita di dalam bioskop. Film apa ya waktu itu??”

“Masa iya? Aku lupa kapan kita first kiss. Hahaha” Kami sangat excited dengan nostalgia ini.

“Aku tau! Kalau gak salah kita nonton Chappie di Mall sunter deh kalau gak salah.” Aku menghadap Andre.

“Iya ya? AKu Cuma inget pas kita nonton di Slipi Jaya. Kamu ngomel-ngomel karena mallnya jelek. Bioskopnya jelek. Kamu gak mau kesana lagi.” Andre ketawa lalu menyentil hidung aku.

“Kerjaan kita kan keliling mal. Setiap minggu kan kita kelilingin mall. Dan mall terbanyak yang kita kunjungin Baywalk. Hahaha” Kami kembali tertawa. Lalu kami terdiam, saling menatap satu sama lain. Kami terlihat tertawa. Tetapi ada kesedihan begitu mendalam diibalik tawa kami.

“Gak terasa sudah setahun sama kamu. Banyak suka duka yang kita lewati. Gak nyangka bakal segitu berarti.” Andre menggengam tanganku kembali. Lembut dan hangat.

“Iya, Aku juga gak nyangka bisa segini jauh sama kamu. Jujur, diawal aku ketemu kamu. Aku gak pernah serius sama hubungan kita. Aku dekat banyak orang, aku jalan dengan banyak orang. Meskipun tidak melakukan apapun, tetapi aku menjadikan kamu hanya mainan.” Andre terdiam mendengar perkataanku. Dia terlihat kaget.

“Tapi untuk sekarang. Aku tidak perlu bilang berkali-kali kalau aku begitu bersyukur ada kamu di hidup aku. Aku bangga pernah menjadi pacar kamu. Kamu sesorang yang begitu berarti dan akan selalu menjadi berarti dihidup aku. Kamu yang membuat aku percaya, kalau di dunia gay ini gak Cuma sex, tetapi ada cinta. Setahun sama kamu, Cuma sekali aku lakukan hal itu sama kamu. Dan itu tidak pernah membuat kamu pergi cari orang lain.” Aku menggengam tangan andre semakin kuat

“Terima kasih. Sekali lagi terimakasih. Bahkan Tuhan tau aku begitu sayang sama kamu. Maka dari itu aku dibuat menjauh sama kamu. Mungkin Tuhan mau aku kembali kejalan yang benar, maka dari itu aku harus dilepaskan dari hal yang paling mengikat. Yaitu kamu” Tanpa terasa, pipiku sudah banjir dengan air mata. Dia mengalir begitu deras. Hingga rasanya begitu sesak di dada ini.

“Aku juga sangat bersyukur. Aku gak bisa merangkai kata-kata seperti kamu. Tapi kamu tau aku sangat beryukur dan aku sangat sangat sayang sama kamu.” Andre menarikku ke pelukannya. Kami seakan gak peduli dengan sekitar. Andre memeluk aku begitu hangat. Aku tidak mau dia melepaskan pelukannnya. Dan itu membuat aku semakin menangis.

“Seandainya Tuhan mengizinkan aku mau kembali ke masa itu. AKu mau datang ke hidup kamu lebih awal. Akan aku kejar kamu mati-matian. AKu gak peduli sebagaimana kamu tolak atau cuekin aku. AKu akan yakinkan kamu saat itu untuk jatuh cinta sama aku saat itu juga. Aku gak akan membiarkan kamu ketemu sama mantan kamu itu. Aku gak akan membiarkan kamu jadi anak bandel. Aku akan jaga kamu, aku akan bawa kamu menjauh dari semua ini.” AKu memeluk Andre semakin kuat

“Maaf kan aku sayang. AKu gak bisa lakukan itu semua. Maaf aku sudah telat” Kata-kata itu sukses membuat aku semakin berantakan. Kata-kata lembut yang sangat tulus itu begitu indah. Andre bukan orang yang romantis. Tapi dia tidak butuh sebuah sikap romantic yang dibuat-buat. SIkap polosnya yang begitu tulus sudah mampu membuat aku semakin sayang.

***

 

Awalnya tak pernah ku tenggelam di dalam sepi
Namun indahnya senyuman mu membuatku mengerti
Bahwa ku tak akan mampu tuk sendiri
Tanpamu, Tanpamu.

Genggaman tanganmu membuatku tak bisa pungkiri
Walau kau slalu di hatiku ingin kau disini
Tak mau bayangkan yang akan terjadi 
Tanpamu, Tanpamu.

Ku dambakan setiap detik setiap menit setap jam
Tuk bahagia kan hatimu
Ku rindukan matamu senyummu detak jantungmu
Don’t want to let you go

Sejak kau hadir dalam hatiku  
Kenali (cinta) kenali (cinta)
Setiap saat ku ingin kau datang 
temani (cinta) temani (cinta)
tak bisa ku dapat berpisah terlepas
dari peluk tanganmu 
Setiap kau pergi ku ingin kau tuk 
kembali (cinta) kembali (cinta).

Cinta – GAC

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s