cerita gay

Our Song

Sebuah musik ngebeat memasuki telingaku melalui earphone. Dengan irama yang cukup asik, aku mengikuti irama music dengan gerakan-gerakan kecil. Dengan senandung kecil aku mencoba menyalakan sebuah kompor listrik portable dan bersiap membuat air untuk kopi.

Pagi ini adalah hari pertama dimana aku dan beberapa teman kantor ku menginap di mess kantor kami untuk berdinas. Karena aku yang pertama bangun, aku mencoba melayani meraka semua. AKu mengisi air untuk mandi, menyediakan air panas untuk seduh kopi atau teh.

Keuntungan di utus keluar kota adalah jam kerja yang bebas dan tidak perlu pagi-pagi. Tapi setiap orang punya jam tubuh masing-masing. Dan jam tubuhku terbiasa untuk bangun pagi. Akhirnya aku melakukan semua ini sekaligus sedikit latihan dance mengikuti irama musik di telingaku.

“Ternyata selain bisa dance dan nyanyi. Lu calon istri yang baik ya Rick.” Sebuah suara mengagetkan aku yang sedang jingkrak-jingkrak mengikuti music

“Astaga!! Lu kagetin gue!” aku melihat kearah sumber suara. Gunawan sedang menikmati kopi susu yang aku sediakan buat aku. “Dan itu buat gue, bukan buat lu.”

Gunawan, dia salah satu temen kantorku. Kami disini berenam orang. Dua cowo dan empat cewe. Dan dari semuanya ternyata laki-laki lebih rajin untuk bangun pagi.

“Gue bingung lu gak ada di samping gue, ternyata udah siapin sarapan buat calon suami.” Dia menyengir dan kembali menyeruput kopiku. Melihat itu aku hanya pasrah dan kembali sibuk dengan music di telingaku. Melihat aku menyueki dia, dia menghampiriku dan mengambil earphone sebelah kiriku.

“Lagu apa sih? Ohh, Problem versi pentatonix ya?” DIa bertanaya, dia juga yang menjawab. Lalu dia kembali ke dalam kamar.

“Rese lu!” Aku berteriak lalu dia hanya tertawa dengan kembali membawa gitar.

“Mau ngapain sih lu?” Aku menyerah, aku mematikan musik dan duduk mengambil kopi yang sudah setengah di minum.

“Ih, kita ciuman secara gak langsung.” Mendengar itu aku muka ku lansung memerah. Tapi aku mencoba bersikap biasa saja.

“Gue bisa rapnya lagu problem tadi. Suara lu kan bagus, jadi mending lu yang jadi ariana gue jadi iggy.” Tanpa persetujuan aku, tangannya sudah memainkan gitar. Dengan beberapa kali berhenti untuk mencari suara yang pas untuk gitar yang sudah lama tidak di pakai itu.

“Suara gue gak bagus, Dan gue gak hafal liriknya.” Aku menatap dia yang sedang asik dengan gitar tersebut sambil bergumam merdu. Sexy, itu yang terlintas di pikiranku.

Gunawan mempunyai tampang yang menarik. Dengan darah Jawa Cina, dia mempunyai kulit putih tapi dengan mata yang lebar. Rahang wajah yang tegas dan sedikit janggut menghiasi wajahnya. Dengan badan yang tidak gendut, tetapi tidak kurus. Dia bisa menjadi seorang pujaan.

“Kenapa lu ngeliatin gue? Melting ya liat gue main gitar?” Dia mengetuk-getuk pelan gitarnya berusaha menyadarkan lamunanku.

“Bukan, gue bingung lu mau ngapain sih?” Sekali lagi, aku dibuatnya tersipu. Dan sekali lagi aku berusaha bersikap biasa saja.

“Gue mau duet sama lu, suara gue juga biasa ajah. Gak apalah sekalian kita nunggu cewek kebo pada bangun. Cari di google, biar enak nyanyinya” Sekali lagi dia berusaha membetulkan kunci gitar dan dengan terpakksa aku mengikuti kemauan dia.

Aku bukan seorang gay yang suka tebar pesona, yang di dekati cowok akan kepedean atau dag-dig-dug. Tapi siapa yang bisa menolak pesona laki-laki bertampang dengan suara bagus dan pintar main gitar? Pesonanya menembus jantung membuat aku sedikit canggung dekat-dekat dia. Aku berusaha bersikap sewajarnya.

“First song, Problem!” Gunawan memetik gitarnya memainkan chord lagu Problem dari Ariana Grande feat iggy.

Dengan suara pas-pasan dan inggris yang ngepas. Aku mengikuti lirik dan irama dari gitar. Kami mencoba menyatukan suara dan music. Dan menurutku, kami pasangan duet yang cocok. Dan entah kenapa aku merasa Gunawan terus memperhatikan aku, dan dia tersenyum-senyum. Karena asik dengan bernyanyi aku menjadi sedikit lupa dengan dag-dig-dug yang aku rasakan. Kami asik dengan kesibukan kami. Dan ternyata dia sangat jago ngerap.

“Hahahaha ternyata lu bisa ngerap” kataku di sela-sela dia ngerap. Dia hanya memberikan senyum ditengah-tengah rapnya.

Berbagai lagu kami nyanyikan. Dari lagu pop, lagu wajib, lagu anak-anak sampai lagu dangdut yanghanya dia yang tau. Kami begitu asik dengan dunia kami sendiri.

“Hmmm, gue lagi suka satu lagu ni. Gue mau nyanyi deh buat lu. Nanti lu ikutin ajah kalau mau ikut nyanyi.” Aku mengangguk dan mencoba memperhatikan gunawan.

Sebuah melodi lembut keluar dari gitarnya. Tanganya yang sedikit berotot itu terlihat begitu lembut memainkan gitar. Dia memejamkan matanya yang lebar itu dan berusaha menghayati lagu. AKu tersenyum. Lucu sekaligus tersipu.

Guess it's true, I'm not good at a one-night stand
But I still need love 'cause I'm just a man
These nights never seem to go to plan
I don't want you to leave, will you hold my hand?

Gunawan mulai bernyanyi sebuah lagu yang cukup aku kenal. Aku mengikuti tapi tidak bersuara. AKu tidak mau menggangu karena dia terlihat begitu menghayati.

Oh, won't you stay with me?
'Cause you're all I need
This ain't love, it's clear to see
But darling, stay with me

Gunawan membuka matanya, lalu mengarahkan tatapannya ke mataku. Dia seakan-akan bernyanyi untuk aku. Aku hanya memberikan senyuman seakan-akan aku sedang hanya menikmati lagunya. Tapi semakin lama aku merasakan dia semakin memberikan tatapan berarti.

Dadaku terasa sesak, dan aku ikut bernyanyi di bagian kedua untuk menenangkan pikiranku. Aku berusaha sibuk dengan gelas kopi dan berjalan jendela yang ada disamping kami. Seakan sedang melihat keadaan luar.

Why am I so emotional?
No, it's not a good look, gain some self-control
And deep down I know this never works
But you can lay with me so it doesn't hurt

Dia tersenyum ketika aku kembali menatapnya. Kini aku berdiri disamping jendela, dan dia duduk di dekat meja. Aku sengaja sedikit memberikan jarak, aku takut pesonanya dan tatapannya membuat aku semakin meleleh dihadapannya. Dan ketika mau kembali ke reff dia memberikan isyarat untuk aku tidak ikut bernyanyi. Dan aku semakin menggila ketika tiba-tiba dia berdiri menghampiri aku dengan tatapan itu, suara yang merdu dan pesonanya yang semakin kuat.

Kami berhadapan, dia tepat di depanku hanya terpisahkan gitar yang sudah tidak mengeluarkan suara. Seakan terhipnotis, aku menatap wajanya yang lebih tinggi. Dia terdiam, lalu membisiki sesuatu yang membuat aku semakin sesak napas

Oh, won't you stay with me?

Aku terdiam, merasakan hembusan napasnya ditelingaku. Begitu dekat, seakan dia menempelkan bibirnya di telingaku.

'Cause you're all I need

Kali ini dia menatapku. Begitu lembut, sangat lembut. Dan dia seakan memberikan isyarat sesuatu yang tidak aku mengerti. Dia menaikan alisnya. Seakan mengharapkan sebuah jawaban. Dia kembali membisiki kalimat pertamad di teliingaku lalu kembali menatapku. Barulah aku mengerti apa yang dia maksud.

Aku hanya mengangguk. Dan yang dia lakukan selanjutnya membuat aku semakin lemas. Dengan tangan kiri di gitar dan tangan kanannya mengusap pipiku dengan lembut.

This ain't love, it's clear to see

Dia kembali bernyanyi dengan lembut. Masih dengan tatapannya yang menatap mataku dengan lembut, tangan yang mengusap pipiku dengan begitu lembut tapi dengan pesonanya yang kuat.

But darling, stay with me

Dia menyelsaikan lagunya. Setelah itu kami sama-sama terdiam. Menatap satu sama lain. Hanya menatap. Seakan waktu berhenti buat kami. Tapi semua itu rusak ketika tiba-tiba kami mendengar sebuah pintu terbuka. Kami berdua langsung bergerak menjauh dan berusaha sibuk dengan kegiatan kami.

“Aduhh, enak ya pagi-pagi denger suara merdua dengan aroma kopi.” Grace keluar dengan piyama dan bonekanya.

“Dasar cewek kebo baru bangun.” Aku mengampiri Grace yang masih terlihat mengantuk “Mau kopi?”

“Mau dong Ricky.”Dia duduk lalu kembali memeluk bonekanya. Dan aku yakin dia tidak sempat melihat adegan kami. Aku melihat kearah Gunawan. Dia tersenyum, lalu menggerakan bibirnya. Tanpa suara.

“I love you”

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s