cerita gay

Menjadi Gay

Akhir-akhir ini sepertinya kaum LGBT lagi menjadi sebuah perbincangan publik. Sebuah hal yang sudah lama ada, sudah lama beredar, tetapi dulu membicarakan hal ini di depan publik adalah suatu hal yang tabu. Tapi sepertinya sudah tidak menjadi tabu. SEmua orang sudah mengenal, sudah mengerti, sudah mengalami atau melihatnya sendiri tetapi masih belum menerima.

Hari ini aku sedang berada di kantin kantorku menyantap soto ayam langganan ku. Atau mungkin langganan semua penghuni kantor ini. Karena soto ini memiliki kuah kental yang khas, dan rasanya itu sudah tidak diragukan lagi. Sangat membuat ketagihan.

Semua asik dengan makanan masing-masing dan sesekali menatap layar tv 21 inch yang menempel di dinding tengah ruangan. Topik yang sedang asik yang aku bicarakan diawal. Yap LGBT.

Sebuah infotaiment sedang memberitakan sebuah presenter tv yang gosipnya mengajak seorang artis pemula berhubungan intim. Sang artis pemula terlihat pasti dengan segala bukti yang ada di tangannya. Tetapi sebagai presenter tv kondang, dia tidak mau namanya tercoreng. Akhirnya dia kembali menuntut sang penuntut. Ya begitulah dunia pertelevisian. Tidak tau yang mana yang benar atau salah. Mereka cukup asik untuk menemani makan siang kami.

“Hahaha lagian, udah ada istri masih ajah cari lobang lain. Apa enaknya coba lobang laki? Atau dia yang di sodok ya?” Tiba-tiba temanku celetuk kalimat yang cukup menggelitik

“Saling sodok kali itu pa. Nah mungkin salah satu ada yang gak mau disodok padahal udah sodok, jadinya ngambek deh” Kami tertawa mendengar respon dari temanku yang lain

“Iya, tapi maksud aku emang lubang istrinya kurang apa? Kenapa harus cari lobang lain? Dan kalau lobang kita dimasukin kontol emang gak sakit?” Temanku yang pertama masih terlihat semangat mencari jawaban. Aku sebagai penikmat batang, aku hanya diam senyum-senyum mendengarnya.

“Aduh kalau gitu tidak tau deh pak, saya belum pernah coba disodok. Atau bapak mau saya sodok? Biar rasain gimana rasanya disodok?” Teman ku yang lain menimpali. Okay, aku tau dia gay. Dan jawabannya tidak bohong. DIa belum pernah disodok. Tapi dia sudah pernah menyodok. He is my boyfriend.

“Aduh pak Gunawan. Nanti saya ngangkang terus!” Tertawa membahana di area meja kami. Sekelompok laki-laki membicarakan pembicaraan seks adalah hal yang biasa. Aku hanya tertawa ringan dengan mata mencuri-curi menatap Gunawan

jangan macem-macem” Aku memberikan telepati melalui mata, dan dia seakan mengerti dia hanya tersenyum polos. Senyumnya itu yang membuat aku jatuh cinta. Sudah hampir 2 tahun kami bersama, seakan kami sudah bisa berbicara tanpa berbicara. Hubungan yang berawal dari sebuah lagu akhirnya berkembang. Hampir dua tahun berjalan, aku dengan bangga bisa mengatakan kalau kami belum pernah melakukan hal yang di luar batas. Just hug and kiss.

Pernah beberapa kali kami hampir terbawa suasana. Tetapi kami sama-sama memilki komitmen untuk tidak melakukan hal itu. Banyak teman kami mengatakan kami orang yang sangat kolot. Kalau tidak ada seks, hubungan di dunia gay itu Cuma hubungan dalam cerita di blog sampah. Bahkan di cerita blog banyak adegan seks. So? Being gay harus melakukan seks. Tapi kita berdua sama-sama sadar, Kita tidak perlu menjadi orang yang berdosa untuk mencintai seseorang. Menurut kami tidak ada yang salah dengan dua orang laki-laki saling sayang dan memberikan perhatian satu sama lain. Selama kami dalam batas yang wajar ini sudah sangat membahagiakan kami.

“Tapi gue sih geli sama orang gay gitu. Gue ngeri sama mereka. Kotor! Demennya sama lobang kotoran ya pasti hidup mereka kotor.” Aku dan Gunawan terlihat shock mendengar itu. Tetapi masih menahan diri kami.

“Hahaha iya ya? Belom lagi mereka pasti penuh penyakit. Mereka kan selalu nusuk sana – nusuk sini. Gak pake kondom jadinya bawa penyakit deh.” Semua orang terlihat bersemangat membahas kaum gay ini.

AKu sebagai orang yang sedang mereka bicarakan aku merasakan ini sebuah cobaan yang sangat berat. AKu harus tersenyum mendengar mereka menghina diriku tanpa tau mereka sedang menghina diriku. Mereka tidak tau aku gay. Karena aku belom siap untuk membuka jati diriku kepada orang-orang di sekitarku.

“Iya, mereka itu pikirannya cuma otot laki-laki sama kontol doang. Ngeliat yang berotot dikit sama komtol gede pasti langsung dibuat fantasi.” Saling menimpali satu sama lain. Kuping aku terlihat panas. Dan yang membuat aku jengkel Gunawan ikutan menambahi

“Iyalah pak, mereka kan butuh bahan fantasi juga untuk onani. Kalau bayangin dada cewe pasti yang ada layu” Mendengar ucapan Gunawan semua semakin menjadi-jadi tertawanya. AKu sudah tidak tahan mendengar itu semua, aku berlalu pura-pura ingin membayar soto yang aku makan.

Dari kejauhan aku masih melihat mereka masiih tertawa-tawa. Masih asik dengan topic yang mereka anggap tabu tapi lucu. Terlihat temanku memeragakan binaragawan yang memamerkan otot mereka. Dan yang lain berpura-pura menjadi tergila-gila akan ototnya. Lalu mereka kembali tertawa.

“Bodoh” pikirku dalam hati. Aku dongkol sedongkolnya sama mereka. Dan sangat dongkol dengan Gunawan. DIa menjadi orang yang sangat munafik. Dia bagian dari lelucon yang dia buat. Dia menghina teman-temannya sendiri. Bahkan aku sebagai seorang gay yang telah menjadi pacarnya.

Setelah membayar aku mencari alasan untuk memperlama agar aku tidak bareng dengan mereka ketika membicarakan hal tersebut. Aku mampir ke tukang gorengan, aku mampr ke tukang jus buah. Tetapi mereka masih saja melakukan pembicaraan konyol tersebut.

“Gak bosen apa ya mereka?” pikirku dalam hati. Aku kembali ketempat duduk dengan gorengan dan jus jambu ditanganku. Dan aku terkejut ketika Gunawan langsung memeluk ku dari belakang.

“Nah ini pacar aku” Semua tertawa menganggap itu hanya bercanda. Aku tidak suka dengan bercanda itu langsung menyikut dadanya yang tepat dibelakangku. Lalu aku memberikan kepalan ringan di wajahnya. Dia terlihat meringis tetapi aku hanya cuek melihatnya. Semua kembali tertawa tetapi Guanwan tau apa yang aku rasakan.

“Jadi ya gue pernah nge gym di puri indah mall. Jadi gue udah selesai gym ada orang yang liatin gue terus. Gue tau tuh dia kayaknya gay. Gue ikutin ajah dia pas dia keruang ganti, terus sengaja gue ganti baju depan dia. Tetapi sayangnya dia gak kejebak. DIa malah kabur. Takut tuh homo liat kontol gede gue. Gue pengen dia kena jebakan gue. Terus gue pake dia. Penasaran gue sama rasanya lobang mereka.Katanya siih enak. Nah pas udah kena, gue permaluin deh tuh homo depan umum biar dia kapok jangan jadi homo lagi ” Semua kembali tertawa. Aku sudah sangat muak dengan semua ini. Dan aku benar-benar sudah sangat tidak tahan

“Duh pak Anto” Aku memanggil temanku yang beberapa tahun lebih tua dari aku. Umurnya masih 28. Tubuhnya tidak tinggi tapi sedikit tambun. Dengan kulit sedikit hitam dan kusam. Meskipun badannya sedikit berotot. AKu sangat tidak tertarik dengan dia.

“Honestly dear straight men, why do you think all gay guys crave for you? Bitch, you’re single, ugly and dumb as fuck. Nobody wants you! Please jangan buat lelucon untuk sesuatu hal yang tidak kalian mengerti. Kalian pikir itu lucu? Kalian pikir mereka mau menjadi gay? Please be smart! Pikir kalau kalian jadi mereka, pikir ketika kalian berada di posisinya mereka” Aku benar-benar meledak! Mereka menatap tak berkedip kearahku. Tapi tiba-tiba meraka tertawa. Ughh!!!

“Jadi jangan-jangan lu gay ya rick? Jadinya lu mengerti mereka banget.” Temanku yang tadi kembali tertawa. Seketika aku menggebrak meja lalu bangkit berdiri.

“Iya! Gue gay! Puas lo?” Aku meninggalkan mereka yang kembali terdiam. Entah suaraku menggema seluruh ruangan atau tidak. Tetapi semua orang seperti menatap kearahku. Aku tidak peduli dengan mereka, aku sudah tidak peduli dengan Gunawan. Aku meninggalkan mereka.

“Jadi selama ini dia gay? Pantesan gue ngerasa di sering ngeliatin gue! Pasti dia sering jadiin gue fantasi dia” Dia kembali berkata dan sedikit menahan tawa. Dan tiba-tiba gunawan bangkit berdiri.

“Jangan kepedean deh lo! Lu denger apa kata Ricky? Lu itu jomblo jelek yang tolol setengah mati. Gak ada yang mau sama lo. Lagian Ricky pacar gue, dia gak bakal liatin lo yang jomblo jelek tolol macam lo” Gunawan berlari kearah Ricky pergi.

 

Entah apa yang akan orang lain katakan. Tetapi ketika kita menyayangi diri kita apa adanya. Menerima diri kita apa adanya. Maka orang lain akan menerima kita apa adanya.
Tidak semua, tetapi pasti ada.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s