cerita gay

Hati, Logika dan Memori

Sore ini bumi seakan menghipnotisku dan mencoba membangkitkan sisi melankolisku. Hujan rintik-rintik yang seakan menambah suasana mellow. Dengan novel percintaan di tangan, lagu lembut yang mengalun di pengeras suara café dan secangkir cokelat panas yang memperlengkapi suasana sore ini.

“Hai : )”

Layar smartphone ku menampilkan pop-up message dari seseorang. Seakan berhadapan langsung dengan dia. Aku bisa melihat senyumannya dengan jelas. Sama seperti pertama kali kami bertemu. Senyum yang lebar yang memperihatkan gigi depannya. Bukan sebuah senyum yang sengaja di lebarkan. Tapi memang seperti itu adanya. Aku suka

“Hai honey. Ada apa?”

“Emangnya aku madu.” Iya. Kamu manis.

“Hahaha” Salah satu cara ampuh menghindari jawaban yang kita tidak tau jawabannya. “Kamu sudah dirumah kah? Atau masih di kereta?”

“Belum nih. Baru sampai stasiun. Tadi hujan jadi stay di kantor dulu. Kamu lagi apa?”

“Aku lagi di starbucks. Lagi ngungsi saja. DIrumah gak ada orang”

“Aih kok aku gak di undang? Padahal kan lagi dingin.”

“Oh kalau mau mampir silahkan. Tapi kamu pegang kunci?”

“Oh kamu kekunci? Kasian. Jangan malem-malem loh. Cuaca lagi dingin. Makin malem makin dingin”

“Makannya di peluk dong akunya”

“Aduh mau banget. Hahaha”

“Hahaha. Kamu juga, Hati-hati ya..”

“Seep”

Lalu chat berakhir. Hawa dingin kembali datang. Dengan pelan aku menyeruput cokelat panas yang hamper dingin. Kembali dengan romansa yang sempat tergantikan oleh seseorang yang mennghadirkan romansa di hati. Membuat hayalku melambung tinggi. Seakan aku yang ada di dalam cerita

Hari semakin malam. Semua orang seperti bergegas untuk pulang. Dan itu menjadi pertanda kalau aku akan diusir kalau tidak beranjak dari sini. Dengan enggan aku memasukan novel kedalam tas punggungku dan berjalan ke parkiran motor.

On my way” Dan berbalaskan senyum yang terekam di pikirian ku. Dan sebuah emoticon pelukan

 

Menyukai adalah hal yang wajar. Semua orang bisa mengalami. Pada apa apapun, siapapun, dan karena apapun. Seperti aku menyukai senyumnya ketika merekah. Menyukai tatapan matanya ketika berbicara tentang hal yang dia suka. Berbinar-binar seperti anak kecil yang mendaatkan mainan baru.

Tapi jatuh cinta adalah hal yang luar biasa. Mencintai itu suatu hal yang tidak bisa dijelaskan. Bahkan oleh orang yang ahli sekalipun. Tanpa sesuatu yang jelas. Tanpa sesuatu yang pasti. Tapi dia telah menawan hati. Seperti seseorang dari masalalu yang begitu berarti. Dia kembali dan menawan hati.

Tapi beberapa orang begitu tertipu antara dua perasaan ini. Mereka menyukai seseorang, tetapi mereka bilang cinta. Dan ketika sudah menemukan sesuatu yang buruk. Mereka pergi. Padahal cinta tidak serendah itu. Cinta selalu punya alasan untuk selalu bersama. Apapun keadaannya. Akan selalu mencari jalan untuk terus bersama. Sekalipun ada hal yang mereka tidak suka dari pasangannya.

“Kamu bukan tipe orang yang baper kan? Aku takut kamu jadi baper akan hubungan kita. Aku mau kita pelan-pelan saja”

Aku membaca pelan-pelan chat dari dia. Aku bingung mau balas apa. Aku tau apa jawabannya. Tapi tidak pasti.

“Tenang saja. Gue bukan orang yang baperan kok. Tapi sedikit memperjelas saja. Gue orang yang malas untuk mecari. Dan kalau sudah ada yang deket satu. Ya gue akan mencoba ke orang itu. Aapun statusnya dan bagaimana akhirnya”

“Hmm.. okay. Kita jalani saja dulu.”

Okay

Hari berganti hari. Dia memenuhi pikirianku dengan beribu-ribu senyumannya yang begitu aku suka. Dan terus menatap aku dengan tatapan yang begitu meluluhkan aku. Dia bercerita banyak hal. Banyak hal yang telah membuka beberapa pikiranku. Banyak hal yang menambah isi otak yang kosong. Dia mengisi hariku. Seakan mencoba memperbaiki hati yang telah dijajah oleh pendahulunya. Hati ini seakan kembali percaya setelah sekian lama. Dan terlihat mencoa menyembuhkan dirinya.

“Kamuu”

Dia seperti candu. Yang membuat hati ini sedikit. Ah mungkin banyak bergantung akan dia. Hati ini butuh obat yang telah menyembuhkan dia. Tapi candu itu seakan out of stock dan sedang masa pre-order. Tidak ada balasan dalam hari itu. Hati ini sedikit sakau akan candu tersebut. Kangen.

“Pagi kamu”

Hati ini mencoba mendapatkan sedikit apa yang terlewat kemarin. Dan tak berapa lama hati ini seakan mendapatkan apa yang kemarin hilang. Tetapi hambar.

“Pagi. Maaf kemarin sibuk. Jadi tidak bisa pegang handphone. Jadi gak bisa bales kamu”

Hati ini menerima apa yang dia katakan. Tetapi logika berkata lain. Logika menangkap sesuatu yang tersembunyi. Dan ingatan mengalami de javu.

Hati seakan megerti kondisi yang sedang dia alami. Tetapi logika berfikir zaman sekarang tidak ada orang yang bisa lepas dari handphone lebih dari satu hari? Tanpa membalas pesan yang ada di layarnya. Apalagi untuk seseorang yang sedang dekat. Kecuali orang itu tidak berarti. Dan dulu dia membalasnya meskipun sedang sibuk. Kenapa sekarang berbeda?

Dan sebuah tragedi kembali teringat. Membuat hati ini lemah dan membuat logika menang. Suatu peristiwa yang begitu terekam dan begitu menyakitkan tetapi indah. Sebuah luka lama yang kembali sakit.

“Kamu kenapa? Kok jadi berubah? Ada sesuatu yang mau dikatakan?”

“Tidak ada apa-apa. Cuma lagi sibuk ajah. Jadi gak bisa pegang handphone.” Alasan yang sama kembali terucap.. Dan membuat logika kembali berontak. Membuka semua memori. Mengobrak-abrik kondisi hati. Dan membuat hati mejadi semakin lemah.

Bagai film yang sedang diputarkan. Bagai sedang membaca sebuah kisah. Aku terperangkap dalam memori. Dikhianati tanpa tau dikhianati. Ditinggal tanpa tau ditinggal. Dan kembali sendiri tanpa tau telah sendiri.

Seseorang yang dulu berarti. Yang begitu mendekap di hatinya. Tanpa dia tau, seseorang itu telah pergi dengan yang lain karena kekurangan dia yang telah menyiksa orang itu. Meninggalkan tanpa berkata apa-apa. Hingga ketika dia hancur orang tersebut baru berkata kalau dia telah pergi.

“Maaf. Mungkin gue yang terlalu parno. Masih belum bisa move on. Dan belum siap buat hal manis seperti ini. Maaf jadi labil dan baper seperti ini”

Dan itu menjadi chat terakhir. Tanpa balas. Tanpa penjelasan. Hati kembali kalah. Hati kembali hancur. Tanpa dia tau yang sebenarnya. Tanpa dia tau isi hati orang itu. Dan membiarkan logika kembali menang. Kalau dia memang tidak pantas untuk siapapun. Tanpa dia tau apakah logikanya benar atau salah. Dan semua kembali terkubur dalam memori. Dan berharap tidak akan kembali terbuka. (FR)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s