cerita gay

Penerimaan

Jam tanganku sudah menunjukan pukul 07.00. Itu pertanda aku harus segera berangkat sebelum jalanan Jakarta menjadi menggila. Ketika aku keluar rumah, beberapa ibu-ibu yang sedang mengumpul melihat ke arahku. AKu hanya memberikan senyuman dan berlalu begitu saja.

Pagi ini sepertinya menjadi pagi keberuntunganku. Kondisi penumpang di dalam busway seperti berkurang setengah. Entah kemana mereka, aku tidak peduli yang penting aku bisa duduk dan tidak berdesak-desakan. Mencoba menikmati pagi yang langka ini aku mengeluarkan earphone lalu memainkan musik dari handphoneku.

Mengisi waktu di angkutan umum dengan bermain handphone mungkin sudah menjadi kewajaran yang sangat wajar. Atau mungkin handphone tersebut digunakan untuk tameng agar pura-pura tidak lihat ada ibu-ibu tua sedang berdiri. Salah? Yasudahlah sudah wajar.

Aku membuka salah satu website berita. Karena sebagai orang yang menghabiskan waktu dijalan, aku tidak pernah sempat menonton televise untuk melihat perkembangan terkini. Jadi membaca adalah satu-satunya cara agar aku tidak terasingkan dari dunia luar.

Kaum LGBT menyerang Indonesia. Salah satu judul berita tersebut menarik perhatianku. Yang ada di pikiranku. LGBT ada sebuah komplotan ISIS yang berhasil melakukan toror bom. Tetapi sepertinya aku salah.

“Astaga, gue kira mah teroris. Ternyata komunitas homoseksual. Ckckck” AKu berbisik sendiri. Aku tertawa sedikit seakan kaum seperti itu sangat berbahaya. Penulisan judul yang aneh.

***

“Pagi” Aku menyapa teman-teman kantorku. Dan hanya berbalas anggukan dan gumaman tidak jelas. Ya setidaknya mereka membalas.

“Pagi Randy!” Aku di tepuk dari belakang. Dan dari cara bicaranya aku sudah tau dia Ricky. Teman sampingku.

“Girang amat yang baru balik dari luar kota. Ada apa sih?” Aku melihat Ricky sebentar lalu berlalu ke komputerku. Mengecek email dan beberapa perkerjaan kecil.

“BIasa ajah sih. Cuma berasa fresh ajah. Hahaha Btw gue bawa brownies, keripik dan bolu. Kalau lu mau ambil di laci gue” Aku hanya membalas dengan jempol yang teracung dan senyuman kegirangan. Ketika sudah membca semua email aku langsung menyerbu brownies di laci Ricky.

Ricky, dia laki-laki yang berbeda. Kita semua tau dia laki-laki yang sangat lembut dan sedikit feminim. Meskipun begitu dia sangat terlihat laki. Hanya saja cara bicaranya terlalu bawel untuk laki-laki biasa. Awal aku bertemu dia, aku sangat risih dengan semua pembicaraannya. Semua hal bisa menjadi topic pembicaraan dia. Tetapi semakin lama aku semakin kenal. Dia lembut tetapi sangat tangguh. Feminim tetapi tegas. Bukan seperti sissy seperti biasa yang lembut manja menggelikan dan feminim bawel bikin rese. Kami semua sering meledek dia kalau dia itu gay, tetapi dia terlihat biasa saja. Entah dia gay atau bukan. Kami semua memang suka dengan keberadaannya.

“Ki makan siang dimana?” AKu berdiri disamping Ricky yang sedang asik dengan handphonenya. Dengan wajah yang polos. Wajah laki-laki dengan ekspresi lembutnya wanita dia menatapku. Aku cowok normal, tetapi ketika kau melihat dia. Rasanya gemes ingin aku mainkan wajahnya yang sedikit tembem itu.

“Gak tau, mungkin soto Pa Mamat. Kangen.” Dia langsung menaruh handphonenya. AKu bersiap untuk menerima pelukan manjanya dia. Dulu aku sangat risih di peluk cowok atau laki-laki kemayu.Tetapi Ricky tipe orang yang sangat suka pelukan dengan siapapun yang ada didekatnya. Jadi semua orang dikantor termasuk bos kami. Sudah pernah dipeluk oleh dia. Tetapi kali ini dia tidak memeluk, dia hanya menatap lalu tersenyum lebar.

“Duh jangan kasih tampang lu begitu. Pengen gue mainin tau gak. Ckckck” AKu menampar wajahnya. DIa tidak terima langusng mendorong tubuhku menjauh. Ini yang aku suka dari Ricky. Biasanya orang kemayu akan sangat susah bergaul dengan laki-laki. Seakan mereka wanita malu-malu berdekatan dengan laki-laki. Tetapi Ricky sangat nyambung dengan wanita ataupun pria. Itu yang menjadikan dia favorit kita semua.

Tetapi sepertinya itu semua akan berubah sejak siang ini. Saat semua sedang makan siang. Ada insiden yang sangat membuat kondisi menjadi akward. Ricky marah besar karena beberapa orang mengolok-olok kaum LGBT. Aku tidak mengerti dengan kaum itu aku hanya bisa tertawa. Ricky melabrak salah satu temanku, dan tiba-tiba dia mengaku kalau dia seorang gay. Dan mengejutkannya lagi. Gunawan, manager di divisi aku adalah pacarnya.

“Jadi si Ricky itu Gay? Gak kaget sih gue. Toh dia kan emang dari dulu sedikit kemayu. Jadi ya gak heran. Yang gue kaget itu si Gunawan. Tampangnya laki banget tetapi ternyata homo! Pasti ditularin sama Ricky.” Salah seorang temanku terlihat begitu bersemangat. Entah mengompori atau benar. AKu menjadi berfikir. Apakah gay itu nular?

“Iya, kan kemarin dia pergi keluar kota sama Ricky. Pasti sudah berbuat macam-macam. Randy, hati-hati lu di sebelah dia. Nanti lu ketularan homo” Salah sorang lagi menambahkan. Semua orang jadi asik menambahkan berita. Entah itu benar atau salah. Meraka asik menambahkan bumbu drama siang ini.

Beberapa orang di kantin terlihat bisik-bisik. Yang wanita menghampiri kami.

“Lu semua keterlaluan deh. Jangan begitulah. Bagaimanapun Ricky tetep temen kita. Begitu juga dengan Gunawan. Plase jangan dijadiin bahan bercandaan.” Nancy menatap kami semua yang terdiam. “Pokoknya kalian harus minta maaf. Dan setelah itu tolong berprilaku biasa ajah sama Ricky” Nancy pergi bersama geng cewek.

Jam makan siang sudah berakhir. Kami harus balik ketempat kami masing-masing. Selama perjalanan pikiranku menjadi tidak tenang. Aku harus berhadapan dengan Ricky. Gue harus gimana? Harus ngomong apa sama dia? Kalau dia peluk gue gimana? Kalau gue lama-lama jadi ketularan gay gimana? Semua itu berkecamuk di dalam pikiranku. Sampai aku lihat Ricky sedang duduk di tempatnya dan Guanwan disampingnya. Guanawn menduduki kursi aku. Nancy dan gengnya juga sedang di sekitar Ricky.

Ricky terlihat biasa saja Dia seakan tidak peduli dengan kejadian tadi. Tetapi diia hanya terduduk lesu dan memberikan ekspresi ketika dia sedang menyembunyikan perasaannya. Kenapa gue segitu kenal dia? Jangan-jangan gue suka sama dia? Gue udah ketularan gay? Sekelebat pikiran itu kembalii. Aku mencoba menepas itu semua.

“Berlaku biasa ajah, dari awal lu udah menduga. Jadi biasa ajah, terima dia seperti biasa.” Bisikku senidri. AKu menghampiri mereka, Gunawan melihat aku lebih dulu langsung memberikan kursinya kepadaku.

“Gak apa-apa kalau lu mau duduk. Sorry ya buat semua tadi di kantin. Emang kelewatan mereka” Aku mencoba menjadi seperti biasa.

“Lupain ajah Ran. Anggap ajah seperti biasa.” Dia memegang tanganku. Seketika aku merasakan kaku. Untuk menutupi itu aku berjalan menjauh. “biasa ajah” kataku dalam hati

Untuk beberapa menit pertama biasa ajah. Tetapi semakin lama, semakin aneh. Suasana akward semakin nyata diantara aku dan Ricky. Biasanya aku dan Ricky mencari perbincangan agar tidak mengantuk. Tatapi kali ini kami hanya diam dan hanya berbiacara basa-basi lalu kembali diam.

“Sorry kalau udah buat lu gak nyaman. Gue akan bilang sama Gunawan supaya pindah sebelah Nancy, supaya lu nyaman.” TIba-tiba Ricky bersuara

“Ah kenapa? Jangan lah. Gue biasa ajah kok. Gue tetep anggap lu Ricky yang biasa. Ricky temen sebangku gue. Gak perlu pindah. Gue temen lu, bagaimanapu dan diapapun lo” Aku rasa kata-kata itu cukup membuat Ricky tenang. Diia tersenyum lalu bberterima kasih. Ada air mata di ujung matanya.

Tetapi aku tidak bisa bohong. Sekalipun aku mencoba biasa saja, tetap ada rasa akward diantara aku dan Ricky. Mungkin diantara semua cowok di divisi aku. Berita itu sudah menyebar. Kami semua menerima, tetapi sedikit aneh ketika kami tau yang sebenarnya. Lucu, dulu kami sering bercanda menjadikan Ricky gay dan aku sering dijadikan pasangannya. Karena memang aku dan dia dekat. Tapi semua itu hanya bercanda, kami semua menganggap itu semua lelucon.

Kami semua pernah berkata “iya Ricky sekalaunya lu gay juga gak apa. Kita tetap terima lu apa adanya kok. Dan kalau emang lu sama Randy pacaran kita juga seneng” Kami semua tertawa karena sekali lagi kami hanya menganggap itu semua lelucon. Tidak ada keseriusan. Tapi sekarang? Kami semua menjadi betingkah aneh dengan dia.

Beberapa hari aku berhasil bersikap biasa saja. Tetapi sangat susah untuk selalu menepis pikiraku. AKu menjadi sangat cuek terhadap Ricky. AKu menjadi takut kalau aku menjadi gay kalau aku dekat dengan dia. AKhirnya setelah seminggu dari kejadian. Ricky pindah tempat di sebelah Nancy. Karena tidak enak dengan keadaanku katanya.

“Baguslah” dalam hatiku. Tetapi di luar aku mencoba bersikap bersedih. Toh aku rasa yang berlaku seperti ini bukan hanya aku. AKu tau, bahkan Nancy pun berlaku seperti aku. Karena terkadang pura-pura jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah.

***

Karena kita tidak akan pernah tau apa yang ada didalam hati dan pikiran seseorang. Mereka manusia yang akan bersikap menjadi serigala dengan berbulu domba.
Menerima bukan berarti menerima. Menerima mungkin saja berarti jalan aman bagi mereka.

 

 

Advertisements

One thought on “Penerimaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s