cerita gay

Image seorang gay

Kopi pahit mengaliir memasuki tubuhku. Memberikan suntikan kafein yang membuatku tersadar. Dengan layar laptop yang menyala di depanku. Entah aku akan menulis apa kali ini. Aku hanya mengetik beberapa hal random lalu menghapusnya kembali. Hanya untuk mencari ide, tetapi semua ide itu terasa buntu. Aku pikir dengan suasana kafe dan aroma kopi akan membuat ideku megalir dengan lancar. Memberikan suasana baru dan mampu merangsang ide yang seakan bersembunyi. Tetapi sama saja, semua ide buntu di pertengahan.

Aku menutup lapotopku dan mengalihkan pandanganku keluar kafe melihat orang yang lalu lalang di depan kafe. Ada satu orang yang mendapat perhatianku. Sebagai seorang gay, tentu saja itu seorang lelaki muda dengan perawakan sipit dan tegap. Terlihat bahwa dia seseorang yang sering berolahraga. Terlihat dari beberapa otot yang menyembul.

“Mungkin ini penyemangat untuk menulis yang gue butuhkan” kataku sendiri dan membutku senyum sendiri.

Entah seperti sadar aku mentap dia, dia balik menatapku. Melihat aku tersenyum dia meraa aku sedang melakukan flirting kepadanya. Dia hanya menatap lalu memberikan tatapan aneh. Lalu di amenjauh dari kafe.

“Okay akward.” Aku kembali tertawa. Lucu melihat bagaimana ekspresinya melihatku. Mungkin dia seorang homophobic yang merasa risih diliatin seorang laki-laki. Atau dia seorang gay kelas atas yang tidak suka di liatin oleh gay kalangan bawah menurut dia.

Karena ide tidak kunjung datang, aku memutuskan untuk segera pergi dari sini. Aku merasakan perutku membutuhhkan sebuah asupan. Mungkin otak akan kembali segar bila aku segera mengisi perut ini. Aku berjalan keluar kafe dan segera menuju sebuah food court.

Entah kenapa aku merasa ada yang memperhatikan aku. Tapi aku tidak peduli, aku hanya peduli dengan perutku yang sudah melonjak kelaparan. Dengan pasti aku menuju ke sebuah restaurant ramen yang lumayan terkenal di Jakarta. Dan selalu ada di setiap mall.

Aku membawa pesananku ke sebuah meja dipojok restaurant . Aku mengisi perutku dengan sibuk memainkan smartphoneku. Tidak ada yang asik dari social media aku menutup smartphoneku lalu mulai melakukan kebiasaanku. Mengamati orang yang lalu lalang. Memperhatikan tingkah laku orang lain. Mungkin terdengar sedikit aneh, tapi memang sudah menjadi kebiasaan. Aku suka mengamati bagaimana orang berbicara, bagaimana orang berjalan, tingkah mereka. Dan menurutku itu sangat membantu aku ketika aku menulis cerita. Aku bisa mengkombinasikan karakter orang yang sesungguhnya dan karakter di imajinasiku. Dan terkadang dari pengamatanku aku bisa melihat dimana orang yang seperti aku. Yap gay.

Ketika aku asik memandang sekitar. Tiba-tiba seseorang datang dan duduk di depanku. Orang itu laki-laki yang tadi aku tatap saat aku di kafe.

“Sorry, siapa ya?”Kataku. Stay cool, Jaga image.

“Hmm.. seharusnya gue yang Tanya. Lu siapa ya? Dari tadi seakan ngikutin gue. Ada perlu apa?” Mendengar itu aku langsung kaget.

“What? Sorry nih, MAksudnya apa ya? Gue ngikutin lu?” Aku menjadi bingung setengah mati. AKu menaruh sumpit ditanganku.

“Iya, sejak dari starbucks. Gue tau u liatin gue dan mencoba flirting sama gue. Dan u ngikutin gue sampai kesini. Please gak usah jadi orang freak.”

“Oh may gosh! Gue…” Aku mencoba menyanggah perkataan dia. Tetapi dia memotong lebih dulu

“Lu bukan tipe gue ngerti lu? Gak usah jadi gay murahan yang ngejar orang yang diatas lu. Sadar diri kalau u gak menarik untuk orang seperti gue.” Sebuah mercon sudah di lemparkan kedalam otakku. Seketika itu juga aku merasakan ledakan luar biasa dahsyatnya.

“Heh!” Aku berdiri dari tempat duduk. Dia terlihat sangat kaget.

“Lu gak usah kepedean. Ini mall tempat umum! Gue bebas mau kemana saja gue mau. Dan perihal di starbucks. Gue gak mencoba flirting sama lu.. Seharusnya u yang sadar diri! Jangan mentang-mentang u goodlooking lo jadi pede luar biasa.Gue bukan selera lu? Heh ngaca! Sekalipun u ganteng bukan bberarti lo tipe gue. Lo sama gue sama-sama gay. Gak usah sok jual mahal. Ups sorry, mungkin kebiasaan ditawar mahal sama om ya?” Aku mengambil tas laptopku dan meninggalkannya.

“Freak” Aku sengaja menumpahkan minuman dimeja. Dan sesuai harapanku, minuman itu tumpah menuju celananya.

SEmua orang menatap kami berdua tetapi aku tidak peduli. Aku segera keluar dari restaurant itu. Tinggal orang freak itu sendiri kelabakan basah dengan ocha yang ak tumpahkan.

AKu merasakan marah luar biasa dan merasa takjub dengan orang itu. Ada orang yang over pede seperti itu. Dan orang yang nekat untuk berbicara seperti itu. Sebagai gay gue tau kaalu di diunia ini ada 2 bagian. Kalangan atas dan kalangan bawah. Kalangan atas biasanya di tempati oleh seseorang yang mempunyai tampang dan body kelas A. Dibawah itu akan masuk untuk kalangan bawah.

Aku meracau sendiri. Orang yang melihatku akan beranggapan aku sedang baca mantra. Tiba-tiba aku merasakan tanganku di tarik oleh seseorang. AKu berbalik dan aku melihat orang freak itu. Aku memang memiliki badan yang kurus. Tetapi aku sempat belajar bela diri di klub gym ku. Seketika aku memberikan pukulan di wajahnya yang tampan itu.

“stay away from me, freak” Aku menarik tanganku.

“lu bilang gue kaum rendahan? Menurut gue lu yang kaum rendah! Otak lo Cuma sepanjang 1cm sama kayak kontol lu. Sombong boleh, tapi gak usah menghina orang lain. Lu butuh operasi pelastik buat otak lu” AKu meninggalkannya kembali dan dia hanya terdiam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s