cerita gay

Sama

“Kenapa dunia gay selalu gak bisa lepas dari sex?” Aku melempar beberapa snack ke teman ku yang sedang menonton tv. Mereka terlihat antusias dengan snack yang aku lemparkan. Seperti kawanan babi mereka berebutan snack yang aku berikan. Malam minggu ini kami habiskan dengankumpul bersama. AKu, Echa,Dalla, Mona dan Hanna. Kita semua belok a.k.a kaum LGBT. Mona dan Lisa mereka pasangan. Sedangkan untuk yang gay kami jomblo sejati.

“Maksud lu Den?” Echa memberikan tempat duduk di sebelahnya. He is my gay bro.

“Iya, kenapa kalau ketemu harus berakhir dengan sex? Dan kenapa kalau pacaran harus ada sex? Kenapa gak ada hubungan yang normal?” Aku mengambil coklat di tangan Echa. Mereka yang lagi nonton tv langsung menatapku.

“U are gay. Jadi jangan harap jadi normal.” Mona menimpali dan membuat semua menjadi tertawa.

“Gue juga udah tau bitch! Maksud gue ya kenapa harus melibatkan sex? Kenapa gak menjadi hubungan yang seperti biasa pacaran? Jalan berdua, ngobrol berdua, yang romantic berdua atau ya just kissing dan hugging ajah gitu. Kenapa katanya kalau gak sex berarti gak cinta? Jadi itu cinta atau nafsu?” Mereka kembali menatapku. Tidak menjawab.

“Jadi hari ini baru patah hati dari siapa? Siapa yang abis pake lu terus ninggalin lu? Biar dia berurusan sama kita.” TIba-tiba Dalla berdiri dan kali ini aku yang tertawa.

“Calm down dude. Gue Cuma sekedar bertanya. Gak ada kejadian seperti yang kalian bayangkan.”

“Jadi kenapa lu nanya kayak gitu?” Hanna merangkul mmanja ke Mona.

“Gak apa-apa. Cuma sekedar bertanya. Kenapa selalu berujung dengan sex? Dan kenapa factor fisik sangat mentukan untuk status lajang?”

“hemm.. gimana ya jawabnya.” Mona adalah yang paling bijak diantara kami berlima. Dia selalu menjadi kakak tertua kami. Karena memnag umurnya lebih tua. Dan mungkin karena dia seorang penyiar. Jadi membuat dia memiliki pikiran yang terbuka dan memiliki banyak pengetahuan.

“Sebenernya bukan cuma kaum seperti kita ajah yang berujung dan sex. Di kaum straight pun akan berujung dengan sex. Mereka akan nikah lalu akan membuat anak kan?” Kami mendengarkan dengan baik penjelasan dia.

“Jadi menurut gue ya itu udah naluri kebutuhan manusia. Mereka butuh sex, mereka butuh untuk menyalurkan hasrat mereka. Dan ketika melakukan dengan pasangan kita, ya ada kepuasan tersendiri. Lebih dari kata puas. Lu di puaskan dan u memuaskan.” Dia tersenyum.

“Tetapi kenapa harus kesana ujungnya? Kan kalau free sex itu dosa.” AKu menimpali kembali

“Dude, dengan menjadi gay ajah lu udah berdosa. Kenapa lu harus takut berdosa?” Echa menimpali kali ini

“I know. Tapi sekalipun gue gay. Gue pacaran dengan cowok. Tapi tidak melakukan sex. Itu gak akan dosa. Karena gue murni karena sayang. Salah kah kalau gue sayang sama orang?”

“Sayang itu gak dosa Denny. Tapi apa lu bisa lihat pasangan lu selamanya gak mengeluarkan nafsunya? Laki-laki kalau udah kenal namanya sex ya sekali gak kena akan sakau. DIa akan nagih. Itu udah sifat alami manusia” Hanna mendekatiku. Dan merangkul lenganku. Hanna sejenis koala, dia suka sekali bergelayutan dengan lengan manusia.

“Betul kata Hanna. Gue sama Hanna emang gak sering melakukan itu. Tapi suatu saat ketika kami sama-sama mau. Kami akan melakukan itu. Karena itu seperti kebutuhan kami.” Mona menimpali.

“Iya sih.” Aku seperti kalah di dalam musyawatah ini.

“So? Sebenernya apa yang mengganggu pikiran lu?” Hanna memainkan pipiku. Dia orang yang paling mengerti kami. DgIa seperti bisa baca pikiran kami.

“Tadi pas gue ke starbucks GI. Gue berantem sama orang. Cuma karena salah paham. Jadi gue emang lagi liatin dia. Tapi gue gak bermaksud flirting sama dia. Eh dia malah ngelabrak gue. Bilang macem-macem gitu Emang sih tampangnya oke. Tapi suer dah otaknya tolol banget” Aku menjadi emosi mengingat hal itu.

“Lalu lu apain dia?” Dalla seakan ikut terpancing emosi. DIa bodyguard kami.

“Gue tonjok mukanya.” Mendengar jawaban ku Dalla terlihat puas.

“Hahaha seriusan? Lu tonjok di depan umum? Malu banget jir pasti itu orang.” Echa tertawa terjungkal-jungkal. Aku hanya bisa tersenyum.

“Yaudah lupain ajah Den.”Mona kembali asik dengan film yang sempat diabaikan.

“ya tapi aneh ajah itu orang. Fisik bagus tapi otak busuk. Itu yang membuat kaum LGBT jelek di mata masyarakat. Selalu cari yang goodlooking lalu diajak free sex. Akhirnya penyakitan dan menjelekan kaum LGBT.” Aku kembali panas.

“Gini ya Den. Seperti yang gue bilang tadi. SEmua itu juga berlaku di kaum straight. Mereka akan cari yang terbaik dari yang terbaik. CAri yang ganteng, cantik, kaya, keren dan yang baik lainnya. Dan akan selalu kembali ke sex. Gak akan pernah bisa dihapuskan itu” mona kembali mengabikan film

“Berarti yang jelek akan selalu jomblo? Kapan jodohnya akan datang?”

“Seperti yang lu bilang. Buat apa cakep tapi otak kosong? Ya kalau u jelek. Perbaiki diri lu dari dalam. Dan kalau lu pinter, lu akan bisa membuat diri lu menjadi menarik. Orang ganteng diluar sana banyak, tetapi orang yang menarik hati itu sedikit. Dan ketika seseorang udah tertarik dengan personality lu. Dia gak peduli dengan tampilan lu. Perbaikin diri lu menjadi manusia yang berotak. Itu yang lu bilangin ke kita semua kan?” Echa menepuk pundakku.

“Gue sayang sama lu Den. Bukan karena fisik lu. Tapi karena apa adanya lu. Itu yang membuat gue tertarik. Dan orang diluar sana bisa bilang lu jelek, kurus, aneh dan lain-lain. Tapi dimata gue lu tetep orang yang luar biasa. Gue akan bahagia kalau bisa jadi pacar lu” Echa membuat suasana menjadi awkward. Seketika menjadi hening. Aku bisa melihat wajah Mona yang menjadi memerah menahan tawa. Dan Jari-jari Hana yang membentuk finger cross seakan mengharapkan sesuatu. Dan Dalla yang seperti siap bersorak.

“hmmm gitu ya. Makasih loh buat masukan kalian semua. Emang mungkin orang itu ajah yang bego kali ya” Mendengar jawabanku semua orang langusng menghela nafas. Semua terlihat kecewa. Hana melepaskan rangkulannya kepadaku dan memberikan tampang jutek. Dia menghampiri Mona dan mereka berdua membelakangi ku. Dan asik dengan film di tv

Echa langsung berjalan kearah dapur diikuti Dalla yang menahan tawa dan merangkul pundaknya.

“Guys, kenapa kalian jadi ninggalin gue gini?” Aku dipojokan sofa dengan tidak ada satupun snack yang disisahkan Mona dan Hanna

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s