Aku Kamu dan Dia

Aku Kamu dan Dia – Prolog

Riza

Aku Riza. Biasa dipanggil Iza. Gue anak terakhir dari 5 bersaudara. Umur 21 tahun dengan tampang sedikit cina tetapii dengan kulit hitam dan mata belo. Sibuk dengan kesibukan yang biasa saja. Pagi kerja malam tidur. Kecuali hari minggu, gue akan tidur satu hari penuh. Bangun hanya untuk makan dan buang muatan. Dan yap, gue gay.

Jangan lupa sarapan kalau sudah sampai dikantor.

Sebuah pesan instant muncul di layar smartphonku. Disana tertulis Andre. Aku mengabaikannya lalu kembali sibuk dengan sarapan di hadapanku. Andre adalah lelaki yang saat ini sedang menjalin hubungan denganku. Kami sudah hampir 2 Tahun menjalin hubungan. Dan pesan setiap pagi selalu hal yang aku baca itu.

Heh kecoak idup. Nanti jadi temenin gue kan?

Sebuah pesan masuk lagi. Kali ini dari Echa. He’s my gay bro. Sudah lama kami berteman dan sudah terlalu mengenal satu sama lain. Dari 4 orang dari geng belok. Dia orang yang paling mengerti dan memahami. Dan itu juga karena dia memiliki rasa kepadaku.

Dengan enggan aku membalasnya

Iya bitch. Kan gue udah bilang. Selama traktiran jalan semua akan lancar terkendali.

Dia membalas

Itu mah gampang. Jangan lupa bilang sama pacarlu. Nanti dia nyariin. Buahahaha

Melihat kata-kata pacar aku langsung teringat kalau pesan Andre belum aku balas. Aku mengabaikan pesan Echa. Aku langsung memilih nama Andre di chat.

Aku sudah dikantor. Nanti sore aku mau pergi ya sama Echa. Dia mau minta temenin dia dinner sama koleganya. Rame kok.

Tanda sudah menunjukan read. Tetapi dia belum membalas. Aku yakin saat ini dia sedang bête tingkat tinggi. Karena dia tau Echa memiliki rasa.

Emang yang lain gak mau nemenin dia?

 

Nggak kali.

 

Lalu kenapa harus kamu? Dia pasti alesan ajah nyari cara biar berdua deket-deket sama kamu

 

Honey, apa selama 2 tahun ini gak cukup untuk memperjelas ini semua? Dia sahabat aku dari dulu. Jadi please gak usah cemburu terus.

 

Hmmmm yasudahlah. Kabarin saja nanti. Jangan ilang kabar. Okay?

 

Iya sayang. Kamu semangat kerjanya. God bless.

Percakapan berakhir. Aku kembali dengan sarapan ku lalu bersiap untuk memulai pekerjaanku. Aku berkerja di sebuah perusahaan swasta yang cukup memiliki nama. Dan kebanyakan orang di divisi aku berisikan anak muda. Jadi membuat suasana kantor sedikit ramai. Mungkinn cukup ramai.

“Za, u nanti pergi kunjungan ke luar gak?” Aku menatap seorang wanita yang duduk di sebelah ku. Namanya Bulan. Kami cukup dekat, tetapi dia lebih tua dari aku sekitar 6 tahun.

“Iya mba. Kenapa?” AKu bangkit dari tempatku dan berjalan kea rah Mba Bulan. Di sebelah Mba Bulan ada temanku laki-laki. Bernama Hezkiel. Mungkin karena pada dasarnya aku anak yang cukup usil aku mencoba mengganggu Hezkiel. Aku memainkan ramburtnya yang sedikit botak di bagian atas.

“Wah matahari ada dua ya?” aku mengelus bagian kepalanya yang sedikir rambutnya.

“Mulai deh ganggu gue pagi-pagi. Sana lu pergi cepetan” Semakin dia jutek semakin tumbuh rasa iseng ini. Lalu aku mencubit dagunya yang sedikit berbulu dan membuat dia berontak. Aku hanya tertawa lalu kembali dengan Mba Bulan yang aku abaikan.

“Kenapa nanya gue kunjungan apa nggak?”

“gak apa-apa. Nanya ajah” Lalu dia asik dengan smartphonenya. Tingkah wanita satu ini memang aneh terkadang. Jadi kalau dia aneh aku sudah terbiasa. Mungkin dia sudah menua.

Gendut, aku pergi kunjungan kerja dulu ya. Bye

Gendut panggilan sayangku untuk Andre. Dan chat aku hanya berbalaskan emoticon peluk dan kecup yang cukup banyak.

“Alaynya mulai” aku hanya mengabaikan kembali chatnya.

****

Lu dimana nyet?

Pesanku untuk Echa. Dia bilang mau menjemput dirumah sekitar jam 6. Tetapi sudah lewat 15 menit dia belum juga menunjukan batang hidungnya. Lalu tiba-tiba terdengar klakson dari depan rumah. Dan aku lihat ada sebuah mobil cukup mewah parkir di depan rumahku.

“Lah itu mobil siapa? Masa Echa?” dan dugaanku ternyata benar. Echa keluar dengan gaya coolnya. Echa laki-laki 25 tahun dengan keturunan cina dan berwajah cool. Dengan badan bentukan alat gym mebuat dia menjadi pujaan wanita dan laki-laki. Ditambah kali ini dia mengenakan kemeja putih yang dibiarkan keluar dan celana coklat masa kini yang slim fit.

“Wuduh ilah. Mau kencan ya bu? Kece bener.” Aku meledek dia di depan pintu rumahku. Dia hanya tersenyum simple.

“lebih ganteng dari pacar lu kan? Namanya juga mau ngajak pacar dinner.” Dia memberikan sebuah bingkisan kepadaku. Aku melihat ada kemeja putih dan celana putih didalamnya.

“Ganti pakai itu. Dresscodenya putih soalnya”

“Lah gue juga punya kali kemeja putih” aku sedikit bingung dengan bingkisan itu

“punya lu udah butek jelek. Lagian u mau gue kenalin ke temen gue. Harus ganteng.”

“dude, lu bilang kan Cuma temenin ya. Bukan ajang perkenalan pacar.”

“Gak apalah. Kan pura-pura doang. Lagian lu harunya bangga punya pacar ganteng dan keren macam gue.”

“Sayangnya gue udah ada pacar tuh. Dan sekalipun lu lebih kece, gue tettep cinta dia” Aku memberikan tampang mengejek dan hanya berbalas tawa.

****

 

“Za, kolega gue mau minta di temenin ke gay club. Lu mau apa nggak? Kalau nggak kita lanjut pulang ajah. Biar temen gw yang handle mereka” Echa berbisik kepadaku. Beberapa koleganya melihat kami. Mereka orang luar dan tidak bisa berbicara Indonesia. Dan aku baru tahu kalau kolega Echa ada yang gay dan bisexual.

“kenapa lu gak bilang kolega lu gay? Kurang ajar lu ye.”aku memberikan cubitan ditangannya. Dia memberikan wajah kesakitan dan beberapa koleganya tertawa. Entah mereka mengerti atau tidak.

“ya terus gak mau? Yaudah kita pulang ajah ya” Echa berbicara bahasa inggris yang aku tahu kalau dia sedang menjelaskan kalau dia tidak bisa ikut dengan mereka karena aku sedikit tidka enak badan. Echa menggenggam tanganku.

Semua kolega Echa memberikan muka kecewa. Begitu pulan dengan teman se tim Echa. Echa adalah leader untuk teman-temannya. Dia sedang mencoba membuat turis itu mau mengeluarkan uang untuk investasi di bisnis mereka.

“Cha, I think I can go with u.” Aku menepuk pundak echa dan disambut dengan ekspresi senang koleganya dan rekannya yang lain

“Serius? Gue gak enak nih sama lu.”

“Gak apa. Asal Andre jangan sampe tau ajah. Bisa di bantai gue.” Aku memberikan senyuman untuk menenangkan Echa dan tanpa aku sangka tangan echa mengusap pipiku dengan lembut.

“Thanks ya” aku mengangguk dan pamit ke toilet sebentar. Untuk buang muatan dan menutupi rasa salah tingkah ini karena usapan echa. Dan seketika langsung nama andre melintas di benakku seketika aku mengambil smartphoneku tetapi ternyata aku lupa untuk charge baterai.

“Mati gue, andre bisa marah ini”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s