Aku Kamu dan Dia

Mereka bukan pilihan

-Riza-

Suara hingar bingar sudah mulai memasuki telingaku. Dan untuk orang yang baru pertama kali memasuki tempat pergaulan malam seperti ini, ditambah ini adalah club untuk orang gay membuat aku sedikit excited dengan suasana di dalam sana.

“Enjoy the party guys” ucap salah satu drag queen. Dan ketika aku memasuki tempat itu aku bisa melihat beberapa orang mempperthatikan kami. Seperti adegan film, kami seperti squad yang menarik perhatian.

“Lu mau minum apa?” Echa seperti berbicara sesuatu. Tetapi suara dia kalah oleh dentuman musik dan DJ. Aku hanya melihat mulutnya bergerak dan bahasa isyarat. Aku mengerti dia menawarkan minum.

“Gue cola ajah lah.” Aku langsung berbisik di telinganya untuk mengurangi upaya aku mengalahkan suara music di telinganya. Dia hanya memberikan jempol lalu meninggalkan aku dengan koleganya yang asik menikmati musik dan bersiap mencari mangsa.

“how long u have been Echa boyfriend?” Salah satu koleganya menghampiriku. Wajahnya cukup menarik. Rahangnya yang tegas dan bulu halus yang menghiasi wajhanya.

“No, we just a friend.”

“Really? So, I have a chance?” dia merangkul pundakku dan sedikit mendekatkan wajahnya. Suasana semakin awkward. Aku mencoba bersikap baik dengan perlahan menurunkan tangannya.

“Gosh! Echa kemana.” Kataku dalam hati.. Dan seperti menerima telepatiku Echa langsung muncul di sampingku langsung menarikku ke dalam rangkulannya.

“Sorry, he’s mine” di dalam kegelapann aku bisa melihat ada ketegangan yang tertahan. Dan beberapa temannya hanya tertawa melihatnya.

“gak apa?” Dia memberikan minuman. Dia bilang itu cola, tetapi aku merasakan ada campuran lain di minuman itu.

“I’m okay. Ini apaan? Kok aneh?”

“Itu ada campuran beer. Biar lu gak norak. Gak bakal mabuk kok.” Badannya mulai mengikuti musik. Dan beberapa temannya sudah berpencar.

“Handphone gue mati. Andre bisa marah nih gue gak kabarin dia”

“Yaudahlah nanti bilang ajah handphone mati dan lu udah kecapean jadi langsung tidur” Wajahnya terlihat kembali menegang. Aku merasa serba salah dengan segala sikapnya. Dia sangat baik kepadaku. Aku sudah menganggap dia sahabat. Tetapi dengan perasaan lain dia kepadaku membuat aku sedikit tidak enak

“Lagian bisa gak sih lu jadi bener-bener pacar gue untuk sehari? Tanpa harus ada nama dia disebut kalau kita lagi sama-sama?” dia memalingkan wajahnya.

“Gak bisa lah. Gue gak bisa berpura-pura untuk tidak ada salah satu dari kalian dalam hidup gue.” Aku mencoba mencarikan suasana dengan menggerakan badanku sesuai irama musik.

“yasudahlah. Gue mau cari pacar deh. Biar bisa lupain lu. Gak apa gue tinggal sendiri?”

“Bisa lah. Emang gue anak kecil? Lagian ada si Danny. Aman lah gue” Aku menunjuk teman kantor Echa hanya berdiri mematung. Mungkin sebagai straight dia sedikit bingung.

“Oh okay. Have fun ya” Dia meninggalkan ku dan sedikit berbicara kearah Danny. Dan aku tau yang mereka bicarakan. SEtelah itu Echa meninggalkan kami berdua dan bergabung dengan kerumunan. AKu dan Danny berbicara beberapa hal sepele untuk membunuh bosan kami untuk tempat seperti ini.

Musik yang menghentak keras dan beberapa gogo dancer mencoba menari erotis di panggung. Membuat suasana sedikit panas dan ada beberapa pasangan di sekitar kami mencoba bercumbu. Dan segelas minuman di tangan, mereka seperti mabuk oleh minuman dan termabukan oleh asmara.

“Oh may god. Get a room please” kataku ketika salah satu pasanngan menyenggolku. Danny mengajak ku untuk menjauh dan sedikit kepojok. Kami rasa ini bukan dunia kami.

“Hahaha gue kira tadi mereka mau ngajak lu gabung” kata Danny lalu menyendarkan punggungnya ke dinding

“Gue hajar mereka.”

“Dan Echa akan menghajar mereka lebih” Kami tertawa mendengar pernyataan dari Danny.

“Kenapa lu gak pacaran ajah sih sama Echa. Gue gak pernah liat Echa segitu tergilanya sama orang.” Danny memulai pembicaraan yang mencoba aku hindari

“Gue udah ada pacar Dan.”

“Emang pacar lu kayak gimana sih? Lebih ganteng dari si Echa? Gue rasa tampang si Echa itu udah lebih dari ganteng untuk kaum gay. Dan dia juga udah mapan banget dengan jabatan dia.” Danny seperti mencoba melakukan promosi pintar untuk Echa.

“jadi lu lagi promosiin si Echa? Echa ya yang suru lu tadi?”

“Nggak! Demi Tuhan! Tapi ya gue kasian ajah liat dia begitu. Gak jelas hidupnya”

“Gue akuin dia emang pacar idaman.Tapi pacar bukan tentang seberapa lama lu udah kenal dia atau seberapa ganteng dan mapannya dia. Ketika hati lu udah ketemu yang pas, sebagaimmanpun dia, ya lu akan anggap dia pacar kan? ”

“Iya sih” Danny tau aku tidak suka dengan topic ini. DIa mencoba mengakhiri semuanya.

“by the way, gue mau ke toilet. Lu disini ajah ya jangan kemana-mana. Kalau ilang bisa di bunuh Echa gue” Danny pamit ke toilet dan aku hanya memberikan isyarat anggukan.

Sendiri dan dipojokan membuat aku seperti anak domba yang tersesat diantara kaum serigala. Aku melihat kolega Echa yang merayu aku tadi mendekat. Aku lupa dengan namanya tetapi aku ingat kalau dia sedikit berbahaya. Aku mencoba memalingkan wajah untuk membuat dia berbalik kembali. Tetapi sia-sia, dia sudah melambaikan tangannya kepadaku. Dengan wajah yang mabuk aku bisa melihat dia semakin berbahaya.

And once again, dia seperti tau kapan untuk datang dan seperti bisa membaca pikiran. Echa datang dengan gagahnya menghampiriku. Lalu bersandar ke dinding. Aku melihat bule gila itu langsung mejauh ketika melihat Echa.

“Aman” pikirku

“Danny kemana?”

“Toilet” Echa seperti mengabaikan jawabanku. Dia langsung mengambil minuman ditanganku. Aku rasa Echa sudah sedikit teler.

“Cha, jangan udah mabuk lu” AKu mencoba mengambil kembali. Tetapi telat, minuman itu sudah di tenggak habis. Lalu dia asik kembali menggerakan badannya.

“Gue gak mabuk. Cuma sedikit teler. Tapi tetep masih bisa jagain lu dari bule gila itu kok” Dia mengedipkan matanya. Lalu kembali asik dengan musik dan berhasil membuat aku tersipu. Untung penerangan disini gelap. Dia tidak akan melihat wajah yang memerah.

Ini sikap yang membuat aku merasa bersalah kepada Andre. Aku merasakan deg-degan dengan orang lain. Ketika Echa bersikap manis kepadaku. Dia tau kapan datang dan pergi. Mengerti bagaimana harus bersikap kepadaku. Meskipun dia keras kepala, dia menjadi sangat manis ketika harus bersikap manja. Dan ketika sedang jauh dia akan sangat perhatian kepadaku. Hati ini terlalu kecil untuk menampung dua orang. Aku tidak bisa bohong kalau aku merasa nyaman dengan adanya Echa dalam hidup. Tetapi aku tidak bisa memilih antara dia dan Andre. Karena mereka bukan pilihan. Meraka bagian dari hidup.

Tanpa terasa posisi kami sudah saling berhadapan. Aku bersandar di dinding hanya berdiri melihat Echa bergerak di depanku. Echa memiliki postur tubuh yang tinggi, aku yang 175 hanya setinggi bahunya. Aku menatap wajahnya yang sedang asik menikmati music. Matanya terpejam. Wajah itu membuat aku sedikit terbius. Mungkin efek minuman yang memasuki tubuhku. Aku memegang wajahnya. Echa yang sedang berdansa pun terkejut lalu berhenti.

Mata kami saling menatap. Dan dunia seakan milik berdua itu pun menjadi nyata. Aku merasa kami hanya berdua disini. Echa merangkul pinggangku dan berjalan mendekat. Posisi badan kami sudah saling menempel. Dan aku merasakan tangan Echa yang berotot mulai merangkul semakin erat. Dia mendekatkan wajahnya perlahan kearah ku. Bibir kami hanya terpisah beberapa cm.

“Aku sayang kamu” Wajah andre langsung melintas di pikiranku dan membuat aku memalingkan wajahku dari Echa dan menyadarkannya di dada bidang Echa. Aku mengubah tanganku menjadi memeluk badannya yang kekar. Ada napas kecewa yang aku rasakan darinya.

“I Love you. You know that?” Echa berbisik lembut di telinga ku

“I know, I love you too but just like my brother” Aku memeluk dia dengan erat.

“It’s okay. Setidaknya tetep ada gue dihati lo. Itu udah lebih dari cukup untuk saat ini” Kami berpelukan cukup lama sampai Danny datang menghampiri kami

Advertisements

2 thoughts on “Mereka bukan pilihan

  1. Kak,ini dunia fantasi apa realita yg kakak hadapin sih? Too good to be true bgt ini ceritanyaa huhuuu :’).
    Anyway, terus tulis postingan di sini yaa. Ditunggu lho. I’m addicted to your story!
    Btw, I’m gay too 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s