Aku Kamu dan Dia

2 Years

-Riza-

Aku memandang Andre disampingku. Tatapannya lurus ke depan. Aku menggengam tangannya yang sedikit kasar. Sudah hampir setengah jam dia hanya mendiamkanku.

“Kamu marah ya?” aku mencoba menatap wajahnya.

“Nggak kok.” Dia tersenyum. Lalu kembali menatap jalan.

“Come on! Kita sudah pacaran 2 tahun. I know you so well. Kamu sampai kapan mau ngambek kayak gitu?” Dia melepaskan genggaman tangannya.

“Aku lagi konsentrasi nyetir mobil. Nanti kalau kita nabrak gimana?” ciri khas Andre dia sangat tidak bisa marah. Dia orang yang paling pengertian. Dia mampu mentolerir semua kesalahan dan semua kejadian. Tetapi ketika dia sudah marah. Dia akan menjadi orang yang paling diam di seluruh jagat raya.

“Oh konsentrasi ya? Siapa yang waktu itu di tol minta di…uhmmm” Aku sengaja menggantung perkatannku dan meliriknya. Dia menahan senyum.

“Ya lagian kamu semaleman gak bisa dihubungin. Aku kesel tau gak! Kamu perginya sama si Echa. Aku udah mikir banyak hal aneh-aneh tau gak! Aku percaya kamu, aku tau kamu orangnya seperti apa dan aku gak mau mikir aneh-aneh. Tapi sebagai pacar kamu ya pasti aku akan cemburu dan mikir hal aneh-aneh. Aku telpon gak bisa, aku chat gak bisa. AKu mau nyusul kamu tapi aku gak tau kamu kemana. Aku kesel!” Aku mencoba menahan tawa melihat ekspresi Andre saat ini. Dia seperti meledak tetapi dengan cara yang lucu. Tetapi sepertinya ekspresiku tidak bisa berbohong.

“Tuh kamu cuma ketawa. Lucu ya udah buat aku kesel kayak gini.” Andre kembali terdiam dan meledaklah tawaku.

“Duh kasian sayangnya aku ini. Aku kan udah jelasin ke kamu kalau handphone aku lowbat. Aku mau kabarin kamu kan gak bisa gendut” Aku mengelus pipinya mencoba menggodanya. Tetapi dia mencoba menjaga imagenya kalau saat ini dia sedang marah.

“Gak usah nahan ketawa deh. Jelek tau gak! Pipi kamu jadi tambah gendut. Nanti aku cubit biar putus ya?” aku mencubit pipinya dan dia mulai tersenyum. Senyuman yang selalu membuat aku tenang. Melihat dia tersenyum menjadi kesenangan sendiri buatku.

“Tapi please jangan buat aku khawatir kayak kemarin ya?” Dia menggengam tanganku. Lalu menciumnya.

“Iya gendut. Maaf ya” Andre, he’s the best boyfriend for me. Awal kami bertemu dari sebuah aplikasi kencan untuk kaum gay. Some people say kalau hubungan yang berawal dari aplikasi itu cuma bersifat sex. Hubungan akan selesai ketika sex selesai. Tapi kami bisa buktikan kalau itu semua salah. Kami sudah 2 tahun dan terus berjalan.

Setiap orang punya kriteria untuk seorang pacar. Dia mau yang goodlooking baik, mapan dan semua hal yang baik. Tapi someday, ketika kira ketemu seseorang yang telah klik di hati. Semua kriteria itu hanya seperti kata-kata belaka.

Andre memang tidak bertubuh muscle seperti yang aku idamkan, tidak memiliki tampang model yang rupawan. Dia memiliki tinggi tubuh dibawahku dan kulit yang sedikit gelap. Tapi semua sikapnya membuatnya yang lebih berharaga dari semua tipe yang aku idamkan. Dia yang terbaik dan aku berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk dia juga.

“So, kemana kamu kemarin?” Ketika di tempat makan Andre kembali ke topic yang sepertinya masih menjadi pikiran buat dia.

“Uhm janji kalau kamu akan marah sama aku dan gak akan ngambek lagi. Janji?” AKu memegang tangannya. Tetapi karena di tempat umum, aku melepaskannya kembali.

“Kapan aku bisa marah sama kamu?” Andre tersenyum kembali. Dan aku telah jatuh cinta kepada dia untuk kesekian kalinya.

“Okay, jadi kemarin itu aku sama Echa dan koleganya dinner di resto gitu. Aku rasa itu mahal banget. Karena ya berkelas gitu” AKu bercerita semua hal yang terjadi kemarin. Raut wajah Andre berubah-ubah mendengar semua ceritanya. Dan ketika sampai di club gay itu yang paling membuat hatiku sakit. Dia hanya menghela nafasnya dan terdiam. Kembali terdiam.

“Maaf” AKu terdiam menunduk

“Aku yang minta maaf.” Kata-kata Andre diluar perkiraan aku. AKu menatap dia, dan dia kembali tersenyum tapi tersenym pahit

“maaf aku gak bisa bawa kamu makan di restaurant mewah kayak gitu.” Dia memainkan handphone di tangannya.

“Lah? Kok kamu malah minta maaf kayak gitu? Hei! Aku yang minta maaf udah ke tempat itu. Aku janji gak akan lagi kesana”

“Gak apalah. Dengan kamu jujur aku udah seneng kok. Kamu mau kemana dan dengan siapapun aku gak akan marah sama kamu. Karena aku percaya sama kamu. Dan kamu jangan ilang kabar dan jaga diri aku udah sangat seneng kok” DIa berhasil membuat mataku sedikit berkaca-kaca. Dia selalu berhasil membuat aku jatuh ke hatinya berkali-kali. Dia terlalu manis dan terlalu penuh dengan kasih sayang. Kalau bukan karena ini di tempat umum aku sudah memeluknya dan memberikan ciuman terbaik.

“Makasih ya” aku menggengam tangannya dan kali ini tidak peduli dengan sekitarku.

“Nanti kita makan juga ya disana. Jangan di solaria terus yang pelayanannya lama kayak gini” Kami tersenyum dan menatap satu sama lain. Mentrasnfer cinta yang kami miliki.

“Dulu aku juga udah pernah kesana beberapa kali. Aku kira kamu gak suka tempat kayak gitu” Andre mengedipkan matanya

***

-Andre-

 

Jalanan Jakarta sore ini sangat luar biasa. semua jalanan penuh sesak.

“Ini kenapa aku lebih suka kita jalan pakai motor. Gak bakal kena macet” Riza mulai menggerutu disampingku. Dia akan sangat bawel ketika dia sedang kondisi tidak enak.

“Ya sekali-kali lah kita pakai mobil. Ini juga karena abang aku lagi nggak pakai mobilnnya.” Aku menggengam tangannya. Mencoba memberikan ketenangan. Tetapi dia langusng menggigit tanganku.

“Ngapain sih kamu?” aku menarik tanganku lalu menoyor badannya.

“aku bosan.” Dia menatap keluar dan menggerutu. Dengan sekali-kali mengikuti music di radio.

Riza, aku tidak pernah menyangka akan memiliki pacar seperti dia. Dia mempunyai banyak kepribadian. Kadang dia bisa menjadi seperti orang normal biasa, kadang dia bisa menjadi sangat jutek. Kalau dia sedang jutek dia akan ngomel di sepanjang hari. Atau kadang dia bisa menjadi anak manja. Yang sangat menyebalkan dari semua anak kecil. Dan masih banyak lagi tingkah dia yang aneh.

“Sabar ya sayang. Aku gak nyangka kalau yang mau kepuncak sampe segini banyaknya.” Aku mengelus pipinya dan kembali menggengam tangannya. Kali ini berhasil, dia menjadi tenang lal bersandar di tanganku.

“Aku mau makan jagung bakar nih gak sabar.” Riza mengelus tanganku. Dia menjadi anak manja yang baik kali ini.

“Yakin kamu gak mau ke chimory? Katanya disana enak makannya”

“Gak mau. Mahal. Mending aku makan indomie sama jagung bakar. Lebih enak dan lebih murah” DIa menatap keluar kembali. Dari semua pacar yang telah menjalin hubungan denganku. Dia sangat unik. Biasanya ketika diajak ke tempat yang bagus dan mewah dia akan senang. Tetapi Riza akan marah. DIa akan menanyakan harganya dan lain-lain. Dan ujungnya karena dia tau harganya lumayan. Dia hanya memesan minuman. Dengan alasan dia sudah makan. Padahal aku bisa mendengar suara perutnya yang kelaparan.

“Aku kan mau ajak kamu makan enak. Biar gak kalah sama Echa” Aku tersenyum ketika dia mencubit tanganku

“Gak usah jadi orang lain. Emang kamu maunya aku pacaran sama dia atau sama kamu?” Lalu aku tertawa dia kembali cemberut dan membuat aku gemas.

Ketika sampai di tempat yang dituju. Riza menjadi seperti anak ayam yang dilepaskan. Dia begitu sangat senang.

“Aku mau indomie!” Riza berlari kearah pondokan. Dia memilih tempat favoritnya, yaitu dipinggir. Agar bisa melihat ke lembah. Wajahnya yang polos dan tersenyum sangat manis melihat semua pemandangan malam lembah. Lampu-lampu kendaraan yang menurutnya indah. Dan untuk saat itu aku melihat dia yang sesungguhnya.

Aku tidak mengerti apa yang dia lihat dari diriku. Padahal sudah jelas ada seseorang yang lebih baik dariku yang telah menunggunya. Tetapi dia masih saja terus memilihku. Tekadang aku merasa tidak percaya dengan Riza. Aku yakin dia telah bermain dibelakangku. Tetapi dia selalu berhasil meyakinkan aku, kalau hanya aku satu-satunya. Dan aku salalu luluh dengan sikapnya. Dengan semua sikapnya yang labil, aku ingin sekali melindungi dia. Entah ada orang lain atau tidak. Aku rasa aku cukup percaya kalau dia hanya milikku seorang. Setidaknya untuk saat ini dan aku harap seterusnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s