Aku Kamu dan Dia

Dan dimulai

-Riza-

 

Hai sayang, lagi apa?

Chat dari Andre muncul di layar. Aku menatapnya hanya dengan enggan. Aku kembali menutupnya. Dan kembali asik dengan posisi sleep mode. Tetapi tidak beberapa lama handphone ku kembali memberi peringatan sebuah pesan.

Kenapa kalau kita tidur harus selalu tiduran?

Echa. Manusia aneh itu selalu memulai chat dengan hal absurd. Aku menatap pesan itu cukup lama. Mencoba mengerti apa maksudnya. Tapi tidak berhasil aku temukan.

Gak tau, kenapa?

Aku membalas dengan enggan. Lalu dengan malas aku membalas pesan Andre.

Hai gendut, aku lagi kondisi sleep mode nih. Males bbman.

AKu mencoba mematikan handphoneku. Tetapi pesan echa berhasil mencegah

Karena kalau gak tiduran, namanya gak tidur. Jadinya berdirian

Aku ragu kalau manusia ini punya otak tau tidak. Aku hanya memberikan tanda R di chatnya. Memberitahu dia kalau itu sangat tidak lucu.

Kenapa sih? Lagi ada pikiran apa?

Andre mencoba memulai pembicaraan kembali

R: Nothing, Cuma kepengen martabak keju. Eskrim dan coklat.

A: Yaampunn. Yaudah nanti kita beli ya?

R: Maunya sekarang. Yaudah aku liat di instagram ajah lah. Dirasakan masuk kedalam mulut.

A: Hahaha dasar kamu. Ada-ada ajah

R: Aku out dulu ya, malas chat. Mau boboan ajah sambil denger lagu. *hug and kiss*

Aku kembali meninggalkan handphoneku di samping tempat tidur. AKu ambil guling dan mencoba tertidur. Beberapa kali handphoneku memberikan panggilan pesan tapi guling ini begitu posesif. Aku tidak dibiarkan pergi sampai sebuah panggilann telepon masuk. Aku lihat nama Echa dan fotonya terpampang di layarku.

“Kenapa?”Jawabku

“Eh nyet, kalau diajak ngelucu itu di bales. Jangan di read doang. Di chat gak bales pula.” Echa memaki-maki diriku.

“Gue lagi males bbm ih! Lagi sleep mode.”

“Kebiasaan, kepengen makan apa biar moodnya bagus?”

“Ih tau ajah lagi kepengen makan. Nanti gue kasih tau, terus tiba-tiba udah ada di depan pintu macam meme ya?”

“Dih? Nggaklah! Gue kasih tau Andre biar si alaynya ini di kasih asupan.”

“bego lu, sebelum lu tau. Dia udah lebih tau kali”

“Terus kejadian kayak di meme gak?”

“Nggaklah. Emang alay kayak lu!”

“Yaudah siapsiap. Gue kesana. Temenin gue beli martabak yuk? Nanti gue traktir apa ajah yang lu mau makan. Okay?” aku sedikit kaget ketika Echa menyebut kata martabak. Dia seperti membaca pikiran. Atau jangan-jangan aku salah chat yang seharusnya buat andre tetapi ke dia?

“Eh monyet! Jawab! Malah diem!” Echa berteriak membuatku tersadar.

“Iya alay! Yaudah sih dateng ajah!” aku balas berteriak. Setelah aku menutup panggilan aku langsung melihat chat aku dengan dia. Tidak ada aku menyebut kata martabak. Lalu aku melihat chatku dengan andre. Aku mau memberi tau kalau aku mau pergi dengan Echa. Tapia da sedikit keraguan.

Kalau aku kasih tau aku mau beli martabak dengan Echa. Nanti pasti dia akan cemburu. Pasti akan mikir macem-macem. Atau nanti merasa terintimidasi dengan Echa. AKu mencoba mengetik, tetapi aku kembali menghapusnya. Lalu aku tinggalkan saja itu dikamar. Lalu segera siap-siap untuk pergi.

***

-Echa-

Aku memakirkan mobil di pinggiran. Mencoba memastikan kondisi mmobil ini aman tanpa menggangu.

“Kepala jangan maju sih!” Aku dorong kepala Riza yang menghalangi spion. Selalu anak itu tidak bisa diem kalau di mobil. Dia hanya memberikan tampang manyun. Setelah kondisi aman, aku segera keluar dan mengampiri tukang martabak yang sedang sibuk dengan pelanggannya RIza mengikuti dari belakang dan memeluk tanganku. Meskipun ini di tempat umum, aku tidak peduli. Selama RIza yang mengenggam. Toh dia terlihat seperti adiku sendiri.

“Mau juga?” Aku menatap matanya yang polos. Dan tanpa dijawab aku sudah tau apa yang dia inginkan.

“Mas, martabaknya yang original 2, campur 1 dan keju susu 1 ya.” Ketika mendengar pesananku dia menunjukan wajah anak kecil. Bingo!

“Kok banyak banget pesennya?” Riza duduk disebelahku yang sedang asik maen game.

“Iya, jadi nanti malem. Ada acara gitu. Jadi disuru pesen sama mama. Katanya lu juga boleh dateng” Aku menutup layar game dan menatap Riza. Dia terlihat sangat gembira. Aneh sekali dengan anak ini.

“Kenapa lu jadi senyum-senyum gitu gue beliin martabak? Kan udah biasa gue bayarin. Lebay banget kayak bersyukur banget ya?” mendengar itu Riza langsung memberikan pukulan dilenganku.

“nggaklah bego. Cuma seneng ajah ada yang ngertiin gue lagi mau apa tanpa gue harus bilang.” Dia tersenyum. Mendengar itu aku langusng merasakan panas diwajahku. Aku berusaha stay cool. Mencoba bersikap biasa saja.

“Ohh, dikira apaan.” Aku bangkit dari duduk lalu meninggalkannya. Dan ketika aku berbalik, dia sedang mengamati tukang martabak menyajikan martabaknya. Mungkin takut kalau kebahagiaannya dirusak. Mungkin habis ini aku bisa alesan ajak dia makan coklat atau eskrim. Mungkin itu bisa membuat dia tambah happy.

***

-Riza-

Dari kejauhan aku mendengar ada panggilan masuk di handphoneku. Aku segera berlari menuju kamar, dan melihat Andre sudah menelpon ku 7x dna itu semua missed call. Aku segera menelponnya kembali.

“Kenapa?” kataku ketika ada jawaban diujung sana

“lagi apa sih? Kok gak jawab” Suara lembut andre diujung saana terdengar kesal.

“Aku abis beli martabak. Handphone aku tinggal di kamar.” Aku langsung tiduran di kasur seakan lupa Echa sedang menungguku di bawah. Aku bilang mau ikut ke acara rumahnya. Sekalian bertemu dengan mamanya.

“bener? AKu kira kamu lagi ngapain” Andre tertawa. Tetapi segera berhenti ketika mendengar suara Echa.

“Honey, lagi ngapain sih? Enak loh ini! Lu jadi mau keluar gak?” Echa langsung berlari masuk kekamar ku dan duduk disampingku. Tau aku sedang menelpon dia langusng menutup mulutnya lalu segera keluar kamar.

“Hah? Enak? Keluar? Kamu lagi apa sekarang!? Kok ada suara echa? Itu apaan enak-enak? KAMU JANGAN MACEM-MACEM YA!” Andre langusng terdengar sangat galak di ujung sana. Suara lembutnya sudah tidak terdengar. Sepertinya dia salah tangkap dengan Echa

“Hei! Tenang dulu! Denger penjelasan aku.” Tapi sepertinya Andre sudah sangat kalut, dia langsung menyerbu dengan segala ucapannya yang tidak masuk akal.

“Aku gak nyangka ya kamu kayak gitu dibelakang aku! Aku udah percaya kamu banget tapi kamu permainkan aku kayak gini? Aku udah nyangka kalau kamu emang ada macem-macem dengan si orang kaya itu. Okay, semoga kamu bahagia!”

Aku bingung bukan main dan hanya memandang layar handphonneku dan menatap Echa yang kebingungan dengan eskrim dimulutnya.

“Kenapa?” Tanyanya degan eskrim yang mengotori mulutnya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s