Aku Kamu dan Dia

Saya Normal, Anda?

-Hezkiel-

 

Aku menatap pintu ruanganku. Dengan irama musik dari headset, aku menanti pintu itu terbuka. Aku menunggu seseorang untuk masuk dari pintu itu. Tetapi ketika pintu di buka aku langsung menunduk. Aku sedikit melirik kearah orang yang datang. Tetapi bukan dia yang aku harapkan. Aku kembali menyantap sarapanku sekali-kali melirik kearah pintu.

Dan tidak beberapa lama masuk seseorang. Yang aku suka ketika dia masuk adalah auranya. Selalu ada aura positif yang dia bawa. Aku rasa dia cocok menjadi model, tetapi hanya kurang berbentuk badannya. Dia berjalan kearah ku, dengan pelan-pelan aku mengikuti arah dia melangkah. Ada aura intimidasi tetapi ada aura penyemangat. Itu yang aku suka dari Riza.

“Hampir ajah gue telat.” Riza melepas jaket dan menyimpannya bersama tasnya. Lalu dia melangkah ke arah pantry. Yang aku tau, dia akan cuci tangan.

Mengagumi seseroang pasti sudah sangat wajar untuk kita semua. Banyak tokoh yang kita kagumi karena kelebihannya. Tetapi kondisi aku dengan Riza berbeda, aku rasa aku terlalu tergila sama dia. Aku masih normal, tetapi kenapa aku nyaman kalau ada dia? Dia selalu membuat aku penasaran dengan tingkahnya yang bisa di luar dugaan.

“Hari ini mba Bulan gak masuk ya? Berarti gue berdua ya sama Hezy di barisan ini?” Hezy nama panggilanku dari Riza. Di divisi ini ada sekitar 6 baris. Masing-masing dihuni oleh 4 orang. Dibaris aku ada Riza, Bulan, aku dan Damai. Dan kali ini kedua cewek itu tidak masuk. Berarti aku bisa memperhatikan Riza lebih lagi.

“Iya” Aku menjawab singkat padat dan jelas. Ada perasaan yang aneh kalau aku berdekatan dengan Riza. Aku tau ini adalah perasaan yang tidak wajar. Mungkin orang lain akan menyebutnya gay. Tapi aku yakin aku masih normal. Ya meskipun aku sedang tidak suka dengan perempuan manapun.

Aku suka melihat sikapnya yang sangat konyol. Dia bisa membawa diri dengan orang manapun dengan berbagai macam karakter. Dan membuat semua orang atau hampir semua orang di kantor kenal dia. Karena dia sangat supel. Itu hal pertama yang aku suka dengan dia.

Riza, meskipun dia terkesan anak-anak. Umurnya masih 21. Tetapi dia mempunyai hidup yang sangat kejam. DIa sudah sangat terlatih. Dan menjadikan dia dewasa dengan cara dia sendiri. Itu yang kedua.

Dan seperti yang aku bilang. Aura Riza bisa membangkitkan semangat. Dia memiliki cara untuk membuat orang lain menjadi berapi-api seperti dirinya. Mungkin ini semua hanya beberapa hal yang aku lihat dari dia. Sebagai orang yang sangat cermat, aku sudah melihat berbagai hal baik dalam dirinya. Meskipun banyak hal buruk, tetapi aku rasa hal baiknya sudah sangat banyak. Dan aku rasa, aku tidak suka dengan Riza. Hanya kagum dan hanya senang dengan kehadirannya.

Memikirkan Riza seakan membentuk otot senyum di bibirku. Melihat hal itu Riza langsung menghampiriku.

“Ih mulai deh gilanya. Senyum-senyum sendiri.” Dia memelukku dari belakang. Lalu mengambil sarapanku. Aku tidak mau dibilang sebagai gay, aku selalu menjaga jarak dari Riza.

“Ngapain sih peluk-peluk” aku bangkit lalu pindah ke tempat Bulan. Sebenarnya aku senang bila dipeluk oleh Riza. Ada wangi khas yang aku suka dari dia. Tetapi aku tidak suka dia kan? Aku bukan gay. Jadi aku tidak boleh peluk cowok.

“Gue abisin ya sarapanlu? Nanti kan lu bisa makan yang lain” Dia langsung membawa sarapanku. Secepat kilat aku segera menyambar sebelum menjauh itu tempat makan.

“No! kebiasaan makanan gue diambil mulu tiap pagi!” AKu kembali duduk di tempatku lalu membuka laci.

“Tapi aku lapar. Dan masakan lu enak” Sebelum dia merajuk lebih lama, aku segera memberikan tempat makan lain yang sengaja aku bawa dari rumah.

“Ini supaya lu gak ganggu gue lagi. Jangan gangggu. Hush sana!” Seperti anak kecil yang mendapatkan mainan. RIza langsung menyambar dan terlihat sangat girang. Wajahnya! Aku rasa wajahku memerah. AKu terlalul senang melihat Riza senang oleh bekal yang aku buatkan. Dan tetap ya, aku normal. AKu hanya senang melihat temanku senang. Dan aku sengaja membawa dua supaya dia tidak menggangu makananku. Dan agar kami tidak ciuman secara langsung.

Aku terkenal sebagai orang yang religious. Aku tidak mau sampai orang lain tau akan pergolakan di dalam hati ini. Menurut agama perasaan yangaku miliki sekarang kalau sampai ke taraf selanjutnya akan membawa aku ketempat yang salah. Manusia diciptakan sepasang, Adam dan Hawa. Bukan Adam dan Adam.

Tetapi aku tetap manusia biasa. Semakin aku menolak, semakin aku menghindar. Aku semakin merasakan penasaran akan Riza. Aku bahkan tau kaki apa yang akan dia masukan terlebih dulu ketika pakai sepatu. Hal remeh kayak gitu. Tetapi aku sudah kecanduan akan dia. Aku mau tau semua hal tentang dia, aku mau tau apakah dia juga bisa merasakan hal yang aku rasakan? Dan kalau dia merasakan hal yang aku rasakan, apakah kita bisa bersama? AH! Gila aku ini! Aku normal, aku tidak akan bersama dengan dia.

Aku melirik kearah dia. Mulutnya sibuk mengunyah makanan, tangan kiri dengan handphone dan mata kearah email yang sedang di gerakan tangan kanan. Multi tasking juga itu anak. Satu memori lagi tersimpan tentang dia. Ketika dia melihat handphone, dia mendadak tersenyum manis.

“Chat dari siapa sih? Masa anak bocah kayak gitu udah ada pacar?” Kataku dalam hati. Tetapi aku rasa dia meang sudah ada pacar. Dia selalu posting pergi ketempat hits, nonton di bioksop, dan posting hal romantis. Kalau dia pergi sama temen, kenapa dia tidak pernah tag orang itu? Atau sama nyokapnya? Kalau untuk nonton masih mungkin. Tetapi tempat hits dan hal romantic? Aku rasa memang ada pacar.

“makan yang bener, abisin dulu. Mau gue cuci tempatnya” Aku sengaja berdiri disampingnya. Seakan aku sedang menagih tempat makan yang sedang dia pakai. Tapi tetap mataku kearah layar handphonenya. Aku melihat ada emoticon peluk dari seseorang dengan huruf depan An. Tapi aku tidak jelas karena dia buru-buru menutup handphone

“Sabar honey, ini juga dikit lagi” Mungkin karena tidak enak karena aku menagih tempat makannya. Dia jadi makan terburu-buru dan menyebabkan makanan itu bertumpuk di tenggorokan. Riza buru-buru ke pantry untuk ambil minum.

“Lagian makan bukannya sedia minum. Ckckck” Ada nada khawatir dan aku ingin segera menyusulnya. Tetapi ada yang menarik perhatianku lebih. Sebuah pesan muncul di notif handphonenya.

I’m sorry about last night. Gue sedikit lancang udah mau cium lu. I hope u don’t get mad. Love u my special gay bro. *kiss and hug*

Disana tertulis nama Echa. Aku rasa dia berkelamin jantan. Dan dia menyebutkan cium? Dan my special gay bro? okay fix. Dia gak ada pacar, tapi dia sedang dekat dengan seseorang. Dan hal terpenting lagi, Riza gay?!

 

Ada perasaan yang tidak bisa aku ungkapkan. Aku senang tetapi sekaligus bingung. Dia gay, dan ada kemungkinan dia akan suka kepadaku. Tetapi aku pastikan sekali lagi. Aku normal! Tapi benarkah? Dan kalaupun dia gay, dia sudah dekat dengan seseoang. Bahkan hampir menciumnya! Aku saja kalau dekat dengan Riza sudah bingung mau bersikap seperti apa.

Aku melihat Riza balik dari pantry. Dia menatapku bingung diriku yang mematung disampingnya. Aku juga bingung mau bersikap seperti apa. AKu melihat wajahnya yang menggemaskan. Matanya yang kalau bingung terlihat sangat polos. Dan bibirnya, entah kenapa seperti perasaan yang merasuk entah dari mana. Aku ingin sekali mengkecup bibirnya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s