Aku Kamu dan Dia

Mengerti

-Andre-

Aku memang bukan orang yang tampan dan rupawan. Aku memang tidak mempunyai harta yang berlimpah. Tapi ketika aku memiliki dia disampingku, melihat dia tersenyum karenaku sudah membuat aku begitu berarti. Tetapi ketika tau dia selingkuh dibelakangku, itu membuat aku sadar kalau aku sangat tidak berarti. Dibandingkan Echa, aku hanya laki-laki yang sangat berada dibawah jauh kelasnya. Aku tidak memiliki wajah oriental dan memiliki penghasilan luar biasa. dan aku tidak pantas untuk mengharapkan cinta.

“bego! Gue bego!” Aku memaki diri sendiri. Dan tiba-tiba ada sebuah pesan masuk. Aku lihat dari Riza. Dia mengirimkan beberapa gambar. AKu tidak mau melihatnya. Aku terlalu sakit hati.

Lain kali denger penjelasan dulu baru panik.

Sebuah pesan dari Riza muncul kembali. Lalu dengan menyiapkan hati aku membuka pesan dari Riza. Aku melihat ada gambar beberapa martabak dan eskrim. Lalu ada Echa dibelakang Riza yang terlihat sedang mengobrol dengan mamanya Riza. Dan tiadak beberapa lama sebuah panggilan masuk

“Kalau panik itu yang jelas. Belom tau kejadian sebenarnya udah marah.” Suara Riza muncul. Aku merasakan wajahku memanas. AKu merasakan malu yang sangat luar biasa. aKu tidak bisa berkata apa-apa.

“he-ehm, yaudah. Aku kan cuma mau kerjain kamu. Lagian pergi sama Echa gak bilang. Aku tau kok kamu gak ngapa-nngapain. Aku percaya kan sama kamu.” Aku mencoba memutar balikan keadaan. Tetapi Riza langsung tertawa keras diujung sana

“Masa? Bukannnya tadi ada yang marah banget sama aku? Buahahahaha” aku semakin malu mendengar itu. AKu rasa kalau aku ada disana aku ingin menyumpal mulutnya agar berhenti tertawa.

“yaudah mau sampai kapan ketawanya?”

“Sampai puas. Hahahha yaudah aku mau pergi dulu sama Echa. Mau ketemu nyokapnya.”

“Mau ngapain sih kesana? SEngaja mau kerjain aku ya? Gak usah kesana”

“Ih aku udah bilang sama mamanya mau kesana. Kamu gak usah ngambek gak jelas deh”

“Kalau kamu kesana, aku akan ngambek dengan kejelasan. Ngerti?” Riza adalah orang yang sangat keras kepala. Dia malah mematikan panggilan tanpa menjawab. Aku hanya bisa menghelas napas melihatnya seperti itu.

Semakin hari aku merasakan hubungan kami semakin kacau. Aku semakin sering bertengkar. Dan hal itu karena Echa. AKu tau dia sudah lebih lama mengenal Riza, tetapi seharusnya dia menghormati aku sebagai pacarnya. Yang sudah lebih dahulu mencintai dia.

“Shit”

***

Echa

“Kenapa?” dengan kasar Riza menaruh handphonenya di meja. AKu yang melihat itu tau ada seseuatu yang terjadi antara dia dan Andre.

“gpp” Dia mengambil sepotong martabak lalu berjalan kearah kamar. Mamanya menatapku bingung.

“Kenapa itu anak? Samperin gih” Dia memberikan handphone Riza kepadaku. Lalu aku susul anak itu. Dia sangat keras kepala.

“Kenapa sih?” Aku lempar handphone ke kasur. Riza hanya dia lalu berganti pakaian. Kalau bukan karena dia milik orang lain, aku pasti akan langsung menerjang badan kurusnya itu. AKu ingin peluk. Tetapi berhubung ada mamanya dibawah dan dia masih milik orang lain aku urungkan niat itu. Aku mengganti pandanganku.

“Gak apa-apa. Jadi pergi kan? Gue harus pakai baju apa?” Dia hanya bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek.

“Oh may gosh! Dia tau aku suka kepada dia tetapi kenapa dia sangat tidak peka dan tidak berperasaan” kataku dalam hari ketika melihatnya

“Heh! Gue nanya!” Dia mendekat kepadaku. Dan semakin membuatku seperti blank.

“eee.. uhm.. ya, gimana ya. Uhmm terserah u ajah. Yang sopan ajah eee..” badannya sangat menantangku. Aku mencoba bernapas lebihh banyak untuk mengatur kondisiku.

“Gue sebel. Si andre lagi gak jelas. Dan dia lagi cemburu besar sama lu. Pusing gue ngadapin dia kayak gitu terus.” Dia melempar sebuah jeans kapadaku. Mendengar kata Andre membuatku bisa mengontrol khayalan liarku.

“Why? Tadi berantem lagi? Dia gak terima penjelasan lu?” dia mengenakan baju di hadapanku. Ini bukan pertama kali aku melihat badannnya. Tetapi entah kenapa kali ini, badannya membuat aku sangat tidak bisa konsen. Mungkin karena aku yang sedang tinggi atau karena aku sedang berada dikamarnya?

“Iya, gue gak boleh ke rumah lu katanya. Katanya kalau gue kesana dia akan marah beralasan sama gue.” Kata-kata Riza tidak aku terima dengan sempurna. Aku hanya memandang dia yang seakan sedang menggodaku. Hannya mmengenakan kaos putih dan celana pendek. Dia menatapku dengan wajah manyun yang sedang marah. Dan bagiku itu sangat menggemaskan.

Seperti sebuah film, aku merasakan sekelilingku berhenti. Aku menatap dia yang seolah sedang berbicara, tetapi aku hanya terpakut kepada bibirnya yang merah. Dia mendekat kepadaku, berjalan perlahan. Aku yakin ada yang dia katakan tetapi sekali lagi aku hanya terdiam. Dia semakin mendekat dan terus mendekat. Dan ketika dia menyentuh telapak tanganku yang sedang memegang jeansnya. AKu merasakan ledakan luar biasa.

Seperti kecepatan kilat. Aku menarikanya lalu mendorongnya ke kasur. Menatap matanya yang berada dibawahku. Dia berada dibawahku dan lenganku menjaga jarak agar aku tidak membebani tubuhku ke tubuhnya. Dia terlihat sangat terkejut dengan semua ini. Aku menatapnya diam dan mulai menghapus jarak antara aku dan dia. Perlahan aku menurunkan badanku, dan jarak kami semakin dekat. Aku bisa mencium aroma keju dan coklat dari mulutnya.

“Cha, what are you doing?” dia menahan dadaku agar tidak semakin dekat.

“Cha, I feel your junior wake up. So please, menjauh dari gue” Dia mencoba mendorong tubuhku. Tapi dia kurang cukup besar untuk melawanku.

“Kalau dia wake up, so what? Terganggu?”

“Oh may gosh, cha! Jangan macem-macem sama gue.” Aku melihat wajahnya yang panik dan sangat marah. Aku melihat di matanya ada rasa kecewa dan itu menyadarkan aku dari semua kegilaan ini.

Aku segera bangkit dan duduk disampingnya.

“gila lu ya!” Riza melempar jeansya kearahku.

“keluar dari kamar gue”

Aku mendengar kekecewaan dari suaranya. Aku menjadi merasa bersalah. Otakku mulai mencari alasan agar memperbaiki keadaan.

“Hahahhahaha your face! Gue mau foto rasanya! Hahahahah” aku tertawa sangat kencang. Dan Riza hanya menatap ku bingung.

“Easy dude, gue mencoba menghibur suasana hati lu. Dan tenang ajah ini Cuma kunci mobil yang gue kantongin”

“Gak lucu! Monyet lu!” dia sangat kesal dan aku melihat ada ketenangan di wajahnya. Wajahnya menjadi merah padam.

“yaudah ketawa dong. Happy dong!” Aku memberikan celana yang di lempar tadi.

“Bodo amat! Jadi pergi gak?”

“Gue jadi, tapi lu nggak.” Aku menyentil hidungnya

“Why?”

“gue gak mau nanti di cap sebagai perusak hubungan orang. Gue menghormati andre dan gue sayang sama lu. Jadi gue gak mau merusak hubungan kalian.” Aku mencoba tersenyum tetapi ada perasaan aneh di dadaku.

“Jangan keras kepala. Kalau lu mau hubungan lu berhasil. Ya harus singkirkan ego masing-masing. Dan mencoba mengerti satu sama lain. Bukan cuma andre mengerti lu, tetapi lu mengerti andre. Dia marah karena lu jalan sama gue wajar. Karena dia cemburu. Sekarang giliran lu mengerti kecemburuannya. Dan buktikann kalau dia berarti buat lu. Okay?” I feel my heart breaks ketika gue ngomong hal itu. Riza tersnyum dan memelukku.

“Thanks bro.”

“its okay hon” kataku dalam hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s