Aku Kamu dan Dia

Dongeng seorang gay

Riza

 

Kenikmatan dunia mana yang bisa di dustakan lagi? Bangun tidur dengan suara ombak, tidur di pelukan orang yang kita sayang dan pemandangan laut yang terlihat dari kamar? Pagi ini terasa sangat nikmat dan luar biasa.

Aku dan Andre mengambil waktu cuti kami selama seminggu dan memutuskan untuk pergi ke Jogja. Mungkin ini memang sangat dibutuhkan untuk kami. Disamping untuk memperbaiki hubungan kami yang terlalu sering berantem. Kami memang butuh liburan dari kerjaan.

“Morning” aku mencubit hidung Andre yang masih tertidur. Dia hanya mengguman tidak jelas dan mengabaikan aku.

“ih kebiasaan nih gendut. Mau liat sunrise gak sih?” aku memukul dadanya. Mencoba membuat dia tersadar. Tetapi usaha sia-sisa. Akhirnya karena tidak mau melewatkan sunrise, akhirnya aku pergi kke pantai sendiri.

Andre memesan sebuah kamar yang mempunyai akses ke pantai langsung. Entah dia menemukan tempat ini dari mana. Yang penting ini sangat indah.

Angin pagi yang dingin mulai menyerbu ketika aku memasuki pantai. Pasir yang lembut meningalkan jejak kaki yang akan tersapu oleh ombak. Langit belum terang, tetapi sudah ada beberapa orang yang mulai duduk di pantai. Menantikan matahari memulai pertunjukan paginya.

Dengan selembar daun aku duduk di tepi pantai. Menikmati semua keindahan yang jarang ditemui oleh orang kota. Tidak berapa lama aku duduk, andre tiba disampingku dengan membawa segelas coklat milo panas.

“kok aku ditinggal sih? Kenapa gak dibangunin?” Andre duduk disampingku. Wajahnya masi terlihat mengantuk.

“Tanya saja pada cicak di dinding. Aku bangunin kamu apa nggak.” Aliran coklat panas memasuki tubuhku. Memberikan kehangatan di dalam. Tangan Andre yang merangkulku menambah kehangatan. Dan mampu mengalahkan semua rasa dingin.

“I love you” andre tersenyum

“I know. And I love you more” aku semakin mendekatkan tubuhku.

“Maaf kalau akhir-akhir ini aku sering mikir hal gila tentang kamu dan semua teman kamu. Itu semua karena aku terlalu sayang sama kamu. Tidak pernah aku merasakan mencintai dan dicintai seperti ini. Kamu sangat berarti buat aku” aku bisa mendengar detak jantung andre yang berdetak cepat.

“iya, aku juga minta maaf kalau aku keras kepala. Dan makasih kamu udah mau terima aku apa adanya” dunia terasa milik berdua. Benar-benar berdua. Hanya ada aku dan dia.

“Aku juga terima kasih” suara andre begitu sangat lembut. Membuat aku sangat merasa nyaman untuk berada didekatnya

“Kayaknya kita udah ngomong hal ini semaleman. Udah lah gak usah lenje”

“gak apa sih. Kan kondisinya lagi romantic. Kamu mah patahin suasana” Kami berdua tertawa. Lalu tiba saatnya pertunjukan dimulai. Matahari mulai muncul dari balik panggung. Semua terdiam dan menikmati pertunjukan alam.

***

Echa

Hari ini terasa bosan. Sepertinya ada yang hilang. Aku hanya memainkan handphone ku tanpa ada yang jelas.

“Cie, lagi kangen sama Riza” Seorang temanku menyenggolku. Aku sudah open tentang sex orientedku kepada keluarga dan teman. Jadi mereka tau kalau aku sedang suka dengan Riza.

“Apasih lu. Pergi lu” aku menendang dia menjauh. Meskipun aku sedang kumpul dengan temanku. Aku merasa bosan. Dan ya benar, karena tidak ada Riza.

Biasanya ketika kami kumpul Riza selalu paling bawel. Selalu menemukan obrolan, selalu menjadi yang paling membawa suasana. Tetapi sekarang semua sibuk sendiri dengan gadget dan film.

“yaudah sih cha. Riza itu udah ada yang punya. Kenapa sih lu gak move on ajah?” seorang temanku menghampiri.

“gak usah suru gue move on. Kalau lu sendiri belom bisa move on dari mantan lu” aku mengabaikan dia. Asik dengan handphonne. Tetapi sepertinya sikapku tidak menyurutkan mereka untuk menasehati ku..

“iya cha. Sorry ya, bukannya gue mau jelek-jelekin temen kita sendiri. Tapi menurut gue, dengan tampang lu. Lu bisa dapet yang lebih baik dari Riza. Lu ganteng, kaya, keren. Cewek sama cowok bakal terkapar sama lu.” Semua ikut menimpali. Aku hanya mendengaran. Bener sih apa yang dikatakan mereka

“menurut gue Riza sama Andre udah cocoklah. Sorry ya, dari tampang udah pas lah. Hahaha” semua tertawa. Aku tetap terdiam. Sebenarnya ada benarnnya dari omongan mereka. Banyak orang mengantri untuk menjadi pacarku. Kalau aku buka aplikasi grindr pasti selalu ada chat dari berbagai macam berondong unyu yang keren.

Tetapi apa yang aku rasakan ke Riza berbeda. Dia memang tidak semenarik berondong unyu kebanyakan. Tetapi aku seperti ada hutang budi terhadap dia yang membuat hatiku terpaku sama dia. Dan membuat aku ingin menyayangi dia, melindungi dia, dan memberikan yang terbaik untuk dia.

Dan sikapnya sangat berbeda dari kebanyakan berondong unyu. Mereka manja dan gemulai. Terlalu seperti cewek. Kalau Riza, dia memang bawel seperti perempuan. Tapi dia sangat tangguh. Tidak manja, tidak gemulai, dan pokoknya aku suka dia. Titik!

“cha, gue sarankan mendingan lu cari cowok lain. Jangan Riza mulu dipikiran lu”

“Riza adalah alasan pertama gue ada di komunitas ini. kalau gue cari yang lain, lebih baik gue minggat dari sini” aku bosan mendengar perkataan mereka. Aku mulai mengamati timeline instagram.

“sepertinya anak itu lagi online. Upload mulu liburan sama si kucrit item” pikirku. Dan ada satu foto yang menarik perhatianku.

Terlihat Riza sedang telanjang dada dikamar dan dipeluk oleh si kucrit item dari belakang. Aku tidak peduli dengan pemandangaan yang terpantul atau tidak peduli dengan semuanya. Yang dipikiranku langsung tertuju hal yang liar.

Aku merasakan panas didalam dadaku. Wajahku mulai memerah dan aku merasa seperti mau meledak.

“cha, lu dengerin kita gak sih?” tanganku ditarik oleh Dion.

“ah? Apa?”

“iya cha, kalau gitu. Ya lebih baik lu cari pasangan diantara kita. Gan gue rasa ada yang lebih pantas dapetin lu. Yang lebih baik” Dion menggengam tanganku. aku tau dia memliki rasa kepadaku.

“contohnya gue cha. Gue lebih baik kok dari Riza” aku merasakan kemarahankku memuncak. Aku seperti meledak.

Seketika aku tarik dion lalu menciumnya. Semua langsung bengon gmelihat adegan itu. Aku melihat wajah dion memerah.

“Lu gak akan pernah lebih baik dari Riza. Dengan cara lu menjelekan dia itu udah membuktikan kalau dia sangat jauh laebih baik” aku banting handphoneku ke lantai. Dan membuat semua orang ketakutan.

“Terus kenapa lu harus cium gue!” Dion bangkit dan menantangku.

“Biar lonte macam lu seneng di cium cowok keren dan ganteng kayak gue” aku segera pergi.

Aku merasakan ledakan luar biasa. aku tidak bisa berfikir rasional. Aku merasakan semua hal yang ada di sekitar ku salah. Aku ingin memaki seua orang. Aku ingin tonjok wajah andre yang telah memacari Riza. Dan aku yakin pasti sudah terjadi sesuatu dikamar itu selama seminggu.

Kenapa semua orang bisa menghakimi tanpa mau dihakimi? Kenapa memangnya dengan orang ganteng menyukai orang biasa? Memangnya Cuma ada di dongeng? Memangnya aku tidak boleh menyukai siapapun?

Aku melajukan kendaranku dengan kecepatan tinggi. Aku ingin sekali menyusul ke jogja malam ini juga.

“Argh!!!!”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s