Aku Kamu dan Dia

Fight

Echa

“Makanya gak usah sok jadi pembalap. Nabrak kan jadinya.” Riza muncul dari balik pintu. Dengan senyuman khas dia menghampiri ku.

Kejadian malam itu membuat aku hilang kendali. Dan membuat aku harus dirawat di rumah sakit karena ada tulang tanganku yang mengalami keretakan akibat menyerempet sebuah motor dan menabrak pagar pembatas.

“emang ya Ri. Bandel gak bisa dibilangin. Tante sampe capek nasehatin dia.” Mamaku sudah cukup dekat dengan Riza. Karena kami sudah berteman lama dan Riza yang terlalu caper dengan semua orang.

“Kalian kenapa bawel sekali sih?” aku mengganti chanel tv. Mencoba mengalihkan pandanganku dari Riza. Aku kangen kepada anak itu. Tetapi ada perasaan cemburu bila mengingat dia sudha milik orang lain.

“Tuh Ri, liat kan? Coba kamu bilangin. Siapa tau lebih kena.”

“Waduh Mah, aku sudah capek. Emang anaknya bebal.” RIza dan mamaku tertawa. Aku hanya terdiam menahan tawa. Karena sudah terlalu dekat. Riza menganggap mamaku sebagai mamanya. Kalau menurutku seperti menantu dan mertua.

“Mana oleh-oleh buat gue?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Dan berhasil

“Sudah ada dirumah lu. Udah gw kasih mama” aku menatap mamaku dan dia mengangguk.

“Kan oleh-oleh buat gue. Kenapa dikasih ke mama?”

“DIh siapa yang bilang? Kan gue kasih buat mama” Riza duduk disampingku lalu mengusap tanganku yang di perban. Sepertinya aku merasa sudah baikan.

“Yaudah, mama tinggal dulu ya. Mau cari makan. Kalian berdua dulu. Ri, mama titip Echa ya” Dia memang orang tua terbaik. Dia mengerti kalau aku sedang ingin berdua dengan Riza.

Ketika mamaku sudah hilang dari balik pintu, aku memeggan tangan Riza yang sedang memainkan perbanku. Dia berhenti lalu menatapku dengan heran.

“Oh iya Cha, di depan ada korban kamu tuh. Mama yang suru kesini. Kamu selesaikan permasalahannya. Kasihan dia” Mamaku muncul kembali dan terlihat sedikit canggung ketika melihat kondisi kami yang sedang tatap-tatapan

“Oh, nanti ajah” dia segera berbalik arah. Aku merasa kesal dengan itu. Tetapi karena aku mau semua masalah segera selesai. AKu panggil dia kembali.

“Suru masuk ajah mah. Biar cepet beres.”

“Oke, maaf ya” Dia senyum nakal kepadaku. Aku hanya memberikan tampang bête

Hezekiel

Kondisi sekarang terlihat sangat awkward. Aku melihat Riza dengan pelaku yang telah menabrak motorku. Dengan kondisi berpegangan tangan. Aku menjadi tau, jadi dia yang bernama Andre.

“Hezy? Jadi ternyata orang yang nabrak motor lu si monyet ini?” Riza terlihat sedikit terkejut melihatku lalu melepaskan tanganny.

“lu kenal sama dia?” Lelaki yang bernama andre menarik tangannya kembali.

“Dia temen kantor gue. Oh jadi lu ya pelakunya! Motor dia rusak –gara lu! Ganti cepet yang baru”

“Hahaha gak rusak parah sih. Cuma beberapa bagian harus diganti. Tapi it’s okay.” Aku sedikit binngung dengan kondisi disini. Suasana semakin aneh.

“Yaudah nanti bilang ajah. Biar diurus sama orang gue. Sorry ya. Lu gak apa-apa?” Lelaki itu memegang tangan Riza terus. Riza menarik lalu ditarik kembali.

“Kalian pacaran?” Tiba-tiba pertanyaan konyol keluar dari mulutku. Dan aku merasa sangat bodoh. Wajah mereka sangat kaget. Dan mereka menjawab sangat cepat. Tetapi jawaban mereka berbeda. Riza berkata bukan tetapi lelaki itu menjawab iya. Lalu mereka ribut kembali berdua.

“yaudah gue mau nyusul mama ajah. Hezy, mendingan lu minta motor baru. Okay?” Riza meninggalkan aku berdua dengan laki-laki bernama Andre itu.

“Oh iya. Gue hezekiel. Sorry baru kenalin. Dan gue rasa masalah udah beres kali ya?”

“Oh gue Echa. Gue rasa sih udah beres. Nanti lu ngomong sama orang gue yang kemarin ngurus. Inget kan orangnya?”

Aku menjadi bingung sendiri. Dia bernama Echa? Lalu andre yang mana?

“Jadi lu bukan Andre?” sekali lagi. Pertanyaan bodoh keluar meluncur seperti roket menghujam ruangan ini.

“Hah? Maksudnya?” mampus gue!

“Andre? Lu kenapa ngira gue andre? Tau apa tentang Andre?” Oke fix. Gue mati.

“ehh.. sorry. Gak apa-apa. Soalnya gue denger mama lu tadi manggil lu Andre.” Echa terlihat sangat tidak percaya dengan jawabanku.

“Lu stalking Riza? Ada apa? Lu suka sama Riza?” AKu rasa dia seorang pembaca pikiran. Dia menembakku tepat di jantung.

“Kenapa lu bilang gitu? Gak lah. Gue cuma salah denger nama lu kok.”

“ Jangan bohong atau gue gak bakal ganti motor lu. Kenapa lu bisa ngira gue bernama Andre?”

Aku membeku aku tidak tau harus berkata apa. Kenapa aku menjadi bodoh seperti ini? Kenapa mulutku terbiasa untuk melontarkan pertanyaan bodoh?

“oke, gue pernah liat handphone Riza. Dan ada chat mesra dari nama Andre. Gue kira lu pacarnya dia dan lu bernama Andre”

“hmmm. Ngapain lu kepo sama handphone Riza? Gak sopan! Ngapain lu liat-liat chat orang?”

“karena gue penasaran ajah sama dia”

“kenapa lu penasaran sama dia? Lu suka sama Riza?”

“Iya”

Ketika jawaban keluar. Ruangan mendadak menjadi sepi. Aku bingung kenapa aku menjawab iya? Dan Echa langusng memberikan tampang menyeramkan. Sekali lagi mulut inin sangat bodoh!

“langkahin dulu mayat gue kalau mau deket sama Riza.” Panik! Itu kondisiku saat ini. aku bodoh sekali

“bukan, maksud gue bukan suka seperti itu. Gue bukan gay. Jangan salah sangka!”

“gak usah ngelak! Awas kalau lu mau coba rebut Riza. Karena sekalipun Riza available, gue yang berhak untuk milikin dia”

“Available? Maksudnya?”

“dia udah pacaran sama Andre. Dan gue lagi nunggu dia putus. Jadi lu jangan mencoba ganggu.”

Aku bisa bilang aku tidak memiliki rasa kepada Riza. Tetapi hatiku seperti teriris ketika mendengar Riza sudah memiliki pacar. Apa benar aku mencintai Riza? Jadi aku gay?

Ruangan mendadak hening. Tubuhku terasa lemas. Aku ingin segera tidur. Melupakan semua ini. Echa mengamatiku seakan mencari sesuatu didalam diriku.

“It’s okay if u a gay. Terima ajah, gak usah nolak diri lu yang sebenarnya. Karena Cuma bikin lu gak sayang sama dirilu. Dan menyiksa diri lu.” WAjahnya mendadak berubah. Dia menjadi terlihat baik. Aku rasa ada hal yang dia sembunyikan

“Dan kalau lu emang suka sama Riza. Jangan menolak rasa itu atau lu bakal kehilangan satu bagian dari hidup lu. Lu suka Riza? Gak apa-apa. Dia sudah pacar? GAk masalah. Karena mereka akan putus. Dan kita punya kesempatan. Mau berjuang bareng sama gue? Kita buat mereka putus”

AKu tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Aku mematung di samping tempat tidur. Dan laki-laki itu tersenyum. Tersenyum licik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s