Aku Kamu dan Dia

Coming out and OUT!

Andre

Untuk beberapa bulan ini sepertinya aku merasa ada yang aneh dengan Riza. Susah sekali untuk diajak ketemu. Selalu ada jadwal. Entah dengan Riza temen kantor, Hezekiel, atau orang tua. Aku kangen sekali dengan si jelek satu itu.

Jadi kapan kamu gak sibuknya sayang? Aku kangen kamu

Aku lihat tanda chat itu langsung berubah menjadi R. Tumben sekali anak itu merespon cepat.

Aku juga! Kita ketemu malam ini ajah gimana? Kamu lembur?

Hari ini? Sekarang sudah jam 8. Aku rasa kurang untuk melampiaskan kangenku mendengar bawelnya yang kangenin.

Sekarang? Udah malam. Yakin?

Yakin sayang. Dari pada gak ketemu. Aku kangen kamu. Sabtu ini aku mau anter Hezy ke Echa. Katanya mau ngurus apa gitu.

Aku merasa ada yang aneh dengan Hezy itu. Kenapa dia harus melibatkan Riza dengan urusannya? Aku ingin bertanya, tetapi lebih baik aku tanya langsung. Kalau di chat pasti akan berantem. Akhirnya aku setuju untuk bertemu dia. Kangen sekali dengan dia.

Dan ketika melihat dia keluar dari pagar. Aku melihat seorang laki-laki biasa. Tidak ada yang menarik bila melihat anak itu. Tetapi dia sangat menarik sifatnya dan membuat semua orang tertarik kepada dia. Dia tidak tampan. Wajahnya pas-pasan, tidak memiliki muscle cenderung kurus dan tidak juga kaya. Tetapi yang aku bingung, banyak orang yang kenal dia akan jatuh hati. Dan membuat aku kelabakan untuk menjauhkan mereka semua.

Dia memiliki banyak kenalan pria. Dari yang tua sampai yang muda. Dari yang tampan sampai terjelek. Dari yang biasa ajah sampai luar biasa. Dan ternyata aku yang mampu mengisi hatinya? Aku menatap wajahnya yang sekarang sudah berada disamping motor ku.

“Yuk” katanya riang

***

Hezekiel

Aku menatap seorang temanku yang terlihat sangat memperhatikanku.

“Kenapa lu bisa terjun kedunia seperti itu? Lo tau itu salah kan? Tuhan itu menciptakan Adam dan Hawa. Itu udah tertulis di Alkitab. Kenapa sekarang lu malah ngaku sama gue kalau lu gay?”

Aku merasa semua pergumulan ini sangat berat untuk aku. Sebagai orang yang religious aku tau ini semua salah. Tetapi aku tetap manusia Aku gak bisa menolak perasaan ini. Demus, dia orang yang sangat aku percaya. Dia sudah mengetahui semua masalahkuu dari yang sepele sampai luar biasa. Dia selalu mempunyai solusi yang tepat.

“Gue tau mus. Tapi seperti yang gue bilang. Gue memilih. Tetapi perasaan ini yang datang sendiri. Gue udah berdoa, gue udah menentang. Tetapi semua sia-sia. Gue udah bergumul dengan masalah ini lama.”

“Tapi bukan berarti lu harus nyerah dan mendeklarasikan diri lu sebagai gay kan? Gay itu penyakit!! Itu dosa! Lu udah tau kebenaran itu kan? lu udah mengecewakan Tuhan Hez.” Ketika dia menyebut mengecewakan Tuhan. Ada sesuatu yang hancur didalam hatiku.

“Hez, lu harus menjauh dari dia. Jangan dekat-dekat lagi sama dia. Karena gue gak mau nama pengurus gereja jadi ancur gara-gara lu. Karena seorang gay. Dan gue gak mau punya temen gay.”

Selama ini aku merasa Demus adalah orang yang sangat bijak dan selalu menghadapi semua masalah dengan tenang. Tetapi kali ini dia sangat terlihat marah. Dia menatap mataku dengan jijik. Aku tau ini adalah salah satu respon dari orang-orang normal. Dan karena ini pengalaman pertama, aku merasakan sakit yang sangat luar biasa. Aku merasa sudah sangat kotor, hina dan sangat tidak layak.

Demus meniggalkanku. Dan aku tidak pernah bisa bertemu dengan dia lagi setelah hari ini. Dia selalu menghindar dariku. Dan aku bisa tau itu karena apa. Karena aku gay. Dan yang membuat aku kembali sakit adalah beberapa teman demus seperti mengetahui hal ini. Mereka menatapku dengan pandangan berbagai macam. Ada yang aneh, jijik, kasihan dan menggoda.

Kasih? Aku rasa itu cuma motto basi yang ada di gereja. Mereka sudah kehilangan apa arti dari mengasihi. Aku rasa, apa yang aku rasakan ke Riza adalah kasih. Aku tidak pernah memikirkan hal macam-macam. Aku ingin melindungi dia, menjaga, membuat dia tertawa dan selalu bersama. Hanya itu. Tetapi aku merasakan mereka melihatku dengan pandangan

Dia sudah berzinah. Dia gay, sudah pasti masuk neraka

Dan yang membuat aku semakin sakit hati dengan gereja ini adalah ketika aku berkumpul dengan pengurus gereja. Aku dipanggil di sebuah ruangan. Didalam sana sudah ada petinggi pengurus dan anggota.

“Kami rasa, Lu butuh istirahat dari semua ini. Sebelum lu menemukan dirilu yang sebenarnya. Lu harus cuti dari pelayanan. Kami bukan lingkaran yang tepat untuk lu saat ini.” Ketua pengurusku seperti tidak enak hati mengatakan hal itu. Dia hanya menatap kertas di tangannya. Tidak berani menatapku langsung.

“Kenapa? Karena rumor karena gue gay?”

“itu salah satunya. Kami sudah dengar dari demus. Dan kami mau menolong lu Hez. Tetapi tetap, semua pelanggaran ada konsekuensi.”

“Pelanggaran? Apa yang gue langgar? Gue hanya mempunyai rasa dengan seseorang. Gue tidak melakukan hal salah. Gue berzinah? Nggak!” semua orang menatapku. Aku balas mereka satu-satu. Aku merasakan penghakiman di wajah mereka.

“Iya kita tau. Tetapi menyukai sesame jenis itu salah. Dan dari hal itu akan menuju ke hal zinah” Salah seorang temanku berkomentar. Andy namanya. Dia memang orang yang sangat taat agama. Dia mengalami perubahan luar biasa ketika dia memasuki dunia gereja.

“Kenapa salah? Gue sayang sama dia tulus apa-adanya. Gue gak pernah memikirkan hal macam-macam. Memikirkan hal zinah seperti yang kalian pikirkan. Toh selama ini kita diajarkan untuk mengasihi kan? dan ketika gue udah benar-benar mengasihi seseorang itu salah menurut kalian?

“tetapi kasihnya lu itu salah. Bukan seperti itu yang diajarkan alkitab.” Seprtinya ini menjadi debat kusir antara aku dan Andy.

“lalu apa yang diajarkan alkitab? Mengasihi hanya orang tertentu? Menjauhi orang yang berdosa? Oke gue akui gay itu dosa. Lalu kalian mau menjauhi gue?” semua terdiam. Tidak ada yang berkomentar. Tetapi apa yang diucapkan Andy selanjutnya membuatku meledak.

“kebiasaan buruk akan merusak kebiasaan baik. Teman yang buruk akan mempengaruhi teman yang baik.” Dia seperti menganggap enteng hal yang dia katakana. Tetapi aku merasakan tonjokan luar biasa

“oh oke. Kalian baik, okay. Bergaulah dengan orang baik saja. Dan ketika kalian tau ada teman kalian yang buruk, jauhi saja. Biar kalian tetap menjadi orang baik. Menjadi baik saja dilingkungan kalian sendiri. Tidak perlu menjadi baik di dunia ini. percuma kalian dengar kebaktian untuk menjangkau jiwa. Tetapi kalian hanya mau berteman dengan orang baik. Dan orang berdosa? Kalian tinggalkan, kalian lupakan. Pantas saja semakin banyak orang berdosa. Tidak ada yang mau menjangkau mereka. Karena orang benar sibuk dengan komunitas benar mereka”

Aku mengambil barang-barangku. Lalu meninggalkan mereka. Dan sebelum keluar ruangan aku menatap mereka kembali. Ada beberapa wanita yang menangis melihatku. Ada yang geleng-geleng. Tetapi aku menatap Andy yang terlihat sangat arogan. Menganggap apa yang dia katakan itu luar biasa. dan aku menatap Demus si mulut ember. Dia tidak mau menatapku.

“terimakasih untuk idenya untuk berzinah. Dan demus? Thanks udah menjadi teman yang buruk untuk menyebarkan semua masalah teman dekat lu.”

***

Echa

“Jadi kita jadi mau hiking?” aku dan beberapa orang di group belok merancanakan untuk hiking gunung. Dan group belok bertambah satu anggota. Hezekiel.

“Boleh, mau kapan?” dalla hanya menjawab tetapi tangannya menatap tetap menatap game di TV. Dan yang lain hanya mengangguk.

“disana ngapain ajah?” Hezekiel si anak baru duduk saja menyendiri. Dia sedang membiasakan dengan lingkungan ini. Kami sudah mendengar apa ayng dialami dia di gereja minggu lalu. Kami rasa, dia mengalami perubahan 180 derajat

“Ya hiking dong sayang. Kita gak akan sex party kok. Kita tau kok mana yang benar dan salah. Tapi ketika kamu salah kita tidak akan menolak kamu” mendengar itu Riza langsung melempar remote ke Mona.

“Gak usah kompor. Gak usah di ungkit” Riza memeluk tangan Hezekiel. Ingin aku langusng tarik itu anak. Tetapi kerana Hezekiel sedang membutuhkan itu, aku membiarkan saja.

“Jadi saingan Andre tambah satu lagi ya? Laku bener ya Riza” Dion asik dengan mewarnai kuku masih semapat untuk memberikan sarkas. Dan bisa aku tebak pasti. Riza tidak akan mengerti apa yang dimaksud, dan tidak akan mengerti kalau Hezekiel menyukai dia.

“Kenapa? Maksudnya?” dengan wajah polosnya Riza memperhatikan Dion. Tetapi Hezekiel langusng menarik wajah Riza untuk segera menatapnya ugh!!

“Back to topic! Jadi siapa ajah yang mau? Dan kapan? Kita harus out sebentar dari rutinitas ini” aku sedikit teriak untuk meringankan suasana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s