Aku Kamu dan Dia

Perlahan

Hezekiel

Aku melihat Riza dekat sekali dengan pacarnya, Andre. Sepanjang jalan pendakian kami, mereka selalu bergandengan tangan. Padahal kalau dikantor dia menggandengku.

“kamu beneran kuat kan?” Andre menanyakan hal yang sama berulang kali. Aku rasa dia tidak mengenal Riza dengan baik. Riza itu anak yang kuat. Meskipun dia kurus, tetapi staminanya sangat luar biasa. dia tidak pernah mengeluh, tetapi si andre terus saja menanyakan hal yang sama. Memang Riza terlihat lelah, tetapi dia sangat senang. Dia terus saja melakukan foto pemandangan.

Aku masih merasa aneh berada di lingkungan ini. Mungkin karena aku baru berada dilingkungan mereka. Aku merasa sendiri disini. Riza yang aku kenal asik dengan Andre. Terkadang Echa menghampiri mereka. Atau kadang Echa dengan Dalla, Mona, Hanny. Aku hanya berjalan mengikuti Dion dan beberapa yang aku lupa namanya.

“Hezy” panggilan itu membuat aku menjadi senang. Riza menghampiriku lalu menggandeng tangankku. Dan ternyata pertanyaan Andre itu sangat tepat. Riza terlihat sangat lelah. Nafasnya tersengal-senngal. Dan sedikit pucat.

“lu capek banget kayaknya. Mending istirahat dulu deh” sepertinya perkataanku terdengar Echa yang berada di paling depan. Dia langsung bergegas menghampiri aku dan Riza.

“Kita istirahat disini deh mendingan. Gue udah bilang. Kalau emang mau hiking, lu gak boleh paksain diri lu sendiri” Echa terlihat sangat panic. Dan aku rasa itu sangat berlebihan. Karena memang semua sudah sedikit lelah. Butuh istirahat. Tetapi sepertinya perhatian kepada Riza memang lebih disini.

“Yaudah kita istirahat. Gila lu ya RI. Lain kali bilang kalau mau istirahat” Hanny memberikan minumannya. Tetapi di tolak Riza, karena dia punya minumannya sendiri. Riza hanya tertawa ringan melihat semuanya panic. Hanya aku dan Dion yang biasa saja. Aku karena tidka mengerti dan Dion karena tidak suka dengan Riza.

“Nanti Riza jalan sama gue. Gak guna jalan sama lu. Gak bisa jagain dia. Kalau lu liat dia kecapean langsung kasih tau gue dong. Jangan paksa dia buat jalan” Echa mengampiri Andre yang disamping Riza.

“Dia bilang dia bisa. Dan gue yakin dia bisa.” Andre tidak senang Echa seperti menyalahkan dia.

“Drama dimulai” Dion berbisik.

“Udahhh! Bukan salah andre. Lagian karena gue emang suka sama keadaan sekitar jadi gak kerasa capek. Emang gue gak capek kok. Udah lah. TApi emang tempatnya tepat buat istirahat ini” Riza menatap sekitar. Dia mencoba menyairkan suasana, dan berhasil.

Semua menatap sekitar, termasuk aku. Kami berada di pohon-pohon yang tinggi. Dan sangat tenang ketika semua tidak mengeluarkan suara. Mendadak suasana yang tegang menjadi tenang. Kicau burung dan suara angina memang sangat menenangkan.

Kami memutuskan untuk beristirahat disini. Kami berbagi tugas. Echa, RIza dan aku mendirikan tenda. Mona dan hanny menyiapkan makan malam. Selebihnya mencari kayu bakar. AKu melihat Dion menghampiri Andre. Entah apa yang di bicarakan.

Tenda sudah berdiri beberapa. Dan api sudah mulai dinyalakan. Tetapi ada yang aneh, aku tidak melihat andre dan dion balik dari mencari kayu bakar.

“Hezy liat Andre?” aku sedang duduk di sekitar api unggun di hampiri Riza. Dia mengenakan jaket tebal dan selimut. Dia kurus jadi sangat mudah di serang kedinginan.

“Tadi gue lihat nyari kayu bakar sama Dion. Tapi belom balik kayaknya.” Aku memberikan minyak angin, tetapi dia malah memeluk tanganku. aku bisa melihat Echa memberikan pandangan tajam kepadaku. Aku tidak peduli. Toh aku memang bersaing dekat dengan Echa untuk merebut Riza.

“Dalla juga belom balik sih sama pacarnya. Nyarinya kejauhan kali ya? Takut nyasar gue mereka” ada kekhawatiran di nada Riza. Aku ingin merebut Riza dari Andre. Tetapi aku rasa sekarang Riza butuh Andre.

“Yaudah gue cari ya? Siapa tau dia kesasar.” Aku memanggil Echa yang memang sedang memperhatikan kami

“Kenapa?” Echa dengan pandangan tajam mencoba mengintimidasiku

“Kayaknya Andre, Dion, Dalla sama pacarnya nyasar. Mereka nyari kayu gak balik. Lu udah terbiasa kan dengan hiking. Gue takut nyasar kalau cari sendirian” Echa menatap Riza yang meringkuk di tanganku. dia sebal, tetapi aku tau dia peduli melihat Riza Khawatir.

Dua orang bodoh. Kami sama-sama menyukai orang yang sama. Sama-sama berusaha untuk membuat dia putus dengan pacarnya. Tetapi seakrang kami sama-sama mencari pacarnya untuk bersama dengan Riza.

Aku hanya berjalan dibelakang Echa. Dan membantu dengan melihat sekeliling. Siapa tau ada perunjuk untuk mereka. Aku melihat Echa dari belakang. Dia memiliki badan yang sangat atletis. Dia sosok lelaki idaman sesungguhnya. Dia memiliki wajah tampan, kaya, body atletis dan sangat cowok dengan segala hobbynya.

“Kenapa lu bisa keduluan Andre? Padahal lu kenal dia lebih dullu?” aku mencoba mencari obrolan

“Karena dulu gue gak suka sama Riza. Kurus jelek dan aneh. Dan gue udah ada pacar.” Echa berjalan pelan. Dan berusaha sejajar denganku. “tetapi sekarang gue malah di buat tergila-gila sama dia. Bingung gue” dia mencabut daun di sampingya dengan kasar.

“Kenapa sekarang bisa suka sama dia?”

“Hmmm karena semakin gue kenal, semakin gue jalan. Dia mempunyai pemikiran yang sangat pintar. Gak seperti mantan gue. Cuma mikirin kontol dan lobang” aku sedikit risih mendengar kata Echa.

“Dan Riza itu sangat special. Dia itu semacam berkat yang mampu memberkati orang di sekitarnya. Dari kisah hidupnya, perkataannya, tingkahnya dan semuanya. Dan itu yang membuat gue mau menghabiskan hidup gue sama dia. Dan gue akan perjuangkan itu.” Dia menatapku tajam. Aku tau dia tidak suka kalau aku suka dengan Riza. Aku hanya tersenyum dan dia lanjut jalan di depanku.

“Kalau lu kenapa suka sama Riza?” Echa menatapku kembali

“Gue? Gak tau sih. Terjadi begitu saja. Gue gak tau seperti apa dunia gay gue masih sangat baru. Yang gue tau, gue sayang sama dia sangat. Itu ajah” Echa bengong melihatku. Lalu mengangguk.

“Gila ya si jelek itu. Gue rasa dia main dukun nih. Asal lu tau, selama 5 tahun gue kenal Riza. Banyak yang suka sama dia. Banyak yang gugur. Lu tau karena siapa?” aku tidak perlu menjawab. Aku hanya memberikan tatapan meledek Echa. Aku tau pasti dia yang membuat mereka mundur. Echa hanya tertawa terbahak-bahak.

Kami sudah cukup lama mencari. Aku mulai panik. Aku rasa mereka beneran nyasar.

“gue rasa yang lain harus ikut nyari deh. Gawat ini mah kalau kayak gini” aku hanya mengangguk setuju. Dia memiliki aura leader. Jadi aku hanya mengikuti apa yang dia katakan.

Ketika kami mau balik ke tenda kami. Kami mendengar suara Dalla tertawa. Echa langsung berlari kearah tersebut. Dan benar, dalla dan pacarnya sedang berjalan berdua.

“Dari mana lu gila! Gue kira lu nyasar! Kalau mau pacaran bilang!” Echa terlihat kesal. Dalla terlihat ketakutan. Dia hanya meminta maaf, begitu juga pacarnya.

“Liat andre sama dion gak?” aku melerai Echa yang terlihat ingin menguliti Dalla.

“Nggak. Emang mereka juga mencar? Masa mereka main nakal juga?” aku tidak mengerti maksud dari Dalla. Aku melihat Echa sedikit kesal dan panik.

“yaudah, kita pencar. Gue sama hez. Lu sama pacar lu. Nanti ketemu di tenda sekitar 30 menit. Ketemu atau nggak.” Kami mengangguk mendengar perintah dari Alpha kami. Lalu semua berpencar.

***

Riza

Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Aku merasakan sakit luar biasa. Aku merasakan hatiku teriris sangat panjang. Tetapi aku juga merasakan perasaan bersalah dengan kejadian ini.

“Beneran kayak gitu kejadiannya?” Mona berbisik di sampingku dengan Hezy yang baru saja datang. Hezy mengangguk. Lalu menghampiriku.

“Echa mau lu keluar. Yuk keluar.” Hezy menggengam tanganku. Aku terlalu takut untuk melihat itu semua. Aku mau segera balik ke Jakarta. Tetapi hanny memelukku cukup lama. Dengan perlahan aku mencoba keluar dari tenda.

Hawa dingin langsung menerjangku. Aku melihat beberapa orang mengitari api unggun. Aku melihat Echa berdiri disammping Andre yang sedang terduduk lemas. Ada Dion disampingnya yang juga terdiam.

Aku melihat wajah Andre berdarah dan terlihat lebam. Dan tiba-tiba air mataku mengalir dengan sendirinya. Aku segera berjalan menghampiri Andre lalu memeluknya.

“Kamu gak apa-apa? Kenapa lebam begini??” Andre menangis dihadapanku. Aku langusng menatap Echa mencari penjelasan.

“Iya, Anjing macam dia harus dipukul! Gak tau diri! Pacarnya disini lagi khawatir tapi ternyata dia lagi sepong menyepong sama lonte!” Echa mencoba memukul Andre. Aku menjadikan tubuhku menjadi tameng andre dan dion.

“Cukup! Lo gak punya hak untuk menghakimi dia. Ini hubungan gue sama Andre. Dan lu gak berhak ikut campur!” ada keterkejutan dimata Echa. Mendengar itu Echa langusng berpaling dariku. Lalu meninggalkan kami semua. Hezy mengikuti Echa ke tenda. Dan semua orang segera bubar ke tenda masing-masing. Hanya ada aku, andre dan Dion.

“Dion, thanks ya. Lebih baik sekarang lu balik ke tenda.” Aku ingin sekali memukul Dion. Aku tau dia itu biitch. Tetapi aku tidak menyangka dia akan melakukan hal itu dengan Andre. Yang dia tau dia pacarku.

Dion mencoba untuk berkata, tetapi aku memberikan kode aku tidak mau mendengar suaranya. Karena ketika aku mendengar suaranya yang cempreng sok manja. Aku pasti akan meledak. Dan segera berubah menjadi beruang gunung.

Dion pergi. Sekarang hanya ada aku dan Andre. Suara malam dan keheningan hutan membuat suasana semakin dingin. Aku memegang wajahnya yang lebam. Wajahnya yang tampan sekarang lebam.

Andre memegang tanganku, dan mencoba mengatakan sesuatu. Tetapi kondisiku sekarang sangat labil. Dan aku masih belum sanggup mendengar apapun. Aku menahan bibirnya dengan jariku.

“Jangan bicara apa-apa. Aku ngerti kok keadaan kamu. Maaf aku gak bisa memberikan apa yang seharusnya itu tugas aku. Maaf, aku tidak membahagiakan kamu yang seharusnya itu tugas aku. Maaf, aku membuat kamu tersiksa dengan semua ini.” air mata aku semakin deras. Begitu pula dengan Andre. Kami menangis seperti anak kecil.

“Maaf kalau standard aku menyiksa kamu. Maaf kalau kondisi tubuh aku menyiksa kamu. Maaf kalau sakit ini menyiksa kamu” AKu memeluk Andre. Lalu segera menuntunnya ke tenda.

Didalam tenda kami merasakan kehangatan untuk kami berdua. Tanpa ada yang bisa ikut campur atau mmengganggu. Kami saling memeluk satu sama lain. Mencoba menghangatkan perasaan kami setelah perstiwa hari ini. Mencoba menghangatkan perasaan yang mulai menjadi dingin perlahan tapi pasti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s