Aku Kamu dan Dia

Kamu

Riza

Sudah hampir 1bulan aku tidak bisa menghubungi Echa. Dia menghapus aku dari semua jenis aplikasi chat. Dia block nomorku agar tidak bisa menghubunginya. Bahkan dia tidak mau menemuiku di rumah. Ketika aku datang, dia akan mengurung diri. Dan sekarang dia tidak pulang kerumah dua minggu

Aku tau, aku yang salah. Aku sudah berbicara keterlaluan kepadanya. Dan aku mau minta maaf. Aku kesal dan aku mau bodo amat dengan dia. Tetapi aku tidak bisa melakukan itu. Aku butuh dia, dia sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupku selama ini. dan aku tidak mau semua ini semakin buruk.

“Hai mam” Mama Echa melihatku dengan iba ketika melihat aku datang.

“Echa belum pulang. Kamu ada masalah apa sih sama dia?” Aku menghampiri dia yang sedang sibuk di dapur. Aku hanya menggeleng menjawab pertanyaannya.

“ckckck anak muda. Yaudah kamu bantu mami masak ajah. Siapa tau kali ini dia pulang kerumah. Dan sudah tidak marah kalau kamu masak buat dia.”

“Kira-kira dia tinggal dimana ya mam?” mamanya echa hanya menggeleng. Dia terlihat sangat tenang. Tapi tetap memperlihatkan ke khawatiran.

“Mam, aku ke kamar Echa ya. Siapa tau ada petunjuk dia nginep dimana” aku memeluk dari belakang. Aku tau pasti Echa melarang orang rumahnya memberi tau aku dimana dia berada. Tetapi biarlah, aku ikuti kemana echa mau bermain.

***

Echa

“Maaa kenapa mama gak bilang kalau ada Riri dirumah. Jadi gak pulang dulu.” Aku menghampiri mama yang sedang di ruang tv.

“Sengaja. Kasian itu anak tiap hari kesini nyariin kamu. Mama gak mau berbohong lagi.” Aku menatap mamaku dengan sebal. Papaku yang di sampingnya hanya tersenyum jail.

“Kasihan Riri. Dia udah disini dari sore. Papa rasa dia gak kerja tuh.”

“Dasar pengecut” adikku ikut nimbrung pembicaraan. Dia menggelayut manja di samping papaku. Aku ingin menoyor kepalanya yang bilang aku pengecut.

“Terus aku tidur dimana kalau dia sekarang lagi tidur dikamar aku?”

Memang benar aku menghindari Riza. Aku tidak marah dengan anak itu. Kangen iya. Tetapi setelah kejadian di gunung. Aku sadar, aku memang sudah terlalu berlebihan. Aku harus sadar diri kalau Riza milik orang lain. Tetapi kalau aku melihatnya setiap hari, setiap menit menghubunginya. Aku tidak akan bisa moveon dari dia.

“Ya kaka tidur disampingnya lah. Hihihi” Adikku kembali nimburng. Dan membuat suasana menjadi awkward. Aku termasuk beruntung memiliki keluarga yang sangat open minded tentang lgbt. Mereka mengerti dengan perasaaan yang aku alami ini. dan mereka sangat mendukung aku.

“Gila lu!” aku menoyor pelan kepalanya. Lalu dia tertawa

Aku berjalan kearah kamar perlahan. Dengan perlahan aku buka pintu kamar. Riza sedang tertidur pulas di kamar ku. Mungkin dia lelah telah membereskan kamarku yang berantakan.

 

Penulis

Echa dan Riza. Mereka berada didalam satu ranjang yang sama. Echa membelakangi Riza yang sedang tertidur. Echa berusaha untuk tidak membuat gerakan yang akan membuat Riza terbangun. Dia mencoba untuk tertidur, tetapi tidak bisa. Matanya hanya terus menatap dinding.

Tetapi tiba-tiba Echa merasakan tubuhnya dipeluk oleh seseorang dari belakang. Riza mendekatkan dirinya dengan Echa dan memeluknya dari belakang. Dia menyandarkan kepalanya di punggung Echa.

“Aku minta maaf” Riza berkata sangat pelan. Dia merekatkan pelukannya kepada Echa. Tetapi Echa tidak bergeming. Dia hanya terdiam dan berpura-pura sudah tidur.

“Please jangan jauhin gue. Jangan marah sama gue lagi. Gue tau gue salah udah menyinggung perasaan lu. Tapi please, gue rela lakuin apapun supaya lu balik sama gue. Jangan marah lagi. Gue butuh lu” Echa hanya terdiam. Perasaaannya menjadi kacau balau mendengar Riza berkata seperti itu. Dia membalikan tubuhnya menghadap Riza.

“Kenapa lu mikir gue marah sama lu? Emang kapan gue marah sama lu? Gue gak akan pernah bisa marah sama lu. Sekalipun marah, gue akan selalu bisa memaafkan lu” Echa mengusap dahi Riza yang berponi.

“kalau lu gak marah, kenapa lu menjauhi gue? Gue gak bisa menghubungi lu sama sekali.” Riza memegang tangannya Echa. Dan mengusapnay dengan perlahan.

“Karena gue mau move on dari lu. Lu tau gue udah sayang banget sama lu. Kalau gue terus ada disekitar lu. Gue akan selalu sayang sama lu, dan maul u jadi milik gue. Tetapi kenyataannya lu udah jadi milik orang lain. Jadi satu-satunya cara y ague harus menjauhi lu. Supaya orang lain bisa milikin gue”

“Tapi gue gak bisa jauh dari lu.” Riza mengecup tangan Echa. Matanya mulai berkaca-kaca.

“mungkin ini egois. Gue mau kalian berdua ada dihidup gue.” Riza mulai menangis

“tetapi gue gak bisa melihat lu sama orang lain terus. Harus memikirkan orang lain sedang bersama lu berdua.” Perkataan Echa membuat Riza terdiam seribu bahasa. Dia hanya mengusap-usap telapak tangan Echa.

Dengan perlahan tetapi pasti, Riza mendekatkan tubuhnya ke Echa. Dan dengan pasti, Riza memberikan kecupan di bibir Echa. Cukup lama. Cukup untuk membangkitkan sejuta ledakan di dalam hati masing-masing. Mereka seperti mengalami kecupan untuk pertama kalinya. Dan ketika ciuman itu berakhir, mata mereka memandang satu sama lain dengan jarak dekat.

“Please, jangan pergi dari gue” Riza membisikannnya dengan sangat lembut. Echa masih bisa merasakan nafas Riza menyentuh pipinya. Dengan perlahan dia memposisikan dirinya diatas Riza. Tidak seperti dikamar Riza kemarin, kali ini tidak ada batas diantara mereka.

Echa mengusap pipi Riza dengan lembut. Lalu mendaratkan sebuah ciuman. Echa melumat bibir Riza dengan lembut. Seperti permata yang akhirnya dia dapatkan. Dia mau menikmati itu dengan perlahan tetapi pasti.

Riza berusaha mengimbangi mulut Echa. Mungkin Andre akan marah kalau tau riza mencium lelaki lain dengan sangat panas. Tetapi Riza tidak peduli, asalkan itu membuat Echa tidak menjauh darinya.

Suasana dikamar itu semakin panas. Echa mulai terbawa oleh suasana. Tangan Echa mulai menghinggapi tubuh Riza. Dia mengecup leher riza, riza mau menghindar tetapi dia batalkan hal itu. Ketika tangan Echa mulai memainkan putingnya. Riza mau menepis hal itu. Karena dia tau kalau dia lanjutkan hal itu, akan terjadi hal yang lebih dari sekedar ciuman. Tetapi dia batalkan niat itu.

Echa menyadari Riza tidak menikmati keadaan itu mulai menenangkan dirinya. Dia menjatuhkan dirinya di pelukan Riza. Dia hanya terdiam lalu mengenggam tangan Riza.

“Sorry” mereka berdua berbicara hampir bersamaan

“gue yang minta maaf. Gue hampir membuat lu melanggar standard lu. Dan menjadikan lu seperti lonte dion” echa berbisik di telinganya Riza.

“gue yang minta maaf.” Riza memeluk Echa.

“Kenapa lu gak marah ketika Andre melakukan hal itu?” echa mulai bangkit lalu duduk disamping Riza. Riza mengikuti Echa. Dia duduk lalu memeluk tangannya echa. Mereka berdua menatap tivi yang sedang tidak menampilkan gambar.

“Karen ague rasa, itu kesalahan gue. Andre manusia biasa, dia perlu melampiaskan libidonya. Dan gue gak memberikan hal itu kepada dia. Karena statement gue dan karena kondisi gue.” Echa terdiam mendengar itu.

“Pas di jogja. Kalian kan sekamar. Emang gak lakuin hal apapun?” Riza menjawab Echa dengan gelengan. Didalam hati Echa senang. Tetapi dia hanya menunjukan dengan tersenyum.

“Ya mungkin dia tergoda dengan Dion yang menggoda dia. Dan karena memang dia membutuhkan itu. Gue gak akan marah sama dia. Gue juga pernah menyarankan hal itu sama dia. Dia boleh melakukan apapun sama orang lain” echa terkejut mendengar pernyataan Riza

“lu izinin dia? Gila kali ya lu? Berarti dia udah melakukan hal itu sama orang lain berkali-kali?” Echa menahan emosi. Dia ingin sekali meninju wajah laki-laki itu.

“Mungkin, tapi ya sudahlah. Asallkan dia tidak membicarakannya di depan gue. Gue gak perllu tau, gue gak akan marah” Echa seperti meledak mendengar jawaban dari Riza. Dia langusung bangkit lalu menghantam buku-buku di lemari. Riza hanya melihatnya. Echa sangat emosian, dan dia butuh melampiaskan emosinya.

“Gue rasa itu pantas buat orang macam gue” Riza memejamkan matanya. Dia terisak perlahan. Riza merasakan hancur didalam hatinya. Dia merasakan dirinya sangat tidak layak.

“Orang macam lu? Emang kenapa dengan lu? Jadi orang positif HIV kayak lu gak pantas untuk mendapatkan kesetiaan?” Riza menangis lebih kencang. Echa merasakan hatinya ikut remuk melihat orang yang dia sayang menangis seperti itu. Dia merasakan kehancuran didalam hati Riza.

1.5 tahun yang lalu dia melihat Riza seperti itu ketika tau dirinya sudah tertluar oleh virus itu. Dia menangis berhari-hari dikamar Echa. Itu pertama kalinya dia tidak melihat Riza yang tegar seperti biasa. itu pertama kalinya dia melihat Riza hancur sangat hancur.

Echa dan Riza sudah berteman selama 5 tahun. Diantara geng belok. Dia orang yang sangat jarang jajan sembarangan. Dia selalu melakukan hal itu dengan orang yang dia percaya dan selallu play safe. Tetapi ternyata orang yang dia percaya sangat tidak bisa dipercaya. Pacarnya yang dulu menularkan virus itu ke Riza.

Echa meneteskan air mata. Dia menghampiri Riza dan membuatnya terduduk lalu memeluknya.

“Jadi ppasangan hidup gue. Gue akan jadi laki-laki terbaik yang seharusnya lu dapatkan. Gue gak akan pernah melakukan hal itu dengan orang lain. Sekalipun gue lagi horny sangat, gue akan lakukan itu dengan tangan gue. Meskipun lu paksa gue dengan orang laing, gue gak mau melakuakan hal itu. Gue gak akan melanggar kesetiaan gue dengan lo. Dan sekalipun gue mau melakukan dengan orang. Gue akan lakukan hal itu sama lu. Gue akan terima semua resikonya. Apapun itu. Karena gue tau, Cuma lu yang gue mau. Gue mau Cuma lu yang menemani gue sampai akhir hidup. Gue mau jadi positif HIV kalau itu bisa membuat gue bersama dengan lu” Echa menatap wajah Riza dengan bersungguh-sungguh. RIza tidak berkata apa-apa. Dia hanya memeluk Echa.

Advertisements

2 thoughts on “Kamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s