Aku Kamu dan Dia

Pergi Jauh

Andre

“Kenapa kamu akhir-akhir ini jadi semakin cuek?” Aku menatap Riza yang sedang asik dengan ramennya.

“Hah? Cuek gimana maksudnya?” dia menatapku. Aku merasakan semakin ada jarak antara aku dan Riza. Dia semakin terasa dinging bila berada di dekatku. Semenak kejadian di gunung itu. Dia semakin menjadi orang lain.

“Ya cuek. Biasanya kamu bawel sama aku. Kamu masih marah sama aku?” aku menatap matanya. Dan aku tidak menemukan tatapan yang dulu.

“Marah kenapa?”

“Kamu kenapa balik tanya terus? Kan aku yang nanya” aku kesal. Dia seakan mencoba menghindar dari pertanyaanku dan membalikan pertanyaan.

“Lah? Lagian kan kamu yang aneh. Kamu nany, tapi aku gak ngerti. Ya pasti aku nanya.” Riza, dia keras kepala. Dia pasti tidak mau kalah. Dia akan menjadi keras kepala.

“hmmm yaudahlah” aku kembali dengan ramenku. Dan kali ini dia tambah marah.

“lah, kok gitu? Kebiasaan jelek. Kalau ngomong yang jelas. Kalau ada apa-apa langsung ngomong to the point.” Karena aku malas untuk berdebat. Akhirnya aku hanya mengiyakan. Dan meminta maaf.

“Kamu masih sering main grindr ya?” Aku melihat di handphone Riza ada grindr. Dia hanya mengangguk.

“Buat apa?”

“Ya gak apa-apa. Buat nambah temen. Buat iseng-iseng.” Dia tersenyum dnegan memperlihatkan giginya.

“iseng? Terus jalan-jalan? Terus pacaran? Aku ditinggalin?” dia terkejut mendengar pernyataanku. Sepertinya aku sudah kelewatan.

“Oh kamu mikirnya kesitu? Pantesan ajah kamu main sama dion ya?” Dia menghantam tepat di jantungku. Aku kalah telak.

“Kenapa jadi bawa-bawa dion?”

“ya kenapa kamu tiba-tiba ngomong kayak gitu? Kamu yang mulai, ya aku yang mengakhiri” dia menatap nantang denganku.

“Ya karena aku nanya. Salah aku nanya?”

“Iya gak salah. Tapi yang salah pemikiran kamu! Kebiasaan menerka-nerka sendiri. Kemakan pemikiran sendiri, akhirnya heboh sendiri.” Sekali lagi dia tepat mennghujam jantungku. Tepat sasaran!

“Iya! Aku mikirin kamu! Aku mikirin kamu yang mulai menjauh dari aku. Kamu yang mulai menjadi orang berbeda.” Dia tertawa. Tetapi ada nada mengejek di tawanya.

“lah? Kenapa kamu mikir kesana?”

“Kamu udah ada aku, kenapa masih main grindr? Kenapa masih nyari cowok disana?”

“Aku main grindr. Oke maaf kalau itu salah. Tapi bukannya kamu juga main? Itu salah gak? Dan siapa yang punya display name dengan nama where’s bot?” Boom!! Tiga kali aku di hantam. Aku mencoba mnyerang Riza, bukan untuk apa-apa. Hanya untuk mencari jawaban kenapa dia cuek. tetapi itu membuat aku terlihat bodoh sendiri.

Riza menatapkku dengan menanti balasan dari ku. Sepertinya dia siap untuk melempar amunisi kembali. Aku menncoba tenang, berusaha untuk mencairkan suasana yang mulai tegang.

“Iya aku salah. Tapi ya itu kan Cuma nama. Gak bermaksud apa-apa.” Aku menyandarkan tubuh ke kursi.

“Yaudah clear kan? bisa kira lanjutkan kencan ini? Sebelum kencan ini berubah dan berakhir.” Ada sarkasam yang aku dapat dari dia.

“Maksud kamu?”

“Iya, sebelum gak ada kencan lagi diantara kita.” Dia menyantap ramennya. Dia berkata dengan entengnya. Seperti hubungan yang sudah hampiir 3 tahun ini biasa ajah.

“Kamu mau putus dari aku?” keheningan menghampiri kami. Aku menatap Riza, dia menatap ku balik tetapi tidak ada jawaban dari dia.

“Riza, jawab aku. Kamu mau putus dari aku?” dia tidak menjawab. Hanya menaikan bahunya. Aku merasakan sakit di dalam hatiku. Seakan ada sesuatu yang ditarik perlahan dan hampir terlepas.

“Kalau kamu mulai menggila dengan pikiran kamu seperti itu. Mungkin aku lama-lama lelah” dia menggengam tanganku. tetapi tidak ada kehangatan seperti biasa.

“Aku takut kamu direbut orang lain. Dengan ada Echa di hidup kamu saja sudah membuat aku hampir gila untuk menjaga agar aku tetap di hati kamu. Sekarang ditambah, ada Hezekiel. Kamu itu terlalu sering dekat dekat banyak orang. Aku jadi was-was sama kamu” dia menggengam tanganku semakin kuat.

“kamu kira aku tidak pernah ragu sama kamu? Kamu pikir aku tidak pernah takut kamu main belakang di belakang ku? Aku pernah. Tetapi aku tidak pernah sedikit pun ragu sama kamu. Aku percaya kamu seratus persen. Meskipun aku sudah dikecewakan berkali-kali. Aku masih tetap percaya sama kamu. Ngerti? Bahkan melihat kamu melakukan hal itu dengan dion. AKu masih tetap percaya kamu. Aku sakit,, tapi aku percaya.” Aku menatap dia. Matanya yang belo itu menjurus ke hatiku yang paling dalam. Dia terasa sangat jauh, seakan akan segera pergi dari hidup aku. Aku takut dia akan pergi dengan orang lain

Aku mengangguk. Aku sudah kalah telak dalam perdebatan bodoh ini. dia terlalu sempurna. Dia seperti dongeng hayalan di dalam hidup aku. Seperti kisah romantic yang ada di dalam cerita-cerita. Hubungan ini seperti sebuah dongeng.

“Habis ini, kita jalan ke taman yuk? Bosen sama mall.” Aku hanya mengangguk dan menggengam balik tangannya. Menggenggam erat tidak mau melepaskan. Aku merasa dia akan pergi dariku.

***

Hezekiel

 

Kita pasti pernah kangen dengan seseorang, lalu merasa ingin segera bertemu dengan orang itu. Yap itu aku. Dan kali ini aku kangen dengan Riza, dan kali ini juga aku bisa melihat dia. Tapi sialnnya, dia sedang bersama Andre.

“Hezy udah punya anak jadinya?” Riza melihat anak kecil yang sedang aku gandeng.

“Bukanlah! Anaknya tante gue. Tinggal di daerah sini dia. Minta diajak main kesini.” Dia hanya mengangguk pelan dengan mata tertuju ke tanganku yang luka.

“Ini tadi kena pisau pas lagi masak.” Sebelum dia bertanya aku langusng memberi penjelasan.

“Kenapa di biarkan terbuka? Nanti masuk debu.” Dia memegang tanganku. Aku tau andre menatapku tidak suka. Tetapi aku biarkan saja. Aku menikmati perhatian dari Riza.

“Gak apalah. Luka kecil. Lu berdua doang sama Andre?” dia mengangguk lalu mengajak kami mendekat ke Andre. Kami mengobrol basa-basi dan berpisah.

Kalau saja aku tidak sedang bareng anak kecil ini, pasti aku akan mengganggu kencan mereka. Tetapi anak kecil ini terlalu aktif untuk aku tinggalkan. Dia akan berlari sana-sini. Lompat kesana kemari. Nasib memang sedang buruk.

Taman ini memang tidak terlalu besar, tetapi cukup nyaman untuk di jadikan tempat nnongkrong. Tahun ini pemerintah memperbaruhi taman ini dan menjadikan taman ini cukup hits dikalangan anak muda. Banyak sekali orang yang berpacaran disini. Untuk menikmati taman di tengah kota yang asri memang cukup langka.

Aku bisa melihat Riza dari tempatku. Keponakan ku asik dengan berbagai macam mainan anak-anak dengan beberapa anak lain. Aku memandang tempat Riza dan Andre berada. Mereka berdua terlihat sangat romantis. Mungkin aku tidak tega untuk melanjutkan permainan aku dengan Echa untuk membuat mereka putus. Riza dan Andre terlihat saling membutuhkan. Saling melengkapi dan saling mencintai.

Aku memang berharap Riza menjadi miliku. Untuk laki-laki pertama yang sudah membuat aku jatuh cinta. Aku ingin sekali meluapkan perasaanku untuk dia. Mencurahkan perasaanku. Tetapi memang keadaan tidak memungkinkan. Mungkin Tuhan berkata lain.

Hezy, bukannya mau menggurui lu ya. Lebih baik lu kembali ke gereja. Lu butuh itu.

Kata-kata Riza melintas di kepalaku. Perkataannya beberapa hari lalu seaakan kembali terputar.

Banyak orang bilang gay salah. Tapi kita harus buktikan sama mereka. Kita juga makhluk ciptaan Tuhan. Dengan menjauhi gereja itu membuktikan kalau gay itu makhluk tidak berTuhan. Kalau lu gak bisa ke gereja lama lu. kita bisa gereja bareng.

Akku senyum sendiri mengingat Riza mengajak aku gereja bareng.

Tuhan itu baik. Sangat baik. Jadi jangan menjauhi Tuhan karena perkataan orang yang sok ketuhanan. Kita tidak pernah bisa menebak pemikiran Tuhan. Apa yang baik, apa yang salah, apa yang benar atau apa yang tidak benar. Mereka bukan Tuhan, jadi gak usah mendengarkan mereka. Tetap melakukan hal baik. Mendekatkan diri dengan Tuhan. Pasti semua jawaban hidup akan terbuka.

Riza itu orang paling gendeng yang pernah aku kenal. Tetapi saat iti, aku melihat sisi lain dari Riza. Dia begitu sangat berbeda. Terlihat sangat bijak dan sangat tenang. Dan perkataannya mampu memberikan sedikit pencerahan di batinku. Semua pergolakan didalam hati seaakan tenang. Aku merasakan tau kemana aku akan berjalan.

“Mas, mas, sadar mas” tiba-tiba salah satu seorang suster mencubitku. Dia pasti suster dari teman-teman keponakanku.

“Tadi adeknya pergi kesana tuh. Masnya gak ngikutin?”

“Astagaa!! Keponakan gue” aku panik! Aku telah menghilangkan anak kecil. Aku mencoba berjalan kearah yang di tunjuk suster itu.

“Duh kenapa gak di tahan sih mbak. Malah di biarin” gerutuku sendiiri smbil berteriak memanggil anak itu. Dan tiba-tiba aku melihat Riza berlari dengan panik kearah jalan besar. Aku tidak melihat andre di sekitarnya. Aku hanya melihat keponakanku berada di tengah jalan dengan sebuah mobil mengarah kepadanya. Dan Riza yang sedang berlari kearah keponakanku.

Semua orang berteriak melihat adegan heroic tersebut. Seperti film action, semua adegan menjadi seakan berjalan lambat. Mobil melaju kencang, riza berlari heroic, keponakan ku yang terdiam menangis. Suster komplek yang berteriak, anak kecil yang kebingungan, dan aku yang berjalan kearah aksi tersebut.

Dan seketika semua itu berjalan dengan cepat. Riza berhasil menyelamatkan keponakanku.. Mobil berhasil berhenti dengan sempurna dekat mereka dan semua bernafas lega. Aku menghampiri mereka dan menggendong keponakanku yang menangis. Semua terpaku melihat kejadian itu. Bahkan ada beberapa yang tepuk tangan melihat aksi Riza.

“Riza, makasih banget!” aku menggendong keponakanku. Dan tidak lupa meminta maaf dan berterima kasih ke pengemudi mobil itu. Aku melihat andre bingung melihat kami, dan ketika kami mau kembali ketaman. Aku melihat Andre berteriak kearah kami. Tetapi sebelum aku jelas mendengarnya, sebuah mobil lebih dulu melintas dari samping. Dan Riza yang sedang berjalan di sampingku tidak dapat menghindari.

BRAK!!

Tubuh kurus Riza tidak mampu menahan tabrakan yang begitu kuat. Dia tertabrak tepat di depanku dan terpental cukup jauh. Aku measakan ada sebuah palu memukul dadaku sangat kencang. Aku merasakan lemas dan tidak percaya apa yang terjadi.

Aku segera berlari menuju Riza. Riza tidak sadarkan diri. Beberapa orang langusng berlari menghhampiri, aku menurunkan keponakanku dan menitipkan ke seorang suster. Aku tidak peduli suster itu siapa. Yang ada dipikiranku adalah Riza.

“Stop Hez! Jangan pegang!” Andre menariku ketika aku mau menopang Riza. Beberapa orang yang mau menolong langusng berhenti menatap bingung andre.

“Dia positif HIV. Buat semua orang yang ada luka luar di tangan atau dimanapun. Jangan melakukan kontak ke darahnya.” Semua orang langsung menjauh ketika mendengar hal itu.

HIV? Riza positif HIV?” aku bingung mendengar perkataan Andre. Tetapi Andre tidak ada waktu menjelaskan. Dia langsung menelpon ambulance.

Kejadian seperti film kembali muncul. Aku merasakan kondisi sekitarku menjaid pelan. Semua orang panic dan mencoba melihat Ria yang tergolek tidak sadarkan diri. Ada yang berlari, ada yang menahan yang pelaku penabrakan. Aku hanya berdiri mematung menatap Andre yang sedang memeluk Riza dan mecoba mengangkatnya.

Ambulance membawa mereka berdua pergi. Semua orang muali membubarkan diri. Dan aku masih bingung. Tiba-tiba ketika aku sedang bingung seseorang menarik tanganku.

“Maaf mas, ini anaknya.” Suster itu menyerahkan keponakanku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s