Aku Kamu dan Dia

Kembali

Hezekiel

 

“Aku melanggar imanku ketika jatuh cinta kepadanya. Sekarang, mungkin aku egois. Tetapi kepada imanku aku serahkan dia kepadaMu.” Aku menundukan kepalaku. Aku tidak tau harus bagaimana lagi yang ada dipikiranku hanya berdoa. Aku Cuma bisa mengandalkanNya. Mungkin ini satu-satunya harapan kami untuk RIza. Hanya doa yang mampu menyelamatkan Riza.

Aku melihat Echa sangat dekat dengan keluarga Riza. Dia terus memeluk ibunya Riza. Dan terus mengatakan kalau Riza tidak akan kenapa-kenapa. Echa terlihat sangat tegar. Dia berusaha menenangkan keluarga Riza terus. Meskipun aku tau, ada kehancuran didalam Echa ketika melihat Riza seperti itu.

Andre, dia hanya terduduk terdiam. Menunduk dan menangis. Entah apa yang dipikirannya. Dan aku Cuma bisa melihat keadaan dan berharap semua akan baik-baik saja.

Ini semua karena aku. Kalau sampai ada sesuatu yang terjadi dengan Riza. Ini semua karena aku. Aku yang teledor tidak menjaga keponakan ku dengan baik. Aku yang dengan bodoh tidak melihat keadaan sekitar.

“Tuhan, Aku mohon. Kembalikan Riza pada kami”

***

Echa

 

Sudah 3bulan lewat Riza terbaring dalam keadaan koma. Dia tertidur sangat pulas dan sangat lama. Wajahnya sangat tenang dan seperti sedang bermimpi indah. Aku memutar beberapa lagu untuk menemani tidurnya. Riza sangat suka tidur dengan diiringi lagu. Dia pasti bosan mendengar suara mesin terus.

“Ri, sampai kapan mau tidur? Gue kemarin bawa martabak keju tapi lu gak makan akhirnya dimakan sama gue andre. Gue akur loh sama dia. Hahaha” Aku menggengam tangannya.

Kali ini aku sedang menjaga Riza sendirian. Karena aku melihat mamanya Riza sangat butuh istirahat. Dia terlihat pucat.

“Ri, bangun dong.” Aku mengelus rambutnya yang mulai gondrong. Wajahnya yang terpasang alat bantu pernafasan. Sudah tidak ada jerawat di wajahnya. Terlihat sangat bersih.

Aku kangen sekali dengan Riza. Aku kangen mendengar tawanya yang nyeleneh. Suara cemprengnya kalau lagi marah. Dan yang paling aku kangenin melihat dia goyang-goyang sendiri ketika mendengar musik. Sangat lucu.

“Cha, lu udah lama disini?” hezekiel muncul dari balik pintu. Dia datang bersama beberapa orang. Yang aku rasa itu dari teman kantornya.

“Oh hez, masuk ajah. Temen kantor Riza?” hezekiel mengangguk. Mereka hanya tersenyum melihatku. Lalu aku sedikit menjauh untuk memberikan mereka ruang. Selama Riza koma sudah banyak yang datang menjenguk. Mencoba berbagai cara untuk membuat Riza terbangun dari tidur panjangnya.

“Zaa, bangun sih. Tidur mulu lu.” salah seorang wanita mencolek tangan Riza. Tetapi Riza jual mahal dan hanya terdiam. Wajahnya menahan tangis melihat Riza.

“Za, kerjaan lu numpuk. Kalau lu tidur terus. Siapa yang mau kerjain?” satu persatu mencoba berbicara kepada Riza. Seakan Riza mendengarkan mereka menceritakan semua kejadian di kantor mereka. Tertawa, marah tetapi Riza hanya terdiam. Hingga satu titik mereka sudah tidak sanggup berpura-pura. Mereka semua menangis.

Hampir semua yang kenal Riza akan berlaku seperti itu. Mencoba berbicara kepada Riza, berpura-pura lalu menangis. Dan aku yang melihatnya tersadar. Kalau Riza sangat mempunyai banyak teman. Dari teman kantor, teman di lingkungan sekitar rumahnya, gerejanya, dan beberapa yang belok dan straight yang aku tidak tau mereka kenal Riza dari mana.

Aku memberikan ide untuk setiap orang yang datang menjenguk Riza akan menulis sesuatu untuk Riza di kertas kecil. Dan kami menempelnya di papan disamping Riza. Dan papan yang cukup besar itu sudah hampir tidak cukup.

Dan semua pesan mengatakan hal yang hampir sama

Cepat kembali

Mama Riza bila melihat papan itu akan menangis. Dia tidak memang tidak tau anaknya seorang gay dan telah terjangkit HIV. Tetapi dia tidak menyangka kalau dengan kondisi seperti itu dia masih mempunyai banyak teman. Dan mampu memberikan dampak untuk teman-temannya itu

“anak tante anak yang baik. Dia sangat tegar. Dia menjadi relawan di klinik kami untuk permasalahan HIV. dia menularkan semangatnya untuk orang lain.” Salah satu wanita paru baya merangkul mamanya Riza. Aku tau dia pasti suster dari klinik tempat Riza melakukan terapi ARV. Aku selalu merasakan bangga telah menjadi bagian dari anak itu.

Ketika aku sedang melamun, mama Riza datang dan memanggil aku.

“Kenapa tante?” aku menghampiri mamanya diluar dan kami mempercayakan Riza ke Hez

“Kita dipanggil dokter. Katanya ada sesuatu yang mau dibicarakan.” AKu mengikuti mamanya Riza kearah ruangan dokter. dia gelisah dan memainkan tangannya. Sngat mirip dengan Riza. Ketika Riza gugup dia akan selalu melinting tangannya.

“Tante gak usah cemas. Segala sesuatu adalah baik adanya. Kita gak tau nanti dokter bicara apa. Tetapi percaya Tuhan itu baik. Riza yang bicara itu sama saya” Dia terlihat meneteskan air mata sedikit. Dia mengangguk dan aku merangkulnya. Mencoba menjadi Riza yang akan menenangkan mamanya.

“permisi dok” kami berdua masuk dan dipersilahkan duduk oleh dokter.

“Kita langsung saja bagaimana? Karena saya tau kalian sudah sangat lelah.” Kami Cuma mengiyakan saja apa kata dokter itu.

“jadi begini, kalian sebagai wali dari Riza. Ibu sebagai orang tua dan Echa sebagai penanggung jawab dari semua biaya Riza. Saya mau berbicara tentang kondisi Riza. Kita tau kondisi dia sudah sangat parah. Dengan kecelakaan yang dia alami membuat otaknya terbentur sangat keras dan beberapa bagian dalam yang rusak.” Aku tau kemana dokter ini akan melanjutkan perkataannya. Aku menggengam tangan mama Riza. Mencoba saling menguatkan.

“Saya sarankan untuk melepaskan semua alat yang terpasang di tubuh Riza. Karena selama ini dia bisa hidup karena alat itu. Maaf saya menyarankan ini kepada kalian. Saya tau ini kondisi yang sangat berat untuk kita semua. Tetapi kita tau, yang mana cara terbaik untuk Riza” Mama Riza menahan tangisnya. Hatinya begitu sakit mendengar semua itu.

“Dok, dokter tidak perlu menyarankan hal itu. Kalau untuk alat. Saya masih bisa untuk menanggung semua itu. Jadi saya akan tolak ide itu. Terima kasih.” Aku mencoba mengajak mama Riza yang hanya bisa menangis. Tetapi langkah kami tertahan dengan perkataan dokter.

“Bu, sebagai ibu pasti ibu sangat mengerti apa yang saya bicarakan. Ibu tau yang mana yang terbaik untuk anak anda dan semuanya” setelah mendengar itu kami berjalan kearah kamar Riza.

Dikamar Riza menjadi cukup ramai. Beberapa orang tertawa di sekitar riza. Ada teman kantor Riza, geng belok, andre dan hezy. Cukup sesak untuk semua itu masuk didalam kamar itu. Dan ketika mereka melihat kami, meraka langsung terdiam dan menerka-nerka apa yang terjadi.

Ketika beberapa orang mau keluar. Mama Riza menahan mereka.

“Aku rasa kalian berhak mendengar ini. ada yang mau aku bicarakan. Ada lagi yang diluar?” mama Riza sudah tidak menangis. Dia terlihat menjadi Riza. Aku melihat tangguhnya Riza, kokohnya Riza dan auranya Riza.

Beberapa orang yang sedang diluar di panggil kedalam. aku tidak tau kenapa mereka semua bisa datang disaat yang bersamaan. Ruangan menjadi cukup sempit. Untung saja aku memesan kamar yang luar untuk RIza.

“Jadi begini, kalian semua adalah keluarga Riza.” Mama Riza menggengam tangan anaknya yang sedang tertidur.

“Kita semua mengenal Riza dengan pandangan masing-masing. Tetapi yang aku lihat di papan. Riza anak yang menyenangkan untuk kalian semua. Saya pribadi meminta maaf kalau ada hal yang tidak berkenan yang sudah dilakukan anak saya. Saya tidak mengenal anak saya seperti apa yang kalian katakana di papan itu. Tetapi saya sekarang sudah tau dan saya bangga.” Kami semua memperhatikan kalimat-perkalimat yang diucapkan.

“Dan keputusan kali ini, saya buat untuk kebaikan RIza. Jadi saya memutuskan untuk melepaskan semua alat yang dipasang ke tubuh Riza” dia menahan tangisnya untuk tidak pecaah di ruangan. Aku panic, lalu mencoba mencari jawaban. Dia hanya menyuruh aku tenang.

“Saya tau ini keputusan terberat saya sebagai seorang ibu. Saya sudah tua, tetapi saya harus melihat anak saya yag paling kecil harus meninggalkan saya lebih dahulu. Tetapi sebagai ibu, saya tau kalau Riza sudah ingin kembali ke Bapanya yang disurga. Dia tidak mau memberatkan Echa yang sudah membiayai ini semua” Kami semua yang mendengar itu menangis. Suara tangisan memenuhi kamar ini. Dan yang dekat dengan Riza memegangi Riza daan semakin menjadi-jadi tangisnya.

Mama Riza sudah tidak mampu untuk berkata-kata. Akhirnya ikut menangis bersama kami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s