Mine

Mine – Prolog

Di sebuah kafe, tiba-tiba pintunya terbuka kencang. Dan membuat beberapa orang terkejut. Dari sana masuklah sesorang laki-laki tampan berkacamata. Dia seperti terburu-buru dan melihat sekeliling café. Dia tidak peduli dengan beberapa orang yang melihat kearahnya. Dia hanya peduli dengan seseorang di pojokan yang berusaha menutupi wajahnya agar tidak terlihat.

“Samuel!!” tetapi laki-laki itu tetap bisa mengenali orang itu. Semua orang menatap orang yang dipojokan. Dia hanya bisa tersenyum dengan berbisik.

“Selalu buat keonaran” bisiknya sambil tersenyum ke sekitarnya. Laki-laki heboh tadi menghampiri Samuel dengan berlari. Dia membawa sesuatu di tangannya.

“Hendrik. Lain kali bisa kan masuk dengan pelan-pelan. Dan gak perlu teriak-teriak. Bikin malu. Semua orang ngeliatin sambil ketawa tau” Samuel mencoba menenangkan hendrik yang terlihat sangat bersemangat.

“Gue seneng! Gue keterima magang jadi reporter! Ahhhhhh!!” Dia seperti tidak peduli perkataan Samuel. Dia kembali berteriak. Dan semua orang tertawa melihatnya.

“heh! Kalau bukan karena lu pacar dari bos gue. Udah gue usir lu berisik disini.” Seorang wanita tomboy menghampiri mereka.

“Mona, aku kan lagi seneng. Lagian bos lu ajah diem-diem ajah” hendrik melirik kearah Samuel. Sedangkan yang dilirik Cuma pura-pura bego.

Samuel, seorang laki-laki pemilik sebuah café yang cukup tenar di Jakarta. Untuk laki-laki umur 32 tahun. Dia sudah mampu menjadi orang sukses yang mampu menjalankan café yang sudah buka beberapa cabang.

Sedangkan Hendrik. Dia baru lulus dari sebuah universitas dengan nilai terbaik. Dia saat ini sedang mencoba menjalani dunia reporter. Mereka berdua sudah menjadi pasangan dalam waktu 3 tahun. Waktu yang lama untuk pasangan gay macam mereka.

“Pa bos, ane nanti mau izin pulang cepet ya? Masih ada cecep dan Anji kok.” Mona tidak peduli dengan perkataan Hendrik.

“Oh, mau kemana?” Samuel berdiri lalu meninggalkan hendrik yang asik dengan kertas pengumuaman miliknya. Samuel masuk kedapur lalu menuju ke depan kembali. Dia sibuk dengan beberapa hal café. Mona hanya melihatnya dari meja kasir.

“Mau kerumah sakit pa bos” Mona memelankan suaranya. Dia terdengar sedih.

“Oh temen kamu yang koma itu? Apa kabar dia? Harus jenguk dia lagi? Weekend loh ini.” Samuel masih sibuk dengan pekerjaannya. Entah apa yang dilakukannya.

“Hari ini ibadah tutup peti pa bos” Mona menangis pelan. Samuel yang sedang sibuk mendadak berhenti. Lalu Hendrik menghampiri Mona. Dia memeluk mona.

“Its okay. Kalau dia gak kasih izin. Dia itu manusia iblis. AKu kasih kamu izin. Aku gantiin shift kamu. Okay?” Samuel terkenal orang yang sangat perfectioniis. Dia mau semua pekerjaan selesai sesuai jadwal. Mendengar Mona mau izin di sabtu. Dia sedikit menimbang apakah memperbolehkan atau tidak. Tetapi melihat keadaan Mona, dia mengizinkan. Terlebih lagi Hendrik sudah mengizinkan lebih dahulu.

Samuel mengangguk lalu mereka bubar denngan sendirinya. Samuel menatap hendrik. Laki-laki itu sangat sensitive perasaannya. Dia mampu mengerti perasaan seseorang. Samuel tersenyum ketika Hendrik menatap dia. Lalu Hendrik merapikan berkasnya dan mulai sibuk dengan café mereka yang mulai ramai.

***

“Kamu besok mau antar aku? Hari pertama kerja loh aku” Hendrik memeluk manja Samuel yang sedang sibuk dengan laptopnya.

“Aku lagi sibuk dikit. Sebentar ya ngobrolnya” Samuel mengecup kening Hendrik dan kembali dengan laptopnya. Hendrik tidak suka dengan itu langsung merebut laptopnya dan menyingkirkannya.

“Kita udah janji. Kalau weekend tidak ada yang namanya sibuk kerja. Dan kalau sudah di kasur tidak boleh ada kerjaan.” Hendrik melipat laptopnya dan menaruhnya di meja samping mereka. Samuel terlihat keberatan dengan itu.

Samuel memiliki pemikiran, selama masih bisa dikerjakan sekarang. Kenapa harus dikerjakan nanti? Tetapi keberatannya tidak dipedulikan Hendrik. Hendrik mengambil posisi menduduki paha Samuel dan melepas kacamatanya.

“Kamu harus rileks sayang. Jangan kerja terus.” Hendrik mengusap rambut Samuel dan mengecup keningnya. Samuel hanya terdiam menikmati sentuhan dari Hendrik.

“kalau aku gak kerja, aku ngapain?” Samuel berbisik dan membuat Hendrik tersenyum.

“Kerjain aku ajah.”

Lalu malam menjadi milik mereka berdua.

 

***

Aku tidak bisa antar kamu. Mendadak di café ada masalah. Aku gak bangunin kamu, karena kamu sepertinya capai. Semangat untuk hari ini. Kamu pasti bisa *kiss and hug*

Sebuah note terpasang di meja makan. Hendrik melihat jam baru menunjukan pukul 7 pagi.

“berangkat jam berapa lagi sih dia?” Pikir Hendrik lalu mencoba memulai sarapan.

Samuel sangat workaholic. Dia terbiasa untuk bangun pagi dan mencoba kerja lebih awal. Efeknya membuat dia harus jarang untuk sarapan bareng dengan Hendrik. Awalnya Hendrik sangat tidak suka dengan kebiasaan Samuel tersebut. Tetapi akhirnya dia mencoba mengerti keadaan, dan akhirnya dia terbiasa untuk sarapan sendiri.

“Sayang aku pergi dulu ya” teriak Hendrik dari depan pintu apartment mereka. Meskipun dia tau tidak ada orang yang menjawab. Hanya untuk menghibur hati.

Hendrik berjalan dengan percaya diri ke tempat kerjanya. Hari ini tugas pertama dia menjadi seorang reporter. Mungkin tidak banyak kerjaan yang harus dilakukan di hari pertama. Tetapi dia tetap sangat excited dengan semua yang menantinya di pekerjaan.

Setibanya di kantor, dia mendapatkan sebuah pesan dari Samuel

Kamu sudah sampai?

Hendrik tersenyum melihat pesan itu lalu membalasnya

Sudah, baru saja. Wish me luck ya, hon.

Okay babe, break a leg ya. Love you.

Pembicaraan berakhir. Lalu dia mulai hari ini dengan semangat yang esktra.

Tidak ada pekerjaan yang berarti untuk hari pertama. Dia lebih banyak melihat orang lain bekerja. Bagaimana alur pekerjaan, mencoba mengerti dunia kerja yang sesungguhnya. Hendrik mampu memasuki salah satu stasiun tv baru yang cukup bergengsi. Maka dari itu, dia mau mengambil banyak pelajaran dari sini.

“hendrik, kamu ikut sama Mike, josh dan wulan liputan ya Sekalian kamu perhatikan cara kerja mereka.” Hendrik mendengar itu langsung sigap berdiri dan mempersiapkan dirinya. Bosnya senang melihat Hendrik yang sangat cekatan. Dia pun tersenyum.

“Anak baru udah berhasil buat bos senyum. Masa depan lu cerah disini” Josh berbisik sambil merangkul Hendrik. Dan yang lain hanya tertawa.

Hendrik sudah di beri tau oleh teman-teman barunya kalau bos mereka sangat tegas dan mau semua sempurna. Dan mendengar bosnya senyum melihat kerjanya Hendrik. Dia menjadi bangga. Dan tidak sabar untuk memberi tau Samuel.

Dia menganggap Samuel bukan hanya sebagai pacar. Tetapi juga sebagai panutan. Dia mau menjadi seperti Samuel yang sukses di umur yang cukup muda. Dia mau membuktikan kalau dia tidak menumpang hidup dari Samuel. Dia juga bisa sukses dengan caranya sendiri.

Mereka berempat berangkat menggunakan mobil kantor. Mike yang kebagian tugas untuk menyetir. Josh disampingnya dan hendrik duduk di belakang dengan Wulan. Semua terlihat baik-baik saja. Hingga sampai di sebuah persimpangan. Sebuah truk besar menabrak mereka hingga mobil mereka terpental dan berguling cukup jauh.

Semua orang yang melihat langsung berusaha untuk menolong. Mereka menghampiri mobil yang di tumpangi Hendrik dan kawan-kawan. Dan mencoba menyelamatkan.

“Wah parah ini mah. Gak ada yang selamat ini” ucap seorang bapak ketika melihat hancurnya mobil kecil itu. Ada beberapa orang yang menahan sopir truk yang terlihat sedang mabuk.

“Mati semua ini!!” teriak seorang mas-mas lalu mengeluarkan mereka satu persatu. tubuh Josh yang paling hancur. Karena dia tepat di posisi truk menghantam mobil mereka. Sedangkan Hendrik yang paling tidak terlalu parah. Tetapi mungkin hantaman itu membuat luka dalam yang membuat dia meninggal.

Mereka berempat di baringkan di pinggir jalan. Mencoba mengevakuasi sebelum mobil meledak. Dan benar saja, tidak beberapa lama. Mobil mulai terbakar dan meledak perlahan.

“Wah untuk ajah sempet. Tapi tetap saja mereka meninggal ya?” ibu-ibu memberi beberapa Koran untuk menutup tubuh mereka. Ada beberapa memanggil ambulans dan polisi. Dan tiba-tiba mereka di kagetkan oleh salah satu mayat yang terbangun.

“Bangun!! Itu mayatnya bangun!!” ibu-ibu akan selu menjadi orang yang paling panic di muka bumi. Mereka berteriak seakan melihat hantu. Bapak-bapak yang menolong mencoba menghampiri tubuh yang bergerak bangun.

“Sabar, sabar mas. Mas baru saja kecelakaan. Jangan banyak gerak” Seorang bapak-bapak menenangkannya. Tetapi dia tidak mendengar. Dia melihat sekitar teman-temmannya sudah menjadi mayat tidak bergerak.

“Mereka semua? Bagaimana mereka?”

“Teman-teman mas tidak ada denyut nadinya. Sudah tidak tertolong. Cuma mas yang bertahan. Kita sudah panggil ambulans. Jadi mas duduk dulu disini. Supaya diperiksa di rumah sakit.”

Dia menangis melihat temannya semua sudah tertutup Koran. Kepalanya sangat sakit seperti ada peluit berbunyi di kepalanya yang sangat kencang.

“Mas namanya siapa?”

“Nama saya?”

“iya mas. Namanya siapa? Mau kita panggilkan keluarganya?”

“Nama saya? Nama saya Mike”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s