Mine

Selesai

Hendrik dan Samuel hanya berbataskan dengan sebuah meja bulat dan caramel macchiato yang baru saja Samuel buatkan untuk Hendrik. Tetapi Samuel tidak mampu menatap wajah Hendrik yang terus saja menatapnya. Memang pertemuan ini Samuel yang inginkan setelah 1 tahun mereka tidak bertemu setelah kejadian malam itu. Tetapi Samuel tidak tau mau bicara apa, dia hanya lega bisa melihat Hendrik baik-baik saja.

“uhm, apa kabar?” Samuel mencoba memulai pembicaraan.

“baik, kamu?” Hendrik terlihat sangat menarik dimata Samuel. Dia terlihat tanpa ada beban dan seperti tidak pernah ada masalah antara dia dan Samuel.

“baik” lalu mereka kembali terdiam. Menikmati musik yang mengalun lembut dan aroma kopi yang memenuhi café.

“Musik yang ngatur siapa sekarang? Asik juga” Hendrik melihat sekeliling, mencoba bernostalgia dengan suasana yang dulu akrab buatnya.

“Ada pegawai baru yang ngerti musik, Ricky namanya.” Samuel menunjuk seseoarng di meja kasir. Seorang laki-laki yang asik dengan menghitung uang.

“oh, Lalu mona? Dimana dia?”

“Dia lagi ambil cuti, lagi jalan-jalan bareng temennya.” Hendrik mengangguk, lalu mengambil caramel macchiatonya. Dengan perlahan dia menyeruput kopi yang sudah familiar di lidanya. Seperti memasuki mesin waktu, hendrik seperti kembali di bawa ke masa lalu ketika Samuel suka sekali membuatkannya kopi. Membuat hendrik kembali merasakan sentuhan Samuel, nafasnya ketika sedang berbisik di telinganya, detak jantungnya ketika mereka berpelukan, dan merasakan semua kehangatan yang dulu Samuel beri untuk dia.

“Masih sama seperti dulu” hendrik tersenyum kearah Samuel. Dan membuat Samuel tenang. Karena dia masih suka dengan kopi buatannya

“kamu apa kabar?”

“AKu baik, dan kamu disini hanya untuk menanyakan kabar aku untuk berulang kali?” hendrik menyandarkan tubuhnya ke sofa dan memeluk sebuah bantal

“aku sudah tanya ya? Aku lupa”

“tidak pernah berubah, selalu lupaan. Kalau lagi salting selalu ngeblank, kalau lagi gugup selalu goyangin kakinnya” Hendrik melirik kaki Samuel yang goyang-goyang. Mendengar itu Samuel langsung menghentikannya. Hendrik dan Samuel tersenyum menatap satu sama lain.

“Memang kamu yang mengerti aku” dengan malu-malu Samuel mengucapkan itu dan membuat hendrik tersenyum simple.

“Maaf”

“Untuk apa sam?”

“ya kamu tau apa yang sudah aku lakukan kemarin. Aku salah sudah menduakan kamu, dan mengabaikan kamu setahun terakhir ini.”

“Oh, aku rasa tidak ada yang perlu di bahas kembali untuk itu. Sudah clear untuk itu semua.”

“Ya tapi tetap saja aku harus minta maaf sudah membiarkan kamu mengalami semua itu.”

“Gak apa lah, aku sudah menjadi lebih kuat sekarang. Aku sudah biasa saja sekarang. Santai ajah” Samuel dan hendrik kembali terdiam.

“Ya, memang sakit rasanya mengetahui itu semua. Harus mengalami itu semua. Tapi aku bisa melalu itu semua.” Dengan sangat pelan hendrik berkata itu dan membuat Samuel sangat ingin kembali memeluknya. Kembali ingin melindungi, dan terus menjaganya jangan sampai di kembali terluka

“Aku minta maaf” Samuel memegang telapak tangan hendrik dengan kedua tanganya.

“its okay” hendrik membalasnya dengan cepat lalu melepaskan tangannya

“Kemana saja kamu selama setahun ini?” Samuel menyesuaikan posisi duduknya. Mencoba tetap bersikap biasa saja.

“Aku sibuk dengan kerjaan ku. Masih di tempat yang lama. Dan akku tinggal di sekitar menteng.”

“Oh, aku kira kamu trauma dan pindah kerjaan”

“nggak lah, aku kan sudah menjadi tegar. Lagi pula ada janji yang harus aku tepati” hendrik tersenyum. Samuel ingin bertanya lagi tetapi dia tidak mau terkesan terlalu banya bertanya

“Kamu sam? Bagaimana kamu?”

“Aku masih sibuk dengan café ini, masih saja kerja dengan berbagai hal dengan café. Begini saja hidup aku. Tanpa ada kamu” Samuel menatap hendrik yang hanya terdiam tanpa respon

“Hendrik, aku mau kamu jadi pacar aku kembali.” Dengan perlahan Samuel memegang tangan hendrik dan mengepalkannya. Tetapi dengan perlahan pula hendrik mencoba melepaskan genggaman itu.

Samuel merasakan hatinya seperti terkoyak ketika hendrik berusaha melepaskan genggamannya. Dia tidak siap harus melepaskan hendrik untuk kedua kalinya. Dia teramat sangat bodoh telah melepaskan hendrik, dan dia tidak mau mengulanginya.

“Hendrik, please kasih aku kesempatan” Samuel hampir saja meneteskan air mata melihat kalau dia sudah kehilangan hendrik.

“Lepasin sam, please. Ini bukan kamu yang aku kenal.” Hendrik mencoba melepaskan tangannya yang di genggam sangat erat oleh Samuel

“Samuel yang aku kenal tidak akan pernah memohon seperti ini, dia orang yang sangat kuat dan tidak akan menunjukan kelemahannya dihadapanku seperti ini”hendrik menarik dengan keras tangannya. Dan akhirnya terlepas. Dan itu membuat air mata keluar dari mata Samuel.

Sekian lama mereka bersama, hendrik tidak pernah melihat Samuel menangis, dia orang yang sangat tidak mau menunjukan dia itu lemah. Dia selalu menjadi orang yang kuat

“Ya, karena aku tidak mau kehilangan kamu. Aku sudah hampir gila kehilangan kamu. Aku sudah hampir gila kalau akku terus tampil kuat padahal kekuatan aku kalau aku bisa ada didekat kamu. Dan sekarang kamu mau pergi kembali, aku tidak bisa biarkan itu. Aku akan menjadi apapun dan melakukan apapun untuk buat kamu balik sama aku” Samuel menutupi wajahnya, dia sudah sangat berurai air mata. Dia bersandar dengan kursi dibalakangnya.

Dan dengan perlahan tapi pasti dia merasakan ada pelukan lembut menyelimutinnya. Ketika dia buka mata, dia melihat hendrik sedang memeluk tubuhnya

“Kamu tidak perlu menjadi siapapun, tidak perlu menjadi apapun. Cukup menjadi kamu sendiri dan dengan secangkir kopi kamu sudah bisa merebut aku kembali. Aku Cuma bercanda, aku gak nyangka kamu bakal nangis kaya gini” hendrik tertawa pelan disamping Samuel.

Samuel merasakan panas diwajahnya. Antara malu, sedih dan bahagia semua campur jadi satu. Dia langsung menarik hendrik kedalam pangkuannya lalu mencium dengan lembut bibir hendrik.

Semua orang yang berada di café melihat itu bertepuk tangan ikut bahagia dengan kebahagiaan mereka. Termasuk Ricky dan Mona yang baru saja datang.

Hendrik mengambil handphonenya dan mencari nama yang ingin dia kabari tentang semua ini

Mike, I got him again. Terima kasih udah dorong gue buat ketemu dengan sam lagi.  And thanks buat semua bantuan lu selama setahun ini, thanks udah menampung gue dan thank you so much udah mau jadi sahabat gue. Gue akan ambil barang gue beberapa hari kedepan. Salam cantik dan tampan from ur gaybro

 

Yass!! Gak perlu ambil, gue anterin ke café  sekarang. Gue akan bawa terompet paling kenceng dan badut ancol buat bikin pesta disana. Sekaligus gue minta di traktir.

Dan please gak usah lebay, dasar homo.

 

Diem lu bangsat, cepet kemari

Advertisements

One thought on “Selesai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s