YOU and you

1. Pada Mulanya

Alunan musik rohani mengalun pelan dan mengarungi seluruh pelosok rumah. Dari dalam kamar, aku menggumam mengikuti lirik lagu tersebut. Menyanyikannya dari hati dan mencoba untuk menghibut Tuhanku dengan suara pas-pasan ini. Setelah menyiapkan beberapa hal dan memasukannya kedalam tas kerja aku sudah siap untuk berkerja. Aku menyisihkan tasku dan mencoba duduk di pinggir tempat tidurku.

“Bapa, terima kasih buat semua berkat yang sudah Kau persiapkan hari ini. Buat kehidupan yang masih Kau berikan, dan perkerjaan yang masih Kau percayakan kepadaku. Bimbing aku pada hari ini agar aku bisa menjadi alatMu untuk menjadi terang dan garam dimanapun aku berada. Terimakasih Tuhan, I love You. Amin”

Namaku Musa Dewantara, aku lahir di sebuah keluarga kecil harmonis yang terdiri dari ayahku, dia seorang pendeta. Sangat aktif pelayanan di gereja-gereja. Dia sosok yang sangat aku banggakan. Ada ibuku, dia juga seperti ayah. Tetapi dia lebih aktif di dalam pelayanan perempuan. Dia cinta pertama ku.

Dan ada kakak ku, Anthony. Dia berada 2 tahun diatasku. Kami sama-sama sudah berkerja. Kami sama-sama di besarkan dengan didikan dari kedua orang tua kami yang sangat dekat dengan Tuhan. Dan menjadikan kami sebagai anak yang sangat terbiasa dengan rutinitas keagamaan.

“Pagi mommy” aku memeluk ibuku dari belakang ketika dia sedang menyiapkan makanan di meja makan. Lalu aku duduk di sebelah ayahku di meja makan. Mereka semua sedang menunggu aku untuk memulai hari kami.

Seperti biasa, kami akan ngobrol ringan menanyakan kabar satu-sama lain. Perkembangan hari-hari kami. Atau menyampaikan apa pesan Tuhan pada hari ini.

“Hari ini aku bermimpi aneh” aku mengambil beberapa helai roti dan mengambil selai kacang. Semua orang memperhatikanku sambil asik dengan sarapan mereka masing-masing.

“AKu berjalan di sebuah taman. Seperti taman di afrika gitu, rumput semua”

“Lalu kau dimakan sama singa?” Anthony, kakak ku itu selalu mempunyai selera humor yang tinggi. Dia membawa sukacita diantara kami.

“Bukanlah!” aku melempar roti yang belum aku oleskan selai ke mukanya. Kami sempat tertawa sebelum ibu melihat kami dengan tatapan belonya. Tidak baik membuang makanan katanya.

“Lalu?” ayah terdengar excited dengan ceritaku. Dia memang selalu ingin tau, dia beranggapan. Tuhan memiliki berbagai cara untuk berbicara kepada anak-anakNya. Selama ada damai sejahtera didalam hati maka itu pesan dari Tuhan. Ya setidaknya itu yang dia percaya.

“Aku melihat diriku di tengah taman. Bermain dengan sebuah pita warna-warni dan menari-nari mengikuti arah angin. lalu aku melihat ayah berlari menghampiriku. Ayah membuang pita tanganku dan menamparku” mendengar cerita itu, Anthony tertawa sangat geli. Dia seperti mendengar lelucon yang sangat lucu

“Why you laugh, Dick!” aku mau melempar roti kembali, tetapi itu bisa mmengurangi jatah sarapanku. Akhirnya aku mengurunngkannya.

“Musa, omonganmu dijaga” Ayah tersenyum ikut tersenyum mendengar ceritaku.

“Kenapa kalian semua menganggap ini lucu? Aku rasa ini aneh bukan lucu” aku mengambil beberapa roti dan mengoleskan selai. Aku mau bawa ini untuk perjalanan.

“Ya, mari kita semua simpulkan itu mimpi yang aneh. Kalau hati kamu merasa tidak damai dengan mimpi itu, doakan saja. Biar semua akan jelas bila memang Tuhan mau bicara dengan kamu”

Aku mengangguk setuju dan ayah juga terlihat setuju. Hanya Anthony yang menggerakan bibir

“Lady with ribbon” aku tidak merespon keisengan dia. Hari ini aku biarkan dia menang mengolok-olok. Tapi pembalasan akan selalu lebih kejam.

“yasudah aku berangkat, mau bareng gak dick?” aku menatap kakakku yang masih asik dengan sarapannya. Dia tidak bisa menggunakan mobilnya untuk sebulan karena sedang di bengkel. Entah karena apa, aku tidak peduli dan aku juga tidak mengerti. Akhirnya aku bertugas untuk meemberikannya tumpangan.

“Gak usah de, gue bareng temen. Dia udah di depan” Dia mengecup pipi ibuku, memeluk ayahku dan memberikan jari tengahnya kepadaku. Rasanya aku ingin menendang dia jauh

“Punya anak laki-laki dua. Sudah besar, semakin tengil gayanya ya bu” ayahku tertawa melihat tingkah kami.

“Bye” aku mengecup pipi ibuku dan ayahku lalu berlalu menuju mobilku.

Diluar aku masih melihat Anthony mau berangkat dengan temannya yang mengendarai Jazz putih. Sebelum aku masuk kedalam mobil aku sempat membalas senyuman dari teman si Dick. Entah kenapa temannya bisa tahan berteman dengan tingkah aneh kakakku itu.

Aku memberikan klakson sedikit ketika melewati mereka. Mereka masih saja di depan rumah, entah apa yang mereka tunggu.

***

“Pagi Sherin” Aku melihat sherin, teman satu divisi berada di tempatku pagi-pagi

“Pagi Mus” dia mengenakan kemeja pink dengan celana panjang slim hitam serta di padukan dengan heels putih yang memberikan efek turn on di pagi hari

“Kenapa pagi-pagi ditempat gue?” aku dapat menghirup aroma manis tetapi sangat enak di hidung. Aku tidak mau efek turn on itu mengganggu. Dan aku tau itu adalah dosa, ketika kita berfikir kotor seperti itu tentang perempuan yang bukan milik kita.

“Terimakasih Tuhan sudah diingatkan” kataku dalam hati

“Ada undangan buat lo. Tadinya gue mau taro di meja lu. eh orangnya muncul duluan” dia memberikan amplop putih gading ke tanganku.

“Lo ulang tahun? Macam anak SMA ajah di rayain” aku terkekeh dan dia langsung mencubit tanganku

“Bukan bego, itu bos lu akhirnya laku. Patah hati dong lu di tinggal perawan tua itu?” dia berbisik di telingaku dan sukses membuat aku tertawa ketika mendengar kata-kata perawan tua.

“Seriusan? Baguslah, akhirnya Tuhan mempertemukan jodoh buat dia”

“iya Mus, mungkin Tuhan sayang sama lu, jadi dia mendengar doa lu. coba kalau bukan lu yang doa. Pasti sampai sekarang dia jomblo abadi” kami terkekeh lalu Sherin berlalu dari hadapanku.

“Iya semoga seperti itu. Karena aku berdoa kamu jadi jodoh aku” bisik aku dalam hati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s