YOU and you

3. Homoseksual dan Gereja

Sudah hampir 6 bulan berlalu sejak Bastian menjadi pimpinan kami di divisi ini. Dia adalah sosok pemimpin yang sangat ideal menurut kami semua. DIa sangat peduli dengan kami yang berada dibawahnya, mampu menyelesaikan banyak hal dengan pikirannya, dan sikapnya yang sangat humble membuat kami sangat segan dengan dia. Dan buatku, sebagai seorang teman dari saudara kandungku, dia adalah sosok teman yang sangat peduli.

“Bas, nanti lo jadi mau di temenin beli laptop” Aku menghampiri Bastian yang sedang asik dengan makan siangnya di kantin kantor.

“Boleh kalau lo mau temenin. SI Anthony gak ada kabar” Dia mempersilahkan aku duduk di sampingnya.

“Si Dick memang suka jual mahal, apalagi kalau lagi sibuk kayak sekarang ini” Bastian hanya tertawa mendengar aku memanggil Anthony dengan sebutan ‘dick’

“Maklum lah, kan lagi mempersiapkan pernikahan”

“Lebay, masih lama”

“6 Bulan lagi kan?” dia melirik ku dengan tatapannya. Dia memiliki perawakan yang sangat menarik. Chinese tetapi kulitnya gelap. Wajahnya yang mampu membius banyak perempuan.

“Lalu lu kapan nyusul?” aku menyenggolnya dengan pundakku. dia hanya menatap seakan aku aneh. Seperti ada yang dia sembunyikan

“Anthony belum bilang?”

“Bilang apa?”

“Hmmm, gpp. Btw kita pergi beli laptopnya minggu ajah deh. Gue sibuk, lagi mau siapin banyak meeting” Maklum, berteman dengan seorang bos mungkin waktu akan tersita dengan banyak meeting. Dan membuat aku merasa sebagai kaum bawahan.

Yang aku sangat bingung, Bastian sangat tidak mau berteman dengan pimpinan yang lain. Dia lebih memilih bersama aku dan orang dari divisinya. MEnurutnya, kaum atas memiliki banyak topeng. Pertemanan mereka palsu.

“Tapi lo ikut gue ibadah dulu ya? Udah lama gue gak liat lo ke gereja”

“Hmmm, yaudah gue tunggu di depan gereja lo ajah gimana?”

“No, lo harus ikut gue. Kalau gak lo bisa pergi sendiri”

“Kenapa sih lo rajin banget ke gereja? Segitu cintanya kah lo sama Tuhan lu?” Dia melirikku dengan pandangan yang aneh. Aku menjadi sangat tidak enak hati karena telah memaksanya seperti itu

“Hmm, sorry deh kalau gue nyinggung lu. Tapi ya gue rasa gak ada salahnya kalau lo ke gereja sih” aku tersenyum tidak enak hati.

“Lo penganut Kristen banget ya?” dia terus memandangku dengan tatapannya. Dan semakin membuat aku tidak enak hati

“Gak juga sih, gue rasa karena gue sudah terbiasa pergi ke gereja dari kecil. Dan karena orang tua gue dan Anthony pelayanan disana.”

“Lalu kenapa lo gak pelayanan?”

“Karena belum mau ajah sih. Sorry deh, gue gak maksa lo. Lo boleh kok nunggu gue di depan gereja.” Bastian tersenyum menang.

***

“Gimana hari kalian hari ini?” ayah ku memulai pembicaraan di meja makan. Tetapi hampir semua membalas dengan kata-kata “Tuhan baik hari ini. Sangat lancar hari ini”

“hari ini papa di datangi salah satu jemaat di gereja kita.” Kami mendengar itu hanya menatap tetapi dengan mulut asik mengunyah makan malam kami. Karena kami tau, pasti orang itu akan kesaksian atau mengaku dosa, lalu ayah kami akan memberikan wejangan dan semua akan baik-baik saja. Itu yang selama ini aku dengar. JAdi mungkin aku sedikit bosan dengan beberapa rutinitas ini.

“DIa datang mengaku sesuatu yang sangat membuat papa kaget. Karena belum pernah ada yang mengaku ini dengan papa”

“mengaku apa?” Anthony dan papa memiliki ikatan emosional yang sama. Jadi selalu Anthony yang excited dengan cerita papa. Begitu pula sebaliknya. Sedangkan aku lebih ke mama.

“Jadi dia datang ke papa dengan ragu-ragu. Awalnya dia mau membatalkan pertemuan itu. Tetapi semakin lama dia semakin siap. Dia mengaku kepada papa kalau dia seorang homoseksual” Kami bertiga dikagetkan dengan cepat.

“Lalu?” kami bertiga kompak bertanya.

“Ya, papa kaget seperti kalian. Tetapi papa tetap tenang. Dia tanya, apakah seorang homoseksual masih di izin kan untuk beribadah? Tetapi dia tidak mau meninggalkan status homoseksual di dalam dirinya” Kami menyimak pembicaraan ayah dengan sangat baik.

Sebagai keluarga Kristen yang sangat ketat, beberapa hal memang tidak pernah dibicarakan secara gambling. Seperti homoseksual, perzinahan, dan berbagai macam hal lain yang tabu. Menurut ayah sangat tidak pantas membicarakan hal ini.

Tetapi malam ini berbeda, kami membicarakan hal yang tabu itu. Maka dari itu kami sangat tertarik mendengar pembicaraan itu.

“ayah menjawab dengan pasti. Tentu saja dia boleh untuk beribadah. Karena gereja itu rumah bagi semua orang yang membutuhkan. Tetapi papa jawab lagi, tetapi alangkah lebih baik bila kita berubah menjadi peribadi yang semakin baik dan menjauhi hal yang salah”

“Tetapi dia menyanggah papa. Dia bilang, kenapa homoseksual itu salah? Bukankah dia hanya menyayangi seseroang. Dan itu tidak salah menurut dia. Tetapi ayah langsung membacakan apa yang tertulis di alkitab. Kita semua itu diciptakan berpasangan. LAki-laki dan wanita. Tetapi dia tidak mau terima akhirnya dia keluar ruangan dan dia berkata dia tidak mau datang kembali ke gereja kita”

Aku terdiam. Sedangakan mamaku membalas dengan sukacita. Mereka pun berdiskusi dan saling mengukuhkan pendapat dan setuju kalau homoseksual itu salah. Dan kata-kata yang sangat mengejutkan dari mereka membuat aku tergelitik

“Hati-hati ya kalian. Jangan sampai berteman dengan seperti itu. Homoseksual yang keras kepala seperti itu harus di doakan. Agar mereka sembuh dari segala dosa mereka. Dan kembali kejalan yang benar. Tetapi kalian harus menjaga jarak dengan mereka”

Aku inging sekali bertanya kepada mereka, tetapi sepertinya tidak pantas untuk ditanyakan kepada mereka. Anthony melihat tingkahku langsung bertanya

“kenapa Mus? Mau ngomong apa?”

“Gak apa-apa. Cuma mau bilang aku gak punya teman homoseksual kok.” Papa dan mama tersenyum mendengar itu

“Tetapi kamu harus tetap hati-hati ya Musa. Terus berdoa agar selalu dilindungi” aku tersenyum mendengar ucapan dari mamaku. Sedangkan Anthony hanya tertawa simple. Aku tau dia sedang memikirkan sesuatu. Dan aku akan bongkar itu ketika sudah dikamar nanti.

***

“Tadi mikir apaan lu di meja makan?” AKu menghampiri dia yang sedang asik dengan komputernya. Aku merebahkan tubuhku ke kasurnya

“gak apa. Lucu ajah sama kata-kata lu tadi”

“Lucu dari mana?”

“Lu gak tau ya kalau Bastian gay? Dia gak bilang sama lu?”

“Hahh?! Serius lu? lu tau dari mana?” aku seperti anak suku pedalaman yang selalu telat bila mendapatkan berita. Dan selalu terkejut dengan itu semua

“Dari dia langsung. Dia gak cerita sama lu?”

“Nggak. Lah? Terus gue harus gimana? Harus ngejauhin dia gitu?” aku langsung terduduk dan sedikit cemas akibat nasihat dari ibu tadi. Sebagai orang yang baru pertama kali berhadapan dengan homoseksual seperti itu

“Menurut lu gimana? Kalau lu mau ngejauhin dia silahkan. Tapi kalau gue, ya gak akan ngejauhin dia” Anthony tersenyum. Tetapi aku tidak mengerti.

“Musa, ayah dan ibu memang sangat berpengalaman. Kita harus mendengar nasihat dari mereka. Tetapi bukan berarti lo harus terima itu semua. Kita harus punyak hikmat untuk itu semua. Kita diberi akal, gunakan gengan baik. Bastian itu anak yang baik dan gue rasa homoseksual bukan jadi alasan kuat untuk menjauhi dia. Dia tidak aneh-aneh, dia sangat baik, care sama semua orang. orang seperti itu gue jauhin? Ya pastinya tidak akan”

Mendengar itu aku menjadi merenung. Ada perasaan deg-degan dan takut di dalam diriku.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s