YOU and you

4. Gossip

Aku menatap bastian yang sedang asik memilih berbagai laptop di depannya. Aku tidak menyangka kalau dia adalah seorang homoseksual. Dia memang tidak terlihat dekat dengan wanita manapun, tetapi bukan berarti aku akan menyangka dia seorang gay.

“Lebih baik untuk anak SMA, pakai yang mana ya?” Bastian menanti jawabanku. Tetapi aku hanya menaikan pundakku.

“Coba tanya ke SPBnya, mungkin dia lebih ngerti”

“Lu kenapa Mus? Seperti banyak pikiran.” Dia menghampiri ku. Dan mencoba mencari jawaban di wajahku. Dan ketika dia mau menyentuh pundakku. AKu sedikit menghindar.

“Its okay. Cuma sedikit capek ajah. Yaudah cepet tanya SPBnya” Dia membentuk bibinya menjadi aneh. Lalu berjalan meningglkanku

Aku memang jarang mendengar tentang homoseksual. Mungkin karena aku terlalu cuek dengan hal-hal seperti itu. Tetapi aku pernah mendengar kalau homoseksual itu menular kepada orang sekitarnya. Dan itu yang membuat aku kepikiran. Apa aku bisa tertular menjadi homoseksual?

“Musa!” Bastian menepuk pundakku yang sedang melamun.

“Ah iya! Kenapa sih bikin kaget?”

“Lu yang kenapa? Dari tadi bengong terus. Mikirin apa sih?” Dia menatap ku aneh. Dan aku memikirkan hal aneh tentang dia.

“gak apa-apa. Gue Cuma mikir kira-kira mau kasih kado Anthony apa ya buat pernikahan dia” AKu memberikan alasan yang masuk akal. Karena tidak mungkin aku memberikan jawaban kalau aku memikiran dia yang seorang homoseksual.

“Ck, yaudah nanti ajah mikirnya. Gue mau bayar dulu. Abis ini kita jalan liat-liat hadiah buat Anthony okay?” Dia meninggkan aku kembali.

Mungkin aku harus menepiskan pikiran itu dahulu. Dan menurutku apa yang Anthony bilang kemarin malam ada benarnya. Bastian adalah orang baik. Dan homoseksual adalah pilihan dia dan itu tidak menjadi alasan aku harus menjauhi dia. AKu yakin Tuhan akan menjagaku untuk tidak terjerumus ke dunia Homoseksual itu.

AKu menghampiri Bastian di kasir. Dan menepuk pundaknya

“Ah, Akhirnya kau sudah kembali ke daratan? Tidak melayang kembali?” Mendengar perkataannya aku hanya tersenyumm memamerkan gigi rapihku.

“Aku rasa, belikan dia meja makan adalah ide bagus” Bastian kaget mendengar ide ku

“Kenapa harus meja makan?”

“Karena ada tradisi di keluarga kami. Kami akan berbicara tentang hari-hari kami di meja makan. Mengerti satu sama lain di meja makan. Dan aku rasa meja makan kami adalah sarana yang menyatukan kami sebagai keluarga. Dan aku mau nanti dia seperti itu dengan keluarga barunya” Bastian mengangguk setuju, dan aku melihat ada tatapan kagum dimatanya

“Kalian keluarga yang unik. Seandainya aku punya keluarga seperti kalian” Perkataan bastian menyadarkan aku. Aku tidak tau apapun tentang keluarga dia.

Setelah dia selesai urusan di kasir. Dia mengajakku ke bagian furniture.

“Kenapa dengan keluargamu?” Aku langsung menuju ke point yang aku inginkan

“Keluarga ku? Hmmm intinya tidak seperti keluarga kalian. Yang begitu harmonis dan saling menjaga. Dan jangan tanya lebih. Aku malas membicarakan mereka” Dan bastian langsung menghentikanku sebelum aku bertanya lebih tentang dirinya

Dia orang yang sangat baik dan hangat. Tetapi dia bisa menjadi orang yang sangat tertutup dan dingin di berbagai hal. Seperti hal ini.

“Okay. Hmmm lalu kapan kau akan menyusul Anthony untuk berkeluarga?” Aku mencoba mencari pembicaraan. Meskipun aku tau dia  gay, aku pikir pasti dia ingin memiliki keluarga.

“Aku? Entahlah. Aku rasa aku belum menemukan yang cocok. Dan aku rasa tidak akan pernah menyusul Anthony.” Dia tersenyum. Kami terus berbicara sambil mengitari tempat furniture. Dan melupkan tujuan kami untuk mencari meja makan untuk Anthony.

“Seriusan? Memangnya kamu mau tinggal sendiri seumur hidup tanpa istri dan anakmu nanti?”

“Kamu tau? Aku senang berteman denganmu. Karena kamu begitu polos dan sangat baik. Dan hal yang membuat aku sangat betah berteman denganmu karena kamu tidak tau apa-apa tentangku. JAdi lebih baik kita buat keadaan seperti it uterus. Okay?”

Lidahku langsung berhenti. Tidak tau mau berkata apa ketika mendengar hal itu. Aku merasa aku sudah menyinggung perasaannya. Tetapi aku merasa ini tidak adil. Dia berteman denganku karena aku tidak tau tentangnya? Sedangkan aku menceritakan berbagai macam hal kepadanya.

Memang selama ini dia lebih banyak diam dan terus mendengarkan aku yang sedang bercerita. Aku baru sadar akan itu. Dan entah kenapa aku menjadi sangat kesal dengan hal itu

“Okay. Tetapi aku tidak mau berteman dengan orang yang tidak mau berbagi hidupnya denganku.” Dia tersenyum kecil lalu meninggalkanku

“yasudah, kita bisa fokus dengan meja makan dahulu. Lalu kita bisa putuskan apa kau mau berteman denganku atau tidak.”Bastian mendahuluiku sedangkan aku ditinggalkan dengan perasaan kesal.

Aku menjadi tidak fokus dengan berbagai meja makan yang ada di depanku. Aku melihat semua itu tidak bagus dan tidak sesuai dengan perkiraanku.

“Jadi sudah ada yang pas untuk mereka?” Dia menepuk pundakku. aku hanya menggeleng.

“Semua ini terlihat membosankan. Dan tidak seperti yang gue harapkan” Aku meninggalkannya. Aku masih kesal dengan perkataannya.

“Jadi bagaimana?”

“Kita pulang saja. Biar aku cari sendiri nanti”

“Okay”

Akhirnya kami meninggalkan tempat itu lalu berjalan ke parkiran dan mencari mobil bastian. Aku lebih sering jalan dengan mobil dia. Sesampai di mobil aku lebh banyak terdiam dan asik dengan handphone di tanganku.

“Lo marah?” Bastian mencoba mencari pembicaraan

“Tidak, untuk apa gue marah?”

“Ucapan gue tadi memang berlebihan. Sorry”

“Gak apa. Ya setidaknya gue cukup tau ajah”

“Jangan lo salah artikan itu semua. Gue sangat bersyukur dengan pertemanan kita selama 6 bulan ini. dan gue gak mau lo jadi berubah karena hal yang penuh dosa tentang gue. Dan gue gak mau lo gak jadi teman gue lagi”

“tentang lo seorang gay?” dia memberikan rem mendadak dan sukses berbuntut dengan klakson panjang di belakan kami. Dia menepikan mobilnya ke pinggir lalu memandangku

“Bas, lo gila! Lo mau mati?” bastian tidak menjawabku. Dia malah membalikan pertanyaan

“Lo udah tau? Dari siapa? Anak kantor?” Dia memberikan pertanyaan bertubi-tubi.

“Udah dari Anthony. Jadi anak kantor sudah tau?” aku kembali merasa bodoh dengan kelemotan ku ini. selalu ketinggalan cerita.

“Lalu?” dia kembali tidak menjawab pertanyaan

“Lalu apa? Ya aku tidak peduli. Lo temen gue, gue akan dukung lo apapun itu. Seperti Anthony”

“Anthony berkata seperti itu?”

“Ya, so gak usah menutupi apapun lagi. Lo itu temen gue, gue mau membantu lo seperti lo bantu gue. Gak usah sungkan tentang apapun itu.”

Dia tidak membalas apapun dia hanya terdiam. Lalu kembali mengemudikan mobilnya.

***

“Kenapa lo sama bastian jadi menjauh gitu?” salah seorang teman dikantorku iseng dengan aku dan bastian yang semakin menjauh. Sudah hampir sebulan sejak kejadian kemarin. Dia menjadi orang yang sangat berbeda. Dia tidak lagi gabung dengan kami, dan lebih memilih sendiri atau dengan kalangan atas..

“Gak ada apa-apa. Iseng banget deh cari bahan gossip.” Aku mengejek temanku itu. Dian memang terkenal dengan pengetahuan gosipnya yang sangat banyak. Seperti wanita pada umumnya dia sangagt suka sekali bergosip.

“Duh musa. Pelit banget sih? Lo putus sama dia?” Mendengar itu aku lanngsung terkejut. Aku lupa kalau anak kantor sudah tau dia gay. Dan jangan-jangan mereka kira aku dekat karena aku pacaran dengan bastian

“Heh? Putus apaan?” dia tertawa mendengar responku.

“Jadi gossip yang beredar kalau gue pacaran sama dia ya?” Aku membisikan ke telinganya.

“Beberapa orang mikir seperti itu. Tapi kami mah tau kalau itu gak bener. Karena kita tau lo kok” Dia tersenyum. Dan membuat aku sedikit tenang.

“Lagian kan gue tau, lo suka sama sherin kan?” dia tersenyum sangat nakal. Dan sukses membuat aku menjadi kepiting rebus. Wajahku sangat merah. Dan hal yang terjadi selanjutnya sukses membuat nyawaku melayang menjauh.

“Musa suka sama gue?” Sherin sudah berada di belakangku. Aku membalikan badan dan menatap wajahnya yang sedikit malu-malu. Aku melirik dian yang semakin lama semakin menjauh dan sejurus kemudian dia sudah pergi menjauh. Tinggalah aku dan Sherin berdua. Aku tau beberapa anak sudah mengintip dan mencoba mengetahui apa yang selanjutnya terjadi.

“Hai Sherin”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s