YOU and you

6. Ohana

Bastian tidur dengan sangat nyenyak. Bau alcohol sudah tidak terlalu tercium dari tubuuhnya. Semalam sehabis menangis aku mengelap tubuhnya. Malam tadi Bastian mencurahkan apa yang selama ini terpendam didalam hatinya. Meskipun dia tidak sadar, setidaknya dia sudah mencurahkannya. Dan sekarang aku tau apa yang alami dan apa yang aku bisa bantu.

Berhubung hari ini sabtu, semua orang libur dan menikmati hari santai mereka. Irama rohani mengudara dan perlahan terdengar dari kamarku. Sedangakan aku hanya terduduk di sofaku dengan handphone ditangan.

AKu melihat berbagai berita di pagi hari, dan mencoba menambah pengetahuan tentang yang terjadi disekitar. Sampai tiba-tiba bastian menjatuhkan tubuhnya disampingku. Dengan tubuh yang hanya dibungkus oleh boxer, dia menyenderkan tubuhnya kepadaku.

“Kepala gue sakit banget” Bastian menyandarkan kepalanya

“lo mabok berat semalem. Gue rasa itu efek dari minuman lo” aku mencoba menjauhkan kepalanya dari pundakku tetapi dia menjatuhkannya kembali.

“Gue gak ngomong macem-macem kan?”

“Lo ngomong banyak semalem.”

“Seriusan? Apa ajah?” Dia menegakan tubuhnya lalu menatapku

“Lo bilang lo naksir sama petugas parkir di kantor kita.”

“Aduh ketahuan!” Dia memutar matanya meladeni bercandaan ku. Sedangkan aku tertawa. Dia berdiri dan meregankan tubuhnya di depanku. Aku bukan seorang gay, tetapi melihat tubuh seperti itu aku sedikit kagum. Rasanya aku ingin punya tubuh seperti itu. Tetapi kekaguman itu hilang ketika aku melihat sesuatu yang sangat tidak lazim

“Astaga! Minggir dari hadapan gue! Jijik gue liat punya lo bangun kayak gitu.” Aku menendang pelan tubuhnya. Bastian tertawa terbahak-bahak lalu memasuki kamar mandiku

“Siapin gue handuk, atau lo akan liat langsung punya gue” teriaknya dari dalam.

“Tamu tidak tau diri” aku mencoba protes tetapi tetap saja aku persiapkan handuk dan beberapa pakaian yang mungkin bisa dia gunakan. Untung saja aku baru beli celana dalam.

“Bos, udah ada di kasur ya. Nanti kalau udah siap kebawah ajah sarapan bareng.” Aku mengetuk pelan pintu kamar mandi. Dan berbalaskan ketukan yang aku anggap sebagai persetujuan.

AKu turun keruang makan, dan disana keluargaku sudah berkumpul. Kami memulai rutinitas kami sebagai keluarga. Berkumpul dan berbicara satu sama lain.

“Gimana kabar teman kamu?” Papa ku sepertinya sudah tau dari Anthony

“Lagi mandi dia. Sebentar lagi juga turun gabung sama kita.” Aku mengambil berbagai lembar roti dan mengoleskan selai kacang.

“Kok dia bisa mabuk seperti itu? Sedang ada masalah dia? Kalian berdua kan teman baiknya, kenapa tidak dibantu sih?” Mama menatap aku dan Anthony. Sedangkan aku dan Anthony menatap satu sama lain.

“Dia lebih dekat sama Musa. Aku sama Bastian kan sudah tidak satu kantor.” Mendengar itu mama menatap aku. Sedangkan aku merasa terpojok.

“Iya, aku gak tau. Dia gak pernah mau cerita.”

“yasudah, kamu banyak berdoa buat dia. Biar Tuhan beri dia kekuatan untuk semua cobaan yang dia alami” Papa memberikan senyuman yang sangat bijak. Aku hanya mengangguk.

“Nah itu dia , sini gabung” Mama menghampiri Bastian yang baru saja turun. Sepertinya aku salah mengira ukuran tubuhnya. Dia terlihat konyol dengan baju kekecilan seperti itu. Otot tubunya yang terlihat ingin merobek bajuku. Untung saja celana yang aku berikan dengan karet fleksibel sehingga bisa longgar.

“Terima kasih tante” Bastian duduk disampingku. Dan sepertinya tau aku sedang menertawakannya. Dia menendang pelan kakiku.

“Sarapan silahkan. Anggap kita keluarga kamu dan ini rumah kamu sendiri.” Sepertinya papa juga ingin tertawa melihat baju kekecilan yang dikenakan Bastian. Tetapi dia hanya tersenyum simple.

“Iya, terimakasih. Dan maaf sudah merepotkan.” Bastian mengambil beberapa lembar roti dan selai kacang.

“Akhirnya ada yang makan selai itu selain si Musa” Mendengar ucapan antohny, Bastian menatap roti yang sedang aku makan

“Iya, disini tidak ada yang suka selai kacang.” Mamaku menambahkan

“Kenapa? Selai kacang itu enak”

“AKhirnya ada yang setuju dengan ucapan ku. Selai kacang itu ibarat makanan dari surga” Aku menepuk pundak Bastian. Keluargaku hanya tertawa melihat itu

“Bastian sekarang sudah pindah ke kantor Musa berkerja?”

“Iya Om. Sekarang saya mendapat kepercayaan disana. Dan kebetulan Musa kerja disana”

“Dibagian apa?” Papa seperti melakukan wawancara. Seperti biasa, papa orang yang sangat kepo dan seperti biasa pula Anthony selalu sama dengan papa. Aku dan mama hanya cuek dan mendengar sedikit-sedikit.

“Dia atasan Musa pa” Anthony menambahkan. Papa menatapku dan aku hanya menbalaskan dengan anggukan kepala

“Oh seperti itu. Masih muda ya. Tuhan sudah percayakan jabatan itu kepada kamu. Jadi anak muda yang berguna untuk semuanya” Papa terlihat sangat bijak

Obrolan semakin bergulir. Berganti-ganti topik dan berganti-ganti bercandaan. Dan entah kenapa aku seperti baru pertama kali melihat Bastian sangat senang. Senyumannya terlihat sangat alami dan tawanya begitu lepas.

Dan itu semua mengingatkan aku dengan semua perkataan bastian semalam yang sedang mabuk. Bahwa dia tidak pernah merasakan keluarga yang seutuhnya yang mampu menerima dia. Dan bastian mengatakan. Ketiaka dia belum coming out pun dia tidak pernah merasakan keluarga yang sesungguhnya. Keluarganya selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Dia merasa sendiri dan merasa semua orang tidak ada untuk dia. Mungkin kali ini dia merasakan dia keluarga yang selama ini tidak pernah dia rasakan.

Ada sebuah rasa yang timbul didalam hatiku. AKu ingin melihat senyum dan tawa itu selalu ada di wajahnya. Aku ingin membuat dia merasa diterima, dan dia tidak perlu menjadi apappun atau pun menutupi apapun.  Aku ingin lu mendukungnya dan terus membuat dia bangkit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s