YOU and you

7. Hubungan

“Nanti mungkin Anthony bisa pakai ballroom yang kemarin?” Bastian bergulat dengan bantal di kasurku. Sedangkan aku hanya melihatnya bertingkah seperti itu melalui sofaku. Sejak kejadian bastian mabuk dan dia bertemu dengan keluargaku. Dia menjadi lebih sering mampir kerumahku. Entah untuk menginap atau hanya untuk bermain catur dengan papa.

“ballroom yang mana?”

“Itu yang dipakai sama mantan bos mu. Kemarin gue yang ngurusin pernikahan dia kan. Jadi gue ada contactnya. Harganya juga bisa di murahin”

“yasudah bilang ajah sama Anthony.” Dan tiba-tiba Anthony masuk ke kamarku.

“Lagi pada ngomongin apa?” Anthony duduk disampingku. Dan mengambil majalah yang sedang aku baca.

“Katanya si Bastian punya kenalan buat ballroom. Harganya katanya lumayan. Coba lu tanya dia” Aku merebut kembali majalanku

“Oh ya? Boleh Bas, nanti lu kasih contactnya ke gue” bastian hanya membalas dengan jempolnya lalu mencoba kembali tidur di kasurku.

“Lu kenapa jadi betah dikamar Musa, Bas?” Anthony melirik aku dan Bastian.

“Kenapa lu melirik seperti itu?” Aku merasa terintimidasi dengan lirikan Anthony

“Kenapa emang? Takut gue apa-apain adek u?” Bastian tersenyum jail dan berbalaskan majalah di wajahnya. Mereka berdua tertawa sedangkan aku hanya tersenyum dan tidak mengerti

“Tenang ajah, gue gak betah dikamar Musa. Tapi gue betah berada di tengah kalian” Ucapan Bastian membuat aku dan Anthony terkesima

“lu boleh kapan saja kesini kok.” Anthony memberikan senyum. Dan entah kenapa aku melihat kebijaksanaan papa di Anthony.

“Gue pindah kesini kalau gitu”

“jangan di kamar gue!” Aku melempar majalah yang sedang aku baca. Dan dia berlindunng di balik selimut. Anthony melihat itu langsung pergi meninggalkan kami.

Bastian terus berbicara banyak hal. Dia menjadi lebih banyak bercerita tentang hidupnya. Tentang ayahnya yang sibuk dengan bisnisnya yang cukup sukses. Ibunya yang punya laki-laki lain di hidupnya dia. Dan dia anak tunggal yang hanya bisa asik sendiri atau dengan pembantu rumah tangganya.

Aku mendengarkannya dan seperti merasakan apa yang Bastian rasakan. Kesepian dan penolakan yang menjadikan dia pribadi yang tertutup. Aku duduk di sampingnya di kasur dan terus mendengarkan. Terkadang aku yang bercerita. Atau kami berganti topik dengan berbagai hal yang terlintas di pikiran. Dan terus seperti itu setiap kali dia berada dikamar ku.

“Kenapa waktu itu lu gak nembak si sherin? Rasanya gue geregetan “ aku menjadi teringat kejadian dimana Dian menempatkan posisi sulit bersama Sherin

“Gak tau kenapa. Rasanya gue belum berani ajah”

“Ah cowok kok takutan. Cupu lu!” dia menendang pelan aku yang berada disampingnya

“Ini kasur gue, jangan nendang gue” AKu meninju pelan pundaknya.

“Lalu? Kalau lu sendiri? Ada yang lagi lo suka?” AKu meliriknnya dengan tatapan jahil yang bisa aku berikan

“Ada sih, tapi masih pdkt ajah sama dia.” Bastian seperti menerawang. Aku menjadi penasaran siapa yang dia suka itu

“Siapa?”

“Dia anak Legal. Namanya Benaya Adiguna” Wajah Bastian menjadi bersemu merah. Dan aku menjadi ingin tertawa.

“Kenapa lo jadi ketawa seperti itu?” Bastian protes dengan tawa ku yang mengudara di seluruh kamar

“Muka lu merah gitu. Geli banget”

“Bangsat!” Dia menendangku semakin-semakin dan itu membuat aku menjadi semakin tertawa.

“Thanks ya Mus” Tiba-tiba wajah Bastian menjadi sangat serius

“Buat apa?”

“Lo udah mau jadi temen gue. Lo temen pertama yang gue rasakan sangat tulus temenan sama gue. Tanpa embel-embel mencari keuntungan. Dan temen cowo pertama yang tidak takut temenan sama gue” Baru aku sadar kalau bastian itu orang yang sangat melankolis. Perasaan dia bisa sangat tersentuh dengan perlakuan simple yang mungkin tidak pernah aku tau kalalu itu sangat berarti.

Kalau bukan karena gengsi mungkin aku akan ikutan menjadi melankolis. Tetapi akhirnya aku hanya menepuk pundaknya

“Gak usah lebay ya pak, santai ajah.” Mendengar itu dia kembali menendangku dengan pelan. Kami terus bercanda dan terus mengobrol sampai kami tertidur satu sama lain.

***

“Lo sama Bastian udah balikan lagi? Jadi tambah mesra deh kayaknya” Dian mulai mencari lading berita kembali.

“gak usah bikin berita yang nggak-nggak ya Dian. Gue sama dia temen. Emangnya kalau dia gay gak boleh punya sahabat cowok?” Aku merasa risih dengan prilaku orang-orang di kantor.

“Ya, kan gue nanya doang Musa. Jangan marah ya? Nanti gue traktir makan siang deh”

“bener ya?”

“Bakwan doang tapi. Hehhee” Aku dan Dian hanya tertawa. Lalu kami pergi ke kantin bareng. Aku tidak melihat bastian dari tadi. Mungkin dia masih sibuk dengan urusan kerjaan.

Aku melihat sekeliling kantin dan mencoba mencari makanan yang ingin aku makan tetapi semua makanan terlihat membosankan. Sementara Dian sudah mendapatkan Soto ayam beserta siomay. Yang namanya orang gendut, dia memiliki porsi makan melebihi kuli pada umumnya

“Makan apa lo Mus?” Dian sudah duduk bersama beberapa teman dari divisi kami. Ada sherin juga sedang duduk disana.

“Belum tau. Bingung bosan makan apa.” AKu duduk tanpa ada makanan yang aku bawa

“Iya bener mus. Gue ajah bingung makan apa. Mau cari bareng?” Ucapan dari sherin sukses membuat aku menjadi bahan ejekan mereka.

“Mulai deh pada lemes mulutnya. Yuk Sherin, kita tinggallin mereka.” Aku mengulurkan tangan dan bersambut manis dan halus tangan Sherin. Dan sukses menambah keriuhan di meja kami. Aku hanya memberikan lidah dan jari tengah untuk mereka.

Aku dan Sherin mengitari seluruh kantin untuk mencari makanan yang mungkin menggugah selera kami. Tetapi tetap saja tidak ada yang bisa menggugah lidah kami. Dan akhirnya kami menjatuhkan pilihan kepada gado-gado.

“Bu gado-gadonya 2 ya sedeng ajah pedesnya” Ucapku kepada ibu-ibu penjual gado-gado. Dan tiba-tiba muncul Bastian dari belakang.

“Jadi 4 ya bu” Dia tersenyum memperlihatkan giginya yang rapih

“Kemana ajah lu?” Aku menepuk lengannya yang kekar.

“Biasa” Bastian melirik seseorang laki-laki yang sedang duduk dan asik dengan handphonenya dan aku mengerti. Ternyata itu yang sedang Bastian usahakan.

“jadi sekarang lu udah mulai usaha juga?” Dia menatap sherin yang berada disampingku. Sherin menyadari sedang di bicarakan, lalu dia nimbrung dengan kami

“Bicarain apa sih bisik-bisik?” Sherin mendekat.

“Gak apa Sherin. Cuma ajak lu berdua gabung di meja gue ya nanti” Bastian berjalan kearah Benaya. Sedangkan aku menunggu persetujuan Sherin. AKhirnya kami berdua setuju duduk berempat.

Bastian memperkenalkan Benaya kepada kami. Dia mungkin sudah coming out seperti Bastian. Jadi mereka tidak peduli ketika mereka berjalan berduaan. Bastian memiliki wajah oriental dan tubuh yang tegap. Dan mungkin ini yang di suka oleh kaum gay seperti bastian.

“Jadi kita kapan mau pergi beli meja bareng?” Bastian memasukan satu sendok penuh gado-gado kemulutnya.

“Entahlah, lo ajah sibuk terus.”

AKu dan Bastian memang sedang asik bedua. Dan tanpa kami sadari kami mencuekan Benaya dan Sherin. Dan membuat keadaan menjadi awkward diantara kami berempat

‘’Bas, gue balik duluan ya ke atas.” Benaya bangkit dari tempat duduknya. Begitu pula dengan Sherin. Dan semakin membuat kondisi menjadi sangat canggung

“Lo udah selesai? Sorry ya, tadi gue lagi ngomongin pernikahan Kakaknya Musa” Bastian mencoba menjelaskan kepada Benaya. Karena aku tidak enak hati dengan SHerin, akhirnya aku ikut dengan Sherin untuk balik.

“yaudah nanti kita ngommongin bareng ajah. Nanti gue ketempat lu deh” Bastian hanya memberikan jempolnya dan aku langsugn berlari mengejar Sherin.

“Sorry ya sherin. Tadi gak bermaksud cuekin.”

“Its okay Musa. Kenapa harus minta maaf.” Sherin tersenyum.

Kami berdua berjalan kearah lift dan aku bisa melihat Benaya dan Bastian dibelakang kami. Tetapi benaya sengaja berhenti dan menunggu lift yang lain. Akhirnya aku dan Sherin naik keatas duluan dan meninggalkan mereka dibawah

“Kalian berdua lucu ya” bisik sherin tiba-tiba.

“Siapa?” bisik aku pula. Karena disini cukup penuh, kami bedua berbicara bisik-bisik.

“Kamu sama Bastian. Serasi” bisiknya lalu sambil tertawa jahil

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s