YOU and you

8. Hubungan?

“Gue boleh tanya?” Aku melirik ke arah Bastian yang sedang asik dengan handphonenya

“hmm” Dia tidak menatapku sedikitpun. Dia asik dengan handphonenya

“Bass!” Mendengar aku yang sedikit kesal, akhirnya dia menatapku

“Apa sih Musa? Ada apa dari tadi manggil?” dia merapatkan duduknya kearahku.

“Ngapain sih dari tadi?” Aku melirik kearah layar handphonenya. Dan aku melihat ada nama Benaya disana.

“Lagi chat sama Benaya. Gue udah jadian kayaknya sama dia. Belum resmi sih, tapi udah sayang-sayangan” Wajah Bastian malu-malu ketika menunjukan layar handphonenya

“Gue kira lo lagi nge bokep” Ucapan nyelenehku membuat Bastian sedikit terkejut

“Musa? Nanti Tuhan lo bisa bumi hanguskan gue kalau gue nonton bokep di rumah lu” Bastian langsung tertawa terbahak. Sedangkan aku hanya tersenyum

“Gue mau nanya, tapi lo gak boleh marah.” Aku sedikit takut untuk menanyakan hal ini.

“Apaan?”

“Kenapa lo bisa tau dari kecil kalau lo itu gay?” Bastian memberikan tatapan aneh

“Kenapa lo nanya seperti itu?”

“Nanya ajah. Udah jawab cepetan” Bastian sedikit menerawang tentang masa lalunya

“Gak tau ya, ya emang dari gue kecil kalau deket sama laki-laki ya nyaman. Kayak kalau ketemu guru laki-laki gue akan melting sendiri kalau dia muji gue. Kalau ada senior kece yang deket-deket ya bawaannya melting gitu. Ya hal seperti macam itu. Dulu emang gue gak tau kalau itu dibilang gay. Taunnya pas senior yang kasih tau gue” Bastian senyum memamerkan giginya

“Jadi lu coming out kapan?”

“Kelas 2 SMP.”

“Wow” Bastian hanya senyum-senyum. Selebihnya aku sudah tau apa yang terjadi dan aku rasa aku tidak perlu menanyakan kembali.

Aku berusaha memejamkan mataku dan meninnggalkan Bastian yang sedang asik dengan Benaya. Terkadang dia ketawa sendiri heboh sendiri atau gajelas sendiri. Dan aku sebagai tuan rumah merasa terganggu dengan tingkahnya itu.

“Bas berisik. Besok gue mau bangun pagi” aku menyenggol kakinya. Dan dia hanya membalas dengan gumaman. Tetapi kembali asik ketawa-ketiwi kembali. Akhirnya aku menutup kupingku dengan bantal. Mencoba meredam grasak-grusuk yang bastian lakukan.

Dan akhirnya itu cukup membantu dan mulai membuat aku sedikit tenggelam kealam tidur. Tetapi itu tidak berlangsung lama, Bastian menarik bantalku dan memeluk dari belakang.

“Musa!” Bastian sedikit teriak di telingaku dan sukses menbuatku kembali kealam nyata.

“Jesus Christ! Bastian, ngapain sih?” Kepalaku sedikit pusing karena di kagetkan seperti itu. Dan sepertinya Bastian tidak tau kalau aku sudah tidur, ada rasa bersalah dari matanya

“Sorry gue kira masih bangun.” Dia memberikan bantalnya kembali. Aku menata kembali bantal itu dikepala ku mencoba kembali terlelap. Tetapi aku merasakan ada pelukan dari belakang kembali

“Thanks sekali lagi udah mau jadi temen gue. Dan gue harap lo gak akan berubah.” Ucap bastian sambil cekikikan di telingaku. Sekarang aku gentian yang hanya membalasnya dengan gumaman.

“Dan gue udah resmi jadian sama Benaya” DIa semakin erat memelukku. Bastian sedang berada di atas awan-awan asmara. Dia seakan tidak peduli dengan diriku yang sudah mengantuk. Tetapi mendengar hal itu ada kesenangan sendiri melihat Bastian senang. Setidaknya ada kebahagiaan lain yang mulai menghampiri Bastian.

“Selamat buat lo, dan sekarang biarkan gue tidur”

“Siap bos” Tetapi dia tidak melepaskan pelukan itu. Sudah hampir 3bulan Bastian sering menginap di rumah, dan aku sudah terbiasa diperlakukan seperti ini. aku rasa tidak ada yang salah, karena aku tau kalau aku bukan seorang homoseksual.

***

Aku menatap sherin dari kejauhan. Kali dia terlihat lebih simple dari biasanya. tidak ada make up dan tidak ada pernak-pernik di tubuhnya. Hanya dress biasa dan rambut yang di ikat ekor kuda. Tetapi dia memang tetap terlihat cantik seperti biasa.

“Musa ada apa ngeliatin gue terus?” Dia menyenggol tubuhkku yang sedang terkagum-kagum.

“Cantik” Wajah Sherin langsung berubah menjadi kemerahan. Dan aku merasakan semua orang menatap kami dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tetapi sekali lagi mereka harus kembali kecewa dengan tayangan gratis ini. sherin hanya tersenyum lalu mengucapakan terima kasih. Dia kembali ke mejanya dan sibuk dengan beberapa hal yang aku tidak tau.

Entah kenapa aku berbicara seperti itu, aku hanya merasakan bosan dengan rutinitas ini. dan aku butuh sesuatu yang baru untuk memberikan warna baru. Dan aku rasa, mungkin ini saatnya kau mencari pasangan.

Bukannya kau terlalu percaya diri. Tetapi aku tau kalau sherin menyimpan perasaan yang sama seperti aku. Sudah banyak orang yang mengatakan hal itu. Mungkin ini jawaban dari Tuhan atas semua doa-doaku. Tetapi tetap saja aku tidak memiliki keberanian untuk menyatakan perasaan ini.

Dari kejauhaan aku melihat Bastian datang. Wajahnya terlihat kusam dan kusut. Pertama kali aku lihat sejak dia dan Benaya menjalin hubungan 2bulan yang lalu.

Musa nanti makan siang jangan langsung pergi. Gue udah pesen tempat. Gue akan share location, u jalan pake mobil sendiri ajah

Sebuah pesan muncul dari Bastian. Benaya orang yang sangat cemburuan terlebih kepadaku. Dia selalu merasa tersaingi dengan hubungan aku dan Bastian. Dan sejak mereka jadian, Bastian dilarang untuk terlalu seirng berbicara kepadaku langsung. Dan entah kenapa selalu ada yang melaporkan bila kami ngobrol berdua di kantor. Aku hanya membalas kata oke dan kembali kepada kerjaan.

Pikirannku tidak bisa konsen kepada kerjaan yang sedang aku kerjakan. Pikiranku tertuju kepada Bastian yang terlihat sedang sangat banyak pikiran. Dia menjadi banyak salah bicara, salah manggil orang dan terkadang dia terlihat merenung sendiri di dalam ruangannya.

Dan bila keadaan seperti ini aku Cuma bisa melakukan satu hal. Aku akan berdoa untuk dia. Itu yang selalu aku lakukan bila aku merasakan sesuatu yang tidak beres tentang orang terdekat ku. Telebih bastian. Mungkin Tuhan sudah terlalu bosan mendengar nama sahabatku itu.

Dan ketika istirahat tiba, aku langsung pergi ke tempat yang Bastian tunjukan. Aku bisa melihat mobil bastian sudah berada di tempat itu lebih dahulu. Dan ketika aku memasuki tempat itu, bastian melambaikan tangannya di pojokan

“Kita kayak pacaran diem-diem” celetukku

“Capek gue Mus kaya gini terus. Gila bener si Benaya.” Dia menggelengkan kepalanya. Dan aku hanya menyentung dahinya sebentar. Dan itu selalu berhasil untuk menenangkan dirinya ketika sedang kalut.

“Kenapa lagi?” tatapku ke bastian.

“Gue gak boleh datang ke pernikahan Anthony. Atau lebih tepatnya terlalu sibuk dengan urusan pernikahan dia. Gue boleh dateng Cuma bentar, dan dia nunggu di mobil.” Bastian menaruh kepalanya di meja. Dia mengambil tanganku dan menaruhnya ke atas kepalanya. Dia suka bila aku mengelus kepalanya.

“yasudah, daripada dia marah lagi sama lo. Nanti ngancem bunuh diri” aku terkikik mengingat kejadian beberapa minggu lalu.

Ketika Bastian sedang bete tinggal bareng Benaya, Bastian akan menginap dirumahku. Dan ketika Benaya tau, dia mengancam akan terjun dari jembatan penyebrangan. Dan akhirnya Bastian harus jemput dia ke tempat itu dan mengantarnya pulang.

“Gue gak sanggup lagi Mus. Gue sayang sama dia, dia bisa menjadi orang yang sangat membuat hati gue luluh. Tetapi dia selalu bisa membuat gue pengen nyerah dengan hubungan ini” dia masih asik menikmati sentuhan rembut di rambutnya.

Ini kesekian kalinya aku mendengar tentang ini. dan aku rasa aku sudah sedikit bosan dengan cerita ini. karena akan selalu seperti ini. Bastian ingin putus, tetapi nanti bastian juga yang mencegah supaya mereka pisah. Ditambah sifat kekanak-kanakan dari benaya yang terkadang cukup mengkhawatirkan.

“Kenapa gue gak suka sama lo ajah ya? Dan jadiin lo pacar gue?” Bastian melirikku dan sedikit tersenyum. Seketika aku menjambak rambutnya

“Gue masih suka sama cewek” Bastian hanya terkekeh mendengar ucapanku.

“Tapi serius, kalau lo gay dan lo pacar gue. Gue akan senang pacaran sama lo. Lo itu ngerti dengan semua hal tentang gue meskipun mungkin gue gak terlalu mengerti lo. Lo itu bisa membawa suasana menjadi lebih hangat. Dan membuat gue menjadi tenang.” Dia tersenyum memamerkan giginya kembali

“Gue gak perlu jadi seorang gay untuk melakukan itu semua. Gue udah melakukan itu semua dengan hubungan kita seperti ini. lo sahabat gue dan gue akan selalu ada buat lo. Gue akan mencoba terus menjadi sahabat yang baik untuk lo” Bastian menatapku dengan sangat lekat. Aku merasa pandangannya mencoba mencari sesuatu didalam diriku.

Dia terdiam lalu kembali asik dengan makanannya. Dan ketika kami seudah selesai, dia melarangku untuk kembali ke kantor.

“Gue mau menikmati waktu berdua sama lu lebih lama. Kita jalan yuk?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s