YOU and you

9. Jealous

Aku menggenggam tangannya dengan perlahan, dan seperti biasa dia hanya bisa terdiam. Dia memandang mataku dengan sangat lekat dan seperti menahan untuk melakukan sesuatu. Wajahnya yang bersemu kemerahan yang menjadikan dirinya terlihat lebih menarik.

“Kamu mau jadi pacarku?” Kalimat itu langsung keluar dengan berani. Aku rasa tidak perlu menahan itu kembali, karena memang ini saatnya.

Sherin tidak berkata apa-apa. Aku merasakan getaran aneh di tangannya. Dia mengangguk dan hanya terus mengangguk. Beberapa temankku mulai bersorak pelan. Terlebih dengan Dian.

“Apa sherin, aku tidak mengerti. Coba di terjemahkan” Aku menggoda sedikit. Lucu melihatnya malu-malu seperti itu.

“Iya Musa. Mau” Katanya dengan lembut.

“Mau apa?” Godaku kembali

“Iya mau jadi pacarnya Musa” Kata-kata ‘jadi pacar Musa’ dia katakana dengan perlahan. Terlihat sekali Sherin sangat gugup dengan semua ini.

“Horeeee!!!” semua berteriak kegirangan. Semua teman divisiku menyaksikan bagaimana aku menyatakan cinta dengan Sherin. Tetapi tidak dengan Bastian. Dia sedang berlibur dengan Benaya. Katanya sih untuk memperbaiki hubungan merek. Entahlah aku tidak peduli.

“Jadi kita dapet traktiran apa untuk merayakan hari jadi kalian?” Dian paling semangat memeluk kami. Sepertinya dia orang yang paling geregetan melihat aku dan Sherin ternyata kami saling suka, tetapi tidak ada yang berani untuk mengatakan duluan.

“Kalian dapet tontonan drama FTV gratis. Seneng kan?” aku meledek mereka lalu menarik Sherin menjauh dari mereka.

***

“Habis ini kita pulang ajah yuk? Aku harus urus pernikahan Anthony yang tinggal 1 bulan” Aku dan Sherin keluar dari bioskop. Ini sudah berjalan beberapa minggu setelah aku dan Sherin menjalin hubungan.

“Iya gak apa. Aku ngerti kok. Yuk pulang” Kami berjalan kearah parkiran mobil. Dan ketika sesampainya di mobil. Sherin langsung mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

“nih” Dia memberikan itu kepada ku. Aku merasa heran kenapa dia memberikan itu kepadaku.

“Apaan ini?”

“Kado buat kamu lah Musa, kan besok kamu ulang tahun.” Sherin mencubit pipiku. Aku sangat-sangat lupa kalau besok hari dimana aku lahir. Mungkin karena sudah kebanyakan ulang tahun. Aku menjadi lupa.

Tetapi ini tahun pertama aku ulang tahun dan ada seseorang disampingku. Aku sedikit merasa senang dan berbunga-bunga. Aku membuka kotak panjang itu dan aku melihat sebuah dasi merah tersimpan rapih didalam.

“Kenapa harus dasi?”

“Karena dikeluargaku, mama selalu memakaikan papaku dasi. Dan kata mama, itu sebagai simbolik kalau mamaku selalu mendukung papaku. Dan selalu bersedia membantu papa dari hal yang paling simple. Dan aku mau suatu saat aku bisa memakaikan dasi itu kepada kamu. Setiap hari” dia tersenyum dan aku merasakan dadaku sangat sesak dipenuhi rasa cinta.

“So sweet. Aku bisa diabetes kalau kamu terus bersikap manis seperti ini” aku mencium tangannya. Karena aku rasa belum saatnya untuk melakukan hal lain.

“Kamu pasti sibuk besok. Dan aku akan susah ketemu kamu. Kamu kan kalau sibuk suka menghilang dari bumi.”

“Maaf ya, dan sekali lagi terima kasih”

“dan pakai itu di pernikahan Anthony. Aku gak bisa dateng, jadi anggap itu sebagai aku yang menemani kamu”

“Kenapa kamu harus ke Ausie?? Kenapa gak bisa di tunda?” aku memasangkan wajah manyun dan mendapatkan balasan  cubitan di pipiku

“Gak usah nanya deh. Kan kamu tau kakakku ada tunangan disana.” Aku memegang tangannya yang lembut dan kembali menciumnya. Aku merasakan rasa berbunga didadaku. Aku ingin sekali mencium bibirnya yang merah itu. Tetapi aku rasa ini belum saatnya

“Kalau gitu kamu bisa pakaikan dasi ini sekarang.” Pipi Sherin bersemu merah mendengar permintaanku. Dengan perlahan dia mengambil dasi itu dan melingkarkan di leherku. Meskipun aku memakai t-shirt, dia tetap mengabulkan permintaanku.

Setelah mengambil beberapa selfie, aku mengantarkan Sherin pulang dan harus mengambil beberapa pesanan Anthony. Siapa yang nikah, tetapi aku yang ikutan repot.

Ketika sampai dirumah aku melihat mobil Bastian terpakir di depan rumah. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan Bastian.

“Duh yang abis kencan sibuk banget” suara bastian yang aku dengar pertama kali ketika aku memasuki ruang tamu. Tetapi tidak ada nada bercanda dari suaranya. Aku mendengar nada ketus. Mugnkin aku yang sedang lelah, dan terlalu sensitive.

“Pesanan lu ada di mobil ya Dick. Gue mau ke kamar dulu mandi. Abis itu baru gue gabung sama kalian” aku melirik jam tanganku. sudah menunjukan pukul 23.45.

“Sini dulu sih, gue gak bisa lama-lama. Jangan mandi dulu” bastian menarikku.

“gue cape bastian. Mandi dulu apa salahnya. Sebentar dulu”

“Tapi gue gak bisa lama, sini dulu bentar.” Anthony hanya senyum melihat kami bertengkar. Dan aku menjadi tidak enak dengan dia. Karena ini acara dia, jadinya aku duduk disamping Anthony.

“Gue kan Cuma driver. Kenapa harus ikut? Udah ada WO juga” aku memasang wajah kesal dan menyandarkan tubuhku ke sofa. Bastian merubah posisi duduknya disampingku. Dia menggaruk-garuk punggungku. Dan aku sangat suka. Dia memang tau apa yang aku butuhkan ketika sedang lelah.

 “By the way, kenapa lo pakai kaos tetapi pake dasi?” Anthony melirik dasi yang diberikan Sherin. Aku senyum-senyum sendiri.

“Dari Sherin, kado ulang tahun katanya”

“Cie ileh yang masih panas-panasnya” Anthony menyenggol tubuhku berusaha meledekku. Tetapi Bastian menjadi aneh. Dia berhenti menggaruk punggungku dan sedikit membentak

“udah cepet jangan bertele-tele.” Dia kembali ke tempat duduk awalnya. Aku dan Anthony langsung kembali menatap kertas yang berisikan beberapa planning buat wedding Anthony.

Aku hanya mengangguk angguk ketika Anthony menjelaskan. Ada beberapa hal yang aku tidak mengerti dan aku mencoba bertanya kepada Anthony. Tetapi yang menjawab Bastian. Dia membalas dengan nada yang sangat ketus. Dan terus saja menyalahkan aku yang tidak mengerti.

“makanya Mus, serius dong. Ini kan acara sudara lu. Harusnya lu ikut semangat dan bantuin. Sekarang lo malah gak fokus dan mikir ke hal lain. Makanya jangan pacaran terus! Kalau udah janji ya dateng tepat waktu” Aku langsung menjadi naik pitam mendengar semua itu.

“Lo ngomong apa sih? Kenapa lo yang jadi marah-marah? Kalau gue pacaran emang ada masalah buat lo? Ganggu lo? gue telat karena macet ambil barang si Dick. Gak usah lebay deh. Anthony ajah biasa ajah, lo itu bukan siapa-siapa kenapa jadi marahin gue?” aku melempar kertas ditanganku kearah Bastian. Dia terdiam

“Jadi gue bukan siapa-siapa buat lo?”

“Ya!” aku membalasnya dengan penuh emosi dan tanpa pikir panjang. Aku segera berjalan kearah kamarku. Aku sudah terlalu lelah dan ingin segera istirahat. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya diluar dugaanku.

Bastian mendahuluiku memasuki kamar, dan aku lihat ada sesuatu yang aneh dikamarku. Ada sebuah bingkisan di atas kasurku beserta kue. Dan ada lampu-lampu kecil tertempel di dinding beserta beberapa fotoku dan bastian.

Tetapi Bastian langsung menghancurkan hiasan itu sengan sekali tarik. Semua lampu itu langsung padam dan berserakan dilantai. Lalu dia melempar kue itu keluar jendela. Aku terdiam seribu bahasa melihat itu semua. Anthony langsung meninggalkan kami berdua. sepertinya ini rencana mereka untuk memberikan sesuatu dikamarku.

“Terima kasih menyadarkan gue kalau gue bukan siapa-siapa buat lo” dia melewatiku dnegan sebuah bingkisan ditangannya

“Bastian! Apaan sih lo jadi emosian begini?” aku berusaha mengejar langkah Bastian tetapi dia tidak berhenti.

“Bastian! stop!” aku menarik tangannya. Akhirnya dia berhenti tetapi dia tidak menatap wajahku

“Sorry tadi gue emosi. Lo duluan yang marahin gue dan mancing emosi gue. Sorry kalau gue udah nyinggung perasaan lo” dia tidak berkata apa-apa.

“emang gue bukan siapa-siapa lo. jadi lo gak usah peduliin sikap gue. Gak usah terus ada di samping gue lagi, gak usah dengerin cerita gue lagi, gak usah jadi tempat dimana gue bisa nyaman, jangan peduliin gue yang bukan siapa-siapa lo. peduliin ajah Sherin, terus ajah disamping dia, terus dengerin ceritanya dia karena dia lebih penting dari gue yang bukan siapa-siapa lo”

Semua perkataan Bastian menjadi tidak masuk akal. Dia jadi bawa-bawa Sherin dari semua ini.

“Lo cemburu sama Sherin?” tembakku langsung. Dan langsung membuatnya gelagapan. Dia seperti mendapatkan tamparan diwajahnya.

“Happy birthday” Bastian memberikan paksa kado tersebut lalu segera meluncur kemobilnya. Aku hanya bisa menatap mobilnya yang terpacu dengan cepat. Dan aku melihat sebuah kue hancur berantakan di halaman rumahku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s