cerita gay

10. Dimulai dan berhenti

Aku menyaksikan mobil Bastian melaju sangat cepat. Dia meniggalkan aku yang Cuma bisa bertanya-tanya akan sikapnay. Aku menatap kue yang telah hancur di halaman rumah. aku menghampiri kue tersebut dan terseungkur disampingnya. Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang sangat sakit didalam hati ini.

Dengan perlahan aku mengambil kue yang masih bersih dengan tanganku. Aku menyuapkannya kedalam mulutku dengan airmata yang mulai turun melewati pipiku. Dan dengan tangan yang masih berlepotan krim kue, aku membuka kado dari Bastian. dan didalamnya aku menemukan sebuah buku dan sebuah jaket putih.

Aku membuka buku itu dari halam pertama. Aku mendapatkan tulisan tangan Bastian yang sangat aku kenal.

Hari pertama

Aku jatuh cinta kepada seseorang yang melarang aku untuk berbicara kepada orang yang paling mengerti aku. Sedangkan aku selalu ingin bercerita kepadanya tentang apapun yang aku alami hari ini. tetapi aku hanya bisa mengikuti ini. Kalau kata Musa, hubungan itu bisa berhasil karena ada usaha dari kami. Jadi apa boleh buat aku harus menjauhi Musa dan mengusahakan hubunganku dengan Benaya.

Seandainya ada Musa, aku ingin bilang kalau hari ini aku menemukan sebuah café lucu yang sangat unik. Dia pasti sangat suka dengan semua menu ice cream disana dan semua dekorasi yang unik pasti jadi tempat Musa berfoto-foto. Tetapi apa boleh buat, aku harus menunggu waktu yang tepat untuk mengajak dia

Aku membalik halaman berikutnya dan seterusnya. Semua hari dia menulis sesuatu yang tidak bisa dia sampaikan kepadaku. Sejak dari dia dan Benaya berhubungan sampai hari kemarin

Hari dimana aku merindukan Musa

Aku tidak pernah memiliki sahabar seperti dia. Aku rasa aku sudah ketergantungan kepada dia. Aku menjadi ingat kata-kata dia kalau seorang sahabat itu selalu menaruh kasih setiap waktu. Disaat duka atau suka. Ya setidaknya itu yang aku ingat. Karena itu dia kutip dari sebuah alkitab.

Dan ketika aku merindukan Musa, aku hanya bisa memulai sesuatu yang Musa ajarkan kepada ku. Yaitu berdoa. Aku akan mencoba kembali kepadaNya agar aku bisa dikasih kesempatan bertemu kepada Musa. Tetapi semua doa itu sepertinya tidak bagus, sehingga Tuhan tidak menjawabku.

Musa memang berkata kalau Tuhan itu tidak melihat doa yang bagus atau tidak. Tetapi hati setiap kita. I don’t know, and I don’t understand. But I try. Mungkin kalau aku kembali menginap aku akan mencoba kembali membaca alkitab dan mulai belajar berdoa kepada Musa.

Dan besok dia ulang tahun, aku akan memberikan dia kejutan dikamarnya. Dan memberikan dia kado yang selama ini dia inginkan, yaitu aku kembali ke gereja dan kembali mempercayai Tuhan itu ada di dunia ini. sekali lagi aku akan mencoba untuk Musa.

Dan ketika kamu membaca ini Musa, terimakasih sudah membaca sampai halaman ini. dan terimakasih untuk tidak jemu untuk menjadi sahabat yang baik. Kalau nanti aku sudah bisa berdoa, aku ingin sekali berdoa kepada Tuhan.

Aku ingin mendapatkan seorang teman hidup seperti kamu. Yang pas seperti kamu. Entah itu seorang wanita atau pria. Entah apakah gay itu salah atau tidak. Atau dia setuju aku menjadi gay atau tidak. Ya setidaknya aku sudah meminta. Dan kalau boleh aku ingin kamu jadi pendamping hidup aku

 

Aku menangis membaca itu. Semua itu terlalu menonjolkan sisi melankolis dari seorang Bastian. dan itu semua memancing aku untuk menunjukan sisi melankolisku. Aku membawa beberpa bagian kue yang masih bersih dan membawanya ke kamar. Aku letakan kue itu dan memakai jaket dari Bastian.

Aku dapat mencium wangi tubuh bastian. Pasti dia sudah memberikan semprotan parfumnya di jaket ini. dan dengan perlahan aku menhampiri lampu-lampu kecil yang berserakan di lantai beserta foto-foto. Aku memasang kembali itu di dinding dan mencoba membuat itu kembali terlihat indah.

Bastian terlihat sangat kecewa dan entah kenapa aku sangat sedih melihat itu semua. dia menganggap perteman kami begitu berharga dan itu yang membuat aku merasa begitu special. Merasa sangat berguna dan merasa sangat istimewa. Tetapi ketika aku tau telah mengecewakan orang yang telah membuat aku merasa seperti itu, aku merasakan kesedihan.

***

“Dan kita semua mendoakan untuk pasangan baru ini. semoga semakin diberkati dan menjadi keluarga yang memberi berkat untuk semuanya”

Tepuk tangan membahana di seluruh ballroom. Aku melihat wajah bahagia Anthony dan istirnya. Semua menjadi sangat riuh ketika pembawa acara mempersilahkan untuk menikmati berbagai macam hidangan. Aku tidak terlalu suka dengan segala kemeriahan ini, aku mencoba menghilang dari kerumunan.

Aku duduk melihat berbagai macam orang yang berlalu lalang menikmati pesta. Aku bisa melihat Anthony dan kakak iparku sedang menyalami beberapa tamu. Mereka terus memberikan senyum kepada tamu yang mereka datangi. Beberapa teman mereka meledek dan membuat mereka berdua malu-malu.

Dan ada satu tamu yang menarik perhatianku, aku melihat Bastian menghampiri Anthony dan memberikan pelukan kepadanya. AKu dan bastian sudah hilang contact dan tidak bertemu dia di tempat kerjaan lagi. DIa memutuskan untuk menyerahkan jabatan itu kembali dan mencari perkerjaan lain yang aku tidak tau dimana itu.

Aku memalingkan wajah dan berusaha untuk tidak bertemu dengan dia. Dan berhasil, sudah hampir selesai aku tidak bertemu dengan dia.. tetapi ini semua hanya dugaanku saja. Bastian sudah berada tepat disampingku.

“Mau cari tempat yang lebih sepi? Seinget gue lo gak suka pesta seperti ini” Dia tersenyum dan mulai menarikku mengikuti dia. Dia berjalan ke sebuah ruangan yang cukup jauh dari ruangan utama. Tetapi kami masih bisa mendengar suara musik dari sana.

Aku berjalan kearah jendela dan berusaha tidak menatap Bastian. aku merasa sangat kangen tetapi kesal kepadanya.

“Apa kabar?” Dia ikutan menatap keluar jendela

“Baik, lo?” jawabku simple

“Baik juga” kami terdiam. Dan hanya menikmati jalanan yang terlihat cukup ramai. Dengan alunan musik yang perlahan-lahan menyusup memasuki ruangan yang ada hanya ada aku dan Bastian

Cukup lama kami terdiam, sampai Bastian menarikku ke tengah ruangan dan memposisikan seperti ingin berdansa.

“Ngapain sih?” Bastian tidak menjawab, dia hanya mengalungkan tanganku ke leherku dan dia memeluk pelan punggunku. Aku merasa risih dengan semua ini, tetapi bastian terlalu keras kepala untuk melepaskan aku

“Maaf untuk semua yang sudah terjadi” Kata bastian sambil menyesuaikan langkah kami mengikuti irama musik

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Gue rasa kita sudah cukup sama-sama dewasa untuk menyelesaikan ini dengan baik-baik. Dan gue gak marah sama lo”

“Kalau gak marah kenapa menghindar terus dari gue?”

“Karena gue yang merasa bersalah atas semua ini” Bsatian terdiam mendengar ucapanku. Kami terus mengikuti irama musik. Berdansa seperti orang idiot. Dan untung saja Sherin tidak ada disini, kalau ada mungkin dia akan salah paham.

“gue dan benaya sudah putus. Sebenarnya putus sebelum lu ulang tahun” Bastian tersenyum menujukan giginya. Ciri khasnya yang selalu seperti itu

“Kenapa?” aku menggaruk kecil leher bastian

“Karena gue ingat, hubungan itu harus dilaksanakan oleh dua orang. kalau hanya satu doang yang berusaha, itu namanya menyiksa diri sendiri” aku ingat itu yang aku katakana kepada Bastian.

“Lalu?”

“Ya gitu. Gue dan dia pisah baik-baik. Gue sudah kasih dia jalan ke temen gue yang tajir minta ampun. Akhirnya dia mau melepas gue.” Dia terkikik dan itu membuat au menunjukan senyumku

Bastian terdiam menatapku yang menatap dia balik. Musik mengalun lembut dan membuat tubuh ini memeluk erat tubuh Bastian. aku merasakan sebuah kehangatan keluar dari tubuhnya. Melihat aku seperti itu, bastian membalas pelukanku dengan memelukku semakin erat.

Kami terdiam dan tidak bergerak mengikuti musik. Kami hanya menikmati hangat tubuh yang keluar dari tubuh kami. Aku merasakan jantungku berdetak semakin cepat dan aku bisa merasakan jantung Bastian juga berdetak semakin cepat.

Dengan perlahan aku melepaskan pelukanku dan menatap Bastian. dia menatapku lalu dengan perlahan dia menempelkan bibirnya yang terasa kasar itu di bibirku. Aku merasakan sensasi yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Ada sebuah ledakan besar terjadi didalam otak dan dadaku.

Perasaan manis menghinggap dibibirku. Aku merasakan aroma fresh dari pasta gigi yang memasuki pernafasanku. Dengan perlahan Bastian melumat bibirku dan memberikan sensasi lembut tetapi kasar karena bibirnya yang kasar. Ditambah sepertinya bastian baru mencukur kumis dan janggutnya memberikan sensasi kasar dan geli di pipiku.

Dan tiba-tiba aku merasakan tanganku mendorong bastian dengan sangat kuat dan memberikan kami jarak.

“Stop!!” Bastian terkejut dengan responku. Dan seketika aku meninju pipinya bastian

“Gue hargai lo sebagai teman, dan please hargai itu” aku meninggalkan Bastian yang sedang kesakitan. Aku tidak peduli dengan dia. Aku menikmati itu,, aku tidak bisa bohong. Tetapi aku tiba—tiba membayangkan keluargaku berada di depanku. Dan Sherin dia terlihat sangat jelas didalam benakku. Dan itu yang membuat aku tersadar kalau aku sudah terlalu jauh. TUhan mengingatkan aku agar aku tidak memasuki jalan itu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s