cerita gay

11. Pilihan

Ketika aku sedang menatap layar computer berusaha untuk mencari semangat menyelesaikan kerjaan. Sebuah pop-up pesan muncul dilayar handphoneku. Aku melihat nama Anthony disana. Ketika aku membuka pesannya, muncul sebuah gambar bayi yang sedang tertidur dipelukan ibunya.

Dapat salam dari Yemima Kristantina Dewantara

Aku kaget melihat pesan itu. Aku tidak menyangka kalau hari ini istrinya akan melahirkan. Setau aku, perkiraan masih minggu depan.

Sudah lahir? Kok mendadak? Congrats bro! Tuhan berkati semuanya. Biar dia bertumbuh di dalam Tuhan dan menjadi anak berkat dimanapun dia berada

Aku tersenyum-senyum sendiri melihat keponakanku yang sangat cantik. Mirip sekali dengan ibunya tetapi aku juga bisa melihat wajah Anthony disana.

Thanks bro. istri gue mendadak mules tadi pagi. Akhirnya lahir deh. Namanya juga rencana Tuhan. Thanks once again

Aku tau pasti orang tuaku akan senang mendapat seorang cucu yang cantik seperti itu. Dan aku rasa sekarang mereka sedang kegirangan. Menambah cucu buat mereka. Sebelumnya mereka mendapat cucu laki-laki dari Anthony. Dan setelah 2 tahun kemudian mereka mendapatkan cucu kembali.

Aku mengirimkan Sherin foto keponakanku. Mencoba berbagi kebahagian kepadanya.

Yemima Kristantina Dewantara.

Aku menatap pesan itu cukup lama sebelum aku mengirimkannya ke Sherin. Dan tidak beberapa lama ada balasan dari Sherin

Lucu banget, wajahnya mirip sama mamanya. Koko kamu hanya menyumbang sedikit

Hahaha,baguslah. Kalau dia menyumbang banyak. Nanti jadi tidak lucu.

Lalu kapan kamu akan menjadikan aku Sherin Aluna Dewantara?

Aku tercengan menatap pesan dari Sherin. Kita memang sudah cukup lama berpacaran. Hampir 4 tahun aku menyandang sebagai kekasih dari Sherin Aluna. Sduah banyak orang menanyakan kapan kami akan mengabadikan hubungan kami. Tetapi entah kenapa aku merasa belum siap. Aku merasa semua ini masih di bayanganku.

Ketika Tuhan sudah mengatakan ya

Sherin tidak membalas apa-apa. Dia hanya memberikan tanda Read di chat. Aku menghela nafas mencoba meringankan pikiran dan hati yang berat karena chat tersebut.

Aku mencintai Sherin. Sangat sayang kepadanya. Tetapi ketika aku memikirkan aku menjadi seorang suami dari Sherin? Aku ragu. Ada keraguan besar yang muncul dalam hati yang selalu membuat hati dan pikiran ini tidak tenang.

Selama satu hari aku menjadi tidak tenang, tidak fokus dengan perkerjaan ku dan selalu bersikap aneh. Sherin melihat itu menjadi bertanya, apakah sikapku ini karena pertanyaan dia di Chat.

“Bukan, tenang saja. Aku Cuma lelah. Butuh istirahat” Sherin mengusap lenganku yang sedang menyetir. Kami mau menghampiri Anthony dan keluargaku yang sedang berada di rumah sakit. Aku mencoba bersikap biasa saja kepada Sherin.

Sesampai kami di rumah sakit. Aku langsung menghampiri mereka. Aku melihat papa sedang menggendon cucu keduanya. Dan mama terus mengikuti papa. Mereka mendapat mainan baru pikirku.

“uncle musa datang!” aku menggendong keponakan pertamaku. Yehezkiel Dewantara. Dia memelukku dengan erat dan terus berceloteh dengan bawelnya.

Aku memberikan beberapa bingkisan kepada Musa. Sherin menghampiri kakak iparku yang sedang berbaring dikasur. Kakak iparku terlihat lelah, tetapi ada kesenangan didalam matanya.

Setelah beberapa obrolan dan sang bayi ditidurkan. Timbulah sebuah obrolan yang ingin aku hindari.

“Jadi kapan kalian akan segera menyusul?” Anthony menggodaku.

“Tunggu Musa dapet jawaban Ya dari Tuhan ko” Sherin meliriku dengan tatapannya. Ada tatapan ikutan menggoda sekaligus tatapan tanda tanya besar. Aku hanya tertawa-tawa menanggapi itu. Dan berusaha memberikan jawaban sebisa mungkin mengakhiri pertanyaan itu.

***

“Pa, lagi sibuk?” aku memasuki ruang kerja papaku. Aku rasa untuk saat ini aku butuh dia untuk menjernihkan segala urusan ini.

“Tentu tidak Musa, sini-sini temani papa” dia menepuk-nepuk sampingnya menandakan untuk aku duduk disampingnya.

“Aku sedang bingung pa” papaku menatapku santai. Dia mempunyai tatapan teduh yang menenagkan.

“Silahkan tumpahkan semua pertanyaan yang sudah lama kamu pendam. Papa sudah menunggu lama untuk kamu tumpahkan semuanya” dia tersenyum. Memang kita tidak akan pernah bisa menyembunyikan apapun dari orang tua.

“aku rasa aku dan Sherin tidak akan pernah bersama” papaku cukup terkejut mendengar itu. Dia memperbaiki posisi duduknya.

“Kenapa kamu bicara seperti itu?”

“Papa bilang, ketika kita mengambil sebuah jalan. Tetapi tidak pernah ada rasa sukacita dan damai didalam hati. Itu merupakan sebuah jalan yang seharusnya tidak kita ambil. Dan papa bilang, ketika kita menjalani sebuah jalan yang tidak bagus tetapi ada sukacita dan damai di hati. Itu mungkin memang jalan yang harus kita jalani” papaku mengangguk setuju dengan pernyataanku. Dia terus mendengarkan.

“AKu sudah hampir 4 tahun menjalani hubunganku dengan SHerin. Dan setahun terakhir ini aku merasakan kekhawatiran yang sangat besar ketika aku berjalan sama dia. Ditambah ketika aku mendoakan dia menjadi pasangan hidupku. Rasa khawatir itu terus bertumbuh. Dan memakan pikiran dan hati.”

Papaku dengan pandangan teduhnya tersenyum. Dia mengacak-acak rambutku dengan tangannya yang mulai keriput termakan usia.

“Terkadang memang untuk menghadapi sesuatu dibutuhkan sebuah kekhawatiran. Kita butuh itu untuk menandakan kita masih seorang manusia. Dan itu dibutuhkan untuk kita berbuat semakin baik. Tapi berbahaya ketika kekhawatiran itu memakan hati dan pikiran. Atasi itu dulu, taklukan itu dahulu. Baru kamu tentukan jalan mana yang akan kamu pilih.” Dia mengacak-acak rambutku kembali lalu bangkit dari duduknya. Dia bersiap keluar dari ruangan, tetapi aku mencoba menahannya

“Jadi aku harus gimana?”

“Ya kamu yang tau jawabannya. Dan kamu pasti akan tau jawabannya.” Lalu dia keluar dari ruangan. Tinggalah aku sendiri yang kebingungan.

Aku menatap foto aku dan Sherin yang terpasang sebagai wallpaper di handphoneku. Lalu aku mencoba menghubungi Sherin. Dan ketika ada suara Sherin disana, aku merasakan sebuah keberanian untuk menghadapi semua ini. tiba-tiba ada sebuah perasaan yang meluap-luap muncul di dadaku.

“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Kamu lagi apa?”

“Lagi ngobrol sama mama. Aku juga mau ngomong sama kamu. Kebetulan ya. Hahaha”

“yaudah, mau ketemu sekarang?”

“Boleh”

Aku menutup panggilan telepon dan segera meluncur keruma Sherin. Aku membunyikan pelan klakson mobilku ketika sudah berada di depan rumahnya. Dan aku luncurkan kembali mobilku kesebuah café yang tidak jauh dari rumahnya.

Sherin memainkan handphonenya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Dan itu juga aku lakukan. Kami sama-sama menyimpan sesuatu lidah kami.

“Aku atau kamu duluan?” tanyaku

“hmmm, aku dulu boleh?” dia menundukan kepalanya.

“hmmm, oke” dia menaruh handphonenya di meja. Dan menarik nafasnya dengan sangat dalam.

“Aku mau putus dari kamu”

DAR!! Aku merasakan sebuah petir menyambarku. Aku seperti tidak percaya dengan apa yang dia katakana.

“Aku mau kita udahan ajah sampai disini. Aku mau minta maaf kalau mungkin ini terdengar mendadak untuk kamu. Dan aku minta maaf kalau aku sudah berlaku seperti ini sama kamu. Tetapi kamu yang membuat aku seperti ini. aku tidak bisa menunggu terlalu lama Musa. Dan ketika aku melihat kamu, aku tidak melihat masa depan bersama kamu.” Dia menarik nafasnya kembali. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku merasakan ada sebuah tangan menarik sesuatu didalam hatiku.

“aku mohon kamu dapat mengerti ini semua. Dan aku kamu tidak marah karena telah selingkuh dari kamu selama 2 tahun ini. DIa anak dari teman mama. Dia sangat baik kepadaku dan aku melihat ada masa depan ketika aku bersama dia. Dan dia hari ini telah melamarku. Jadi aku memilih dia. Dan aku mau kita mengakhiri ini semua. maaf sekali lagi” dia kembali menundukan kepalanya. Aku tidak dapat berkata apa-apa. Aku hanya berdiri meninggalkannya duduk sendiri. Aku pergi ke kasir membayar semua pesanan. Dan aku berpesan kepada kasirnya untuk memesankan sebuah taksi untuk Sherin.

Aku berjalan mencari mobilku dan ingin segera pergi dari sini. Tetapi ketika aku menemukan mobilku, aku melihat seseorang sedang tersungkur dipojokan. Dia terlihat seperti kesakitan.

Dengan perlahan aku berjalan kearahnya. Aku dapat mendengar dia mengerang kesakitan memegani perutnya. Aku mengenali suara itu, suara yang sudah lama tidak aku dengar. Aku berlari seketika kearahnya. Dan mencoba membantunya berdiri. Tetapi aku melihat ada pisau tertancap di perutnya dan darah mengaliri kemejanya.

“Bastian! Bastian!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s