YOU and you

13. Amin

“Aku bilang Musa untuk tidak menjauhi Bastian karena aku mau dia mengembalikan Bastian ke jalan yang benar. Bukan untuk dia ikut sama si Bastian.” Anthony berdiri didepanku yang sedang terduduk di sofa.

“Musa, kamu jelaskan apa yang terjadi sebenarnya.” Mama yang disampingku mengelus pundaku. Sedangkan papa hanya terduduk terdiam menatapku.

“Aku sudah bilang semuanya ini karena salah paham. Aku sama Bastian tidak ada apa-apa. Tadi Anthony salah lihat pas aku lagi bercanda sama Bastian.

“Bercanda tetapi usap-usap pipi?” Anthony menyambar. Dia tidak bisa diam, dia terus berjalan mengitari ruang tamu.

“ya namanya juga bercanda. Gue sama dia gak ada apa-apa yang seperti lo pikirkan?”

“Gue dari awal udah curiga dengan hubungan kalian. Lo terlalu dekat sama dia. Lo tau dia gay, lo tau dia homoseksual seharusnya lo bisa jaga diri supaya lo gak terjerumus. Tetapi lo malah nyaman dengan dia”

“Lalu salah kalau gue nyaman dengan keberadaan dia? Dia itu temen gue. Dan gue udah lama gak ketemu dengan dia, salah kalau gue bercanda dengan dia?”

“Salah ketika lo udah terlalu berlebihan khawatir sama dia, salah ketika lo udah menaruh rasa yang salah kepada dia. Jujur dihadapan papa mama, lo itu gay atau bukan?” Anthony menekanku begitu keras. Dia memaksakan aku untuk menjawab pertanyaan yang aku tidak tau jawabannya. Terlebih ada orang tuaku yang membuat semua ini semakin menekan.

Papa menatapku dengan pandangannya yang biasa. tetapi dia hanya terdiam melihat aku bertengkar dengan Anthony. Sedangkan mama mulai menunjukan tanda ingin menangis.

“Gue bukan gay. Bastian itu teman biasa buat gue, gue itu normal. TUhan menjadikan gue laki-laki dan gue gak akan mengubah kodrat itu” Mama memelukku dengan sangat erat. Tetapi jawaban itu tidak membawa kepuasan kepada Anthony.

“jangan biarkan Bastian nginap dan dekat-dekat sama lo lagi. Lo itu harus dijauhkan dari dia.” Mama mengangguk. Lalu dia menatap papa.

“ini hanya masalah kecil yang tidak perlu di besarkan. Hanya salah komunikasi dan kekhawatiran berlebihan dari Anthony. Dan itu perasaan yang dialami oleh Musa kepada Bastian. Papa kira itu wajar, karena mereka sahabat yang sudah lama berpisash” Mendengar itu aku seperti mendapatkan kelegaan dari semua himpitan Anthony.

“Ya semoga saja” Anthony duduk disampingku. Lalu menepuk pundakku.

“Gue seperti ini karena gue sayang sama lo. Lo itu adik gue, dan gue akan menjaga lo. Maaf kalau gue terlalu keras sama lo.” aku hanya mengangguk. Aku menjadi merasa sangat bersalah.

Aku merasakan persaan lebih terhadap Bastian. dan aku tau itu. Aku tidak bisa menyangkalnya. Aku suka ketika Bastian menyentuh kulitku. Aku suka ketika Bastiann menatapku, aku suka ketika Bastian memanggilku dengan sebutan sayang dan aku menjadi suka ketika kumis tipis bastian menyentuh wajahku dengan lembut.

Tetapi aku tau itu semua salah, perasaan itu salah. Tidak sewajarnya aku merasakan perasaan itu kepada seorang laki-laki. Menurut alkitab, laki-laki diciptakan untuk bersama dengan wanita. Tidak dengan laki-laki. Tetapi apa yang aku rasakan kepada Bastian terasa sangat benar.

Aku hanya tersenyum kepada keluargaku. Aku tidak mau mengecewakan meraka. Terlebih lagi dengan jabatan papa dan mama di gereja yang cukup terpandang. Aku tidak mau merusak nama baik mereka.

“tetapi Bastian tetap batal untuk tinggal bersama kita. LEbih  baik kita sewakan dia seorang suster untuk merawat dia. Toh hanya luka tusuk, papa rasa tidak akan lama.” Mendengar itu ada rasa sakit didalam hatiku yang mulai muncul. Tertolak.

***

AKu tidak pernah bisa menemui Bastian kembali. Aku sudah berjanji kepada orang tuaku untuk menjauhi Bastian. Dan aku rasa memang itu yang diperlukan. Aku tidak mau jatuh kedalam dosa ini lebih jauh. Sebelum kau terlalu jauh, aku harus hentikan ini semua. dan satu-satunya cara adalah dengan menjauhi bastian.

“Musa tidak ada dirumah? Tetapi kenapa mobilnya ada didepan tante?” aku menguping pembicaraan mama dengan Bastian diruang tamu. Aku berusaha agar bastian tidak melihat diriku.

“Iya, tadi dia pergi sama Anthony. Entah kemana itu, mungkin bertemu keponakannya.” Mama ku berusaaha tersenyum seperti biasa. berpura-pura untuk tidak tau kalau Bastian gay.

“Tante, saya tau tante selama ini berpura-pura baik kepada saya. Saya tau saya seorang gay, tetapi saya mohon. Izinkan saya bertemu Musa untuk sekali ini saja. Setelah ini saya akan pergi dari kehidupan Musa. Dan semuanya” Bastian memelas, tetapi itu tidak cukup berhasil. Mama tetap berakting kalau aku tidak ada dirumah. Dan setelah tau usahanya sia-sia, Bastian pamitan dan pergi dari rumahku.

Setelah kepergiannnya, aku kembali ke dalam kamar dan mengambil handphoneku. Aku putarkan sebuah lagu rohani berusaha untuk menenagkan pikiranku. Aku mencoba berdoa dan berharap Tuhan segera menghapuskan perasaan ini.

Tiba-tiba aku mendengar pintuk kamarku di ketuk oleh seseorang. Dan ketika aku buka, papa sudah berada disana menanti untuk aku mempersilahkannya masuk.

“Masuk pa” Papa berjalan mengitari kamarku dan melihat foto yang terpajang di dinding dan meja. Hingga dia menatap hiasan yang di persiapkan Bastian dihari ulang tahunku.

“Kamu sudah sangat besar ya. Papa tidak nyangka melewatkan banyak hal bersama kamu” aku hany tersenyum dan mengikutinya dari belakang.

“Papa masih ingat ekspresi wajah kamu ketika baru pertama kali ke sekolah minggu. Kamu tidak takut sama sekali, kamu sangat bersemangat. Bahkan setelah pulang, kamu ingin sekali menjadi seorang kakak gereja” papa tertawa kecil. Dan aku mengingat kejadian itu.

“Ya tapi sekarang aku tidak tahan dengan suara tangis mereka” Kami berdua tertawa bersamaan.

“Papa ingat bagaimana kamu bertumbuh menjadi orang yang sangat peduli dengan sesama. Kamu sangat tidak bisa melihat orang susah. Kamu selalu ingin membuat orang lain tertawa meskipun kamu harus dikorbankan.” Aku tidak tau kemana arah papa akan membawa percakapan ini.

Papa duduk di samping kasurku. Dan mengajakku duduk disampingnya.

“Kamu orang yang punya banyak cita-cita. Ingin menjadi ini, ingin menjadi itu kamu selalu berubah-ubah. Tetapi kamu ingat apa yang akan papa selalu ucapkan?” aku mencoba mengingat perkataan itu. Tetapi papa langsung menjawabnya dan sukses membuat aku meneteskan air mata.

“Kamu tetap kebanggaannya papa. Kamu tetap anak yang papa sayang. Asalkan apapun yang kamu lakukan, lakukan dengan kebaikan. Buat orang lain bangga dengan apa yang kamu lakukan. Tuhan akan selalu memberkati kamu. Karena apa? Karena papa dan mama selalu berdoa untuk kamu.”

Aku memeluk tubuh papaku dengan sangat erat. Aku merasakan air mata sudah mengalir deras dipipiku.

“Aku tidak mau menjadi seorang gay pa, aku tidak pernah merencanakan ini.”

Papa memelukku dan aku tau dia ikut menangis bersama ku.

“Yang papa tau, tidak ada yang kebetulan didunia ini. papa tidak menyuruh kamu menjadi seorang gay. Tetapi papa mau kamu menjadi diri kamu sendiri. Jangan sembunyikann apa yang menjadi jati diri sejati kamu.”

“Aku seorang laki-laki. Aku tidak mau menjadi seroang gay.”

“Kalau begitu tetaplah menjadi seorang laki-laki. tetapi yang papa tau laki-laki juga punya hati dan perasaan. Apapun yang membawa damai dihatimu, lakukan itu” papa meninggalkanku dikamar. Dan ketika dia menutup pintu seketika ada lonjakan besar dihatiku yang membuat diriku segera berlari.

Aku tau Bastian belum memiliki kendaraan, dan aku lihat dia tadi datang dengan berjalan kaki. AKu rasa dia belum jauh dari rumah. aku berlari kearah Bastian meninggalkan rumah. dan tidak jauh aku melihat sosok laki-laki yang sedang berjalan menyusuri jalan.

Dengan cepat dan pasti aku segera menyusul dia dan memeluknya dari belakang. Aku memeluknya dengan sangat erat, dan sangat erat. Aku tidak mau melepaskannya. Dan ketika Bastian berbalik, dia langsung memberikan sennyuman paling bahagia yang pernah ada.

Di pinggir jalan yang sepi dengan penerangann yang seadanya. Bastian mengecup bibirku dengan bibirnya yang sedikit kasar tetapi lembut. Kumis tipisnya yang perlahan menyusuri pipiku dan memberikan sensasi  yang unik tetapi aku suka.

“Yap, im gay. And im in love with you” aku memeluk tubuhnya kembali. Aku dan bastian berjalan kearah rumah. dan aku melihat papa dan mama menanti didepan pintu.

Mereka memeluk kami dengan tangan terbuka. Dengan air mata mereka menyambut kami dengan penuh kasih sayang dan penerimaan. Kami tidak tau kemana hidup akan mmembawa kami akibat dari keputusan kami ini. tetapi kami siap menerima itu semua.

Dan satu hal yang tidak bisa aku percaya, Anthony mampu menerimma kami apa adanya. Papa berbicara kepada Anthony. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, tetapi aku melihat itu sangat berdampak kepada cara Anthony melihat kami.

Hingga disuatu pagi, aku bisa melihat kedua keponakanku sedang asik bermain dengan papaku. Istri Anthony yang asik berduaan dengan Anthony menatap anak mereka yang sedang bermain.

Aku bisa melihat mamaku yang sedang menyiapkan berbagai makanan untuk makan malam kami. Hingga kami semua duduk bersebelahan siap untuk menyantap hidangan yang dipersiapkan mama.

Dann tidak terlupa, Bastian datang dari atas menghampiri kami. Dia memelukku dari belakang dan memberikan kecupan di leherku dengan kumis dan janggut tipisnya. Dia duduk disampingku dan menyapa 2 anak bocah yang menghampiri mereka.

Kami semua terdiam  setelah papa mulai ancang-ancang untuk berdoa.

“Bapa kami yang di sorga, dikuduskan namaMu dibumi dan disorga. Terima kasih untuk makanan yang kau beri untuk mala mini. Sehingga kami bisa menikmati makanan ini dan masih bisa bersyukur untuk berkat yang kau beri. Kami sebagai keluarga, keluarga yang satu. Berkati keluarga ini hingga akhir. Hingga kami tau kalau kami sudah menyelesaikan perjalanan kami. Didalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Amin”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s