YOU and you

12. Do you love me?

Aku terus memegang tangan bastian sepanjang jalan menuju rumah sakit. Ketika melihat Bastian berdarah membuat aku panic dan memanggil beberapa orang. karena akku panic, aku membiarkan orang lain yang mengendarai mobilku sedangkan aku menemani Bastian.

“Bas, sadar bas. Jangan tidur, stay with me.” AKu menepuk wajahnya kembali menekan luka di perutnya. Berharap pendarahan itu tidak menjadi parah.

Tetapi bastian hanya menggumam tidak jelas dan mengeratkan tangannya. Air mataku terus mengalir, ada ke khawatiran besar yang berkecamuk di pikiranku. Bastian menyentuh pipiku dengan tangannya yang berdarah, dia bermaksud menghapus air mataku.

“Please, jangan tidur. Terus sadar bas” Bastian hanya menggumam tidak jelas. Ketika sudah sampai di rumah sakit, beberapa orang dengan sigap menangani Bastian. Bastian dipindahkan ke UGD dan aku hanya bisa menunggu khawatir.

Tubuhku bergetar karena terlalu khawatir. Aku mencoba menghubungi Anthony tetapi nomornya tidak bisa dihubungi. Aku mencoba mengirim pesan berharap dia akan membacanya.

“Tuhan, tolong bantu Bastian melewati semua ini. Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi terhadapnya. Aku mohon” Berdoa adalah satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk dia. Dan tidak beberapa lama, dokter seperti menjawab doaku. Dokter keluar dari ruangan.

“Anda keluarga dari saudara Bastian?”

“Saya temannya, dia tidak memiliki saudara lain. Bagaimana keadaan dia dok?”

“Bastian sudah kehilangan banyak darah, kami butuh darah secepatnya. Bila tidak ada keluarganya kami akan coba minta ke PMI untuk bastian.”

“Golongan darahnya apa dok? Coba diambil darah saya seccepatnya bila memang cocok”

***

“Kalau gitu, bastian tinggal dirumah kita saja. Biar ada yang urus dia” Mamaku menyambar dari sofa. Dengan tangan yang asik mengupas apel untuk Bastian.

“Tidak apa tante, Bastian bisa kok sendiri” Bastian senyum senyum melihat keluargaku datang menjenguk. KArena memang tidak ada keluarga lain yang menjenguk Bastian.

“Bisa apa? KAmu nanti malah tambah parah. Nanti Musa bisa panic lagi liat keadaan kamu kayak gitu” Mama memberikan apel yang sudah dikupas dan dipotong ke bastian. Bastian menatapku dengan tatapan meledek.

“Mama gak usah bahas itu terus. Nanti dia besar kepala. Aku khawatir karena dia berdarah di mobil ku.” Mama hanya tersenyum melihat pembelaanku. Tetapi tidak dengan Anthony Dia menatap dengan tatapan aneh kearahku.

“Yasudah, mama tidak peduli. Intinya Bastian akan tinggal bersama kita untuk sementara. Papa sudah setuju kok.”

“Yaudah terserah mama saja. Tapi kalau dia bermanja ria di kamarku, aku lempar dia dari jendela.” Aku mengambil mangkuk apel dari bastian. MElihat aku bercanda dengan bastian, Anthony mengambil mangkuk tersebut dan dia memberikan tatapan aneh kepada ku dan bastian.

“Nanti bastian pakai bekas kamar gue ajah. Biar dia lebih privasi dan steril. Gak perlu gabung.” Anthony menghabiskan Apel yang dipotong mama. Dan kami hanya mengangguk setuju dengan usulnya. Tapi aku bisa merasakan ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Anthony.

Setelah mengobrol-ngobrol, mama minta Anthony mengantar dirinya ke supermarket. Ingin belanja bulanan katanya.

“Mama pulang dulu kamu jagain Bastian.” setelah berbasa-basi mama keluar dari ruangan. Dan Anthony mengikuti dari belakang.

“okay, sekarang cerita sama gue yang sebenarnya.” Aku menatap wajahnya bastian dan menantikan sebuah jawaban. KArena aku tau, cerita tentang dirinya yang dirampok adalah sebuah kebohongan.

“Kamu mau aku cerita apa lagi sayang?” Dia tersenyum jahil mengcapkan hal itu. Dan itu memnag sukses membuat aku menjadi salah tingkah.

“Cerita sama gue yang sebenarnya.” Bastian tersenyum jahil lalu mencoba mencubit pipiku. Aku tidak berusaha menghindar, dan aku menikmati ketika dia memainkan jarinya di pipiku. Tetapi di waktu yang salah. Anthony datang dan melihat itu semua. Menjadikan suasana menjadi canggung.

“Gue mau ambil jaket mama yang ketinggalan.” Anthony mengambil jaket yang berada di sofa, lalu dia kembali keluar. Tetapi sebelum keluar dia menghampiriku.

“Cepet pulang” Lalu dia keluar kembali.

Aku dan bastian saling tatap.

“Gara-gara lo. Pasti si Dick mikir macem-macem tentang gue” Bastian tidak menggubris ucapanku. Dia kembali mencoba menyentuh pipiku. Tetapi kali ini aku mengelak.

“Jadi gue memang di rampok. Tetapi sama si Benaya.” Mendengar kata-kata benaya aku menjadi mengingat sebuah wajah yang dulu pernah menjadi pacar Bastian.

“Lah? Kok bisa? Kan lo udah putus sama dia. Kan dia udah dapet om kaya raya”

“Iya, tetapi mungkin di dicampakann setelah si om kaya raya bosan sama dia. JAdi dia balik ke gue. Ya karena gue kesepian, gue terima ajah. Tetapi ternyata salah, dia ambil mobil gue. Pas gue lacak, ternyata ada di deket lo ketemuin gue. Pas gue coba ngomong baik-baik, dia ternyata ada cowo lain. Dan akhirnya terjadilah perkelahian.”

“Dan sekarang dia dimana? Kenapa lo gak bilang dari kemarin? Dia harus bertanggung jawab buat semuanya.”

“Yasudahlah, Cuma mobil lama. Lagian gue udah dapat yang lebih berharga dari itu”

“Apaan?”

“Perasaan lo dan mungkin hatinya lo” aku reflek menggeplak kepalanya dengan tanganku.

“Tolol! Lo itu hampir mati gara-gara orang itu. Jangan malah menggampangkan semuanya” dia tertawa terbahak-bahak melihat responku.

“Do you love me, Musa?” Bastian menatapku dengan tatapan yang sangat lembut. Aku tidak menjawabnya, aku hanya mengusap lembut kepalanya.

“Yes?” Bastian menantikan jawaban dari mulutku. Tetapi aku tdak bisa menjawabnya. Aku tidak mau menjadi seorang gay. Kalau aku bilang ya, berarti aku mendeklarasikan diriku sebagai gay. Tetapi kalau bilang tidak, aku berbohong. Ya aku rasa aku sayang Bastian.

Perasaan ini begitu salah, dan mendadak aku menjadi sangat pusing. Aku tersenyum kepada bastian.

“I don’t know. Dan please gak usah bahas hal itu dulu. Lo harus sehat dulu.” Aku mengambil tasku dan bersiap-siap untuk pulang.

“Okay, gue gak akan menyia-nyiakan darah dari seseorang yang berarti buat gue” ucapan itu sukses membuat aku tersipu. Aku mengabaikannya lalu berjalan kearah rumah. aku tidak tau apa yang akan terjadi antara aku dan Anthony nanti dirumah, yang aku tau pasti ada hubungan dengan status Bastian.

Dan benar saja, ketika aku sampai bastian langsung menghampiriku dan memberikan berbagai pertanyaan.

“Lo gay?” Anthonny menahan tubuhku ketika mau menaiki tangga.

“Dude? Seriously?” Aku ingin menghindari Anthony. Dan mungkin pertanyaan itu. Karena memang aku tidak tau jawaban itu. Aku berusaha melewati Anthony. Tetapi Anthony lebih sigap untuk menghalangiku.

“Jawab gue sekarang. Lo pacaran sama Bastian? Jadi lo putus dari Sherin karena lo gay?” Bastian mulai menaikan suaranya. Aku mencoba menenagkannya, berharap papa mama tidak mendengar ini dan membuat ini menjadi semakin besar.

“Dude, calm down. Gak usah teriak-teriak gitu. Sabar gue bisa jelasin semuanya.” Aku mencoba memegang pundak Anthony, tetapi dia menepisnya dengan tatapan jijik.

“Kenapa lo malu kalau orang rumah tau kalau lo gay?” Dan apa yang tidak aku harapkan terjadi. Papa berada di belakang kami dan mendengar apa yang Anthony katakana.

Aku terus memegang tangan bastian sepanjang jalan menuju rumah sakit. Ketika melihat Bastian berdarah membuat aku panic dan memanggil beberapa orang. karena akku panic, aku membiarkan orang lain yang mengendarai mobilku sedangkan aku menemani Bastian.

“Bas, sadar bas. Jangan tidur, stay with me.” AKu menepuk wajahnya kembali menekan luka di perutnya. Berharap pendarahan itu tidak menjadi parah.

Tetapi bastian hanya menggumam tidak jelas dan mengeratkan tangannya. Air mataku terus mengalir, ada ke khawatiran besar yang berkecamuk di pikiranku. Bastian menyentuh pipiku dengan tangannya yang berdarah, dia bermaksud menghapus air mataku.

“Please, jangan tidur. Terus sadar bas” Bastian hanya menggumam tidak jelas. Ketika sudah sampai di rumah sakit, beberapa orang dengan sigap menangani Bastian. Bastian dipindahkan ke UGD dan aku hanya bisa menunggu khawatir.

Tubuhku bergetar karena terlalu khawatir. Aku mencoba menghubungi Anthony tetapi nomornya tidak bisa dihubungi. Aku mencoba mengirim pesan berharap dia akan membacanya.

“Tuhan, tolong bantu Bastian melewati semua ini. Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi terhadapnya. Aku mohon” Berdoa adalah satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk dia. Dan tidak beberapa lama, dokter seperti menjawab doaku. Dokter keluar dari ruangan.

“Anda keluarga dari saudara Bastian?”

“Saya temannya, dia tidak memiliki saudara lain. Bagaimana keadaan dia dok?”

“Bastian sudah kehilangan banyak darah, kami butuh darah secepatnya. Bila tidak ada keluarganya kami akan coba minta ke PMI untuk bastian.”

“Golongan darahnya apa dok? Coba diambil darah saya seccepatnya bila memang cocok”

***

“Kalau gitu, bastian tinggal dirumah kita saja. Biar ada yang urus dia” Mamaku menyambar dari sofa. Dengan tangan yang asik mengupas apel untuk Bastian.

“Tidak apa tante, Bastian bisa kok sendiri” Bastian senyum senyum melihat keluargaku datang menjenguk. KArena memang tidak ada keluarga lain yang menjenguk Bastian.

“Bisa apa? KAmu nanti malah tambah parah. Nanti Musa bisa panic lagi liat keadaan kamu kayak gitu” Mama memberikan apel yang sudah dikupas dan dipotong ke bastian. Bastian menatapku dengan tatapan meledek.

“Mama gak usah bahas itu terus. Nanti dia besar kepala. Aku khawatir karena dia berdarah di mobil ku.” Mama hanya tersenyum melihat pembelaanku. Tetapi tidak dengan Anthony Dia menatap dengan tatapan aneh kearahku.

“Yasudah, mama tidak peduli. Intinya Bastian akan tinggal bersama kita untuk sementara. Papa sudah setuju kok.”

“Yaudah terserah mama saja. Tapi kalau dia bermanja ria di kamarku, aku lempar dia dari jendela.” Aku mengambil mangkuk apel dari bastian. MElihat aku bercanda dengan bastian, Anthony mengambil mangkuk tersebut dan dia memberikan tatapan aneh kepada ku dan bastian.

“Nanti bastian pakai bekas kamar gue ajah. Biar dia lebih privasi dan steril. Gak perlu gabung.” Anthony menghabiskan Apel yang dipotong mama. Dan kami hanya mengangguk setuju dengan usulnya. Tapi aku bisa merasakan ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Anthony.

Setelah mengobrol-ngobrol, mama minta Anthony mengantar dirinya ke supermarket. Ingin belanja bulanan katanya.

“Mama pulang dulu kamu jagain Bastian.” setelah berbasa-basi mama keluar dari ruangan. Dan Anthony mengikuti dari belakang.

“okay, sekarang cerita sama gue yang sebenarnya.” Aku menatap wajahnya bastian dan menantikan sebuah jawaban. KArena aku tau, cerita tentang dirinya yang dirampok adalah sebuah kebohongan.

“Kamu mau aku cerita apa lagi sayang?” Dia tersenyum jahil mengcapkan hal itu. Dan itu memnag sukses membuat aku menjadi salah tingkah.

“Cerita sama gue yang sebenarnya.” Bastian tersenyum jahil lalu mencoba mencubit pipiku. Aku tidak berusaha menghindar, dan aku menikmati ketika dia memainkan jarinya di pipiku. Tetapi di waktu yang salah. Anthony datang dan melihat itu semua. Menjadikan suasana menjadi canggung.

“Gue mau ambil jaket mama yang ketinggalan.” Anthony mengambil jaket yang berada di sofa, lalu dia kembali keluar. Tetapi sebelum keluar dia menghampiriku.

“Cepet pulang” Lalu dia keluar kembali.

Aku dan bastian saling tatap.

“Gara-gara lo. Pasti si Dick mikir macem-macem tentang gue” Bastian tidak menggubris ucapanku. Dia kembali mencoba menyentuh pipiku. Tetapi kali ini aku mengelak.

“Jadi gue memang di rampok. Tetapi sama si Benaya.” Mendengar kata-kata benaya aku menjadi mengingat sebuah wajah yang dulu pernah menjadi pacar Bastian.

“Lah? Kok bisa? Kan lo udah putus sama dia. Kan dia udah dapet om kaya raya”

“Iya, tetapi mungkin di dicampakann setelah si om kaya raya bosan sama dia. JAdi dia balik ke gue. Ya karena gue kesepian, gue terima ajah. Tetapi ternyata salah, dia ambil mobil gue. Pas gue lacak, ternyata ada di deket lo ketemuin gue. Pas gue coba ngomong baik-baik, dia ternyata ada cowo lain. Dan akhirnya terjadilah perkelahian.”

“Dan sekarang dia dimana? Kenapa lo gak bilang dari kemarin? Dia harus bertanggung jawab buat semuanya.”

“Yasudahlah, Cuma mobil lama. Lagian gue udah dapat yang lebih berharga dari itu”

“Apaan?”

“Perasaan lo dan mungkin hatinya lo” aku reflek menggeplak kepalanya dengan tanganku.

“Tolol! Lo itu hampir mati gara-gara orang itu. Jangan malah menggampangkan semuanya” dia tertawa terbahak-bahak melihat responku.

“Do you love me, Musa?” Bastian menatapku dengan tatapan yang sangat lembut. Aku tidak menjawabnya, aku hanya mengusap lembut kepalanya.

“Yes?” Bastian menantikan jawaban dari mulutku. Tetapi aku tdak bisa menjawabnya. Aku tidak mau menjadi seorang gay. Kalau aku bilang ya, berarti aku mendeklarasikan diriku sebagai gay. Tetapi kalau bilang tidak, aku berbohong. Ya aku rasa aku sayang Bastian.

Perasaan ini begitu salah, dan mendadak aku menjadi sangat pusing. Aku tersenyum kepada bastian.

“I don’t know. Dan please gak usah bahas hal itu dulu. Lo harus sehat dulu.” Aku mengambil tasku dan bersiap-siap untuk pulang.

“Okay, gue gak akan menyia-nyiakan darah dari seseorang yang berarti buat gue” ucapan itu sukses membuat aku tersipu. Aku mengabaikannya lalu berjalan kearah rumah. aku tidak tau apa yang akan terjadi antara aku dan Anthony nanti dirumah, yang aku tau pasti ada hubungan dengan status Bastian.

Dan benar saja, ketika aku sampai bastian langsung menghampiriku dan memberikan berbagai pertanyaan.

“Lo gay?” Anthonny menahan tubuhku ketika mau menaiki tangga.

“Dude? Seriously?” Aku ingin menghindari Anthony. Dan mungkin pertanyaan itu. Karena memang aku tidak tau jawaban itu. Aku berusaha melewati Anthony. Tetapi Anthony lebih sigap untuk menghalangiku.

“Jawab gue sekarang. Lo pacaran sama Bastian? Jadi lo putus dari Sherin karena lo gay?” Bastian mulai menaikan suaranya. Aku mencoba menenagkannya, berharap papa mama tidak mendengar ini dan membuat ini menjadi semakin besar.

“Dude, calm down. Gak usah teriak-teriak gitu. Sabar gue bisa jelasin semuanya.” Aku mencoba memegang pundak Anthony, tetapi dia menepisnya dengan tatapan jijik.

“Kenapa lo malu kalau orang rumah tau kalau lo gay?” Dan apa yang tidak aku harapkan terjadi. Papa berada di belakang kami dan mendengar apa yang Anthony katakana.

“Gay? Siapa yang gay?” Papa menatapkku dan Anthony bergantian

“Gay? Siapa yang gay?” Papa menatapkku dan Anthony bergantian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s