Next Stop

Pertama

Hembusan angin terus mengibarkan rambutku yang sudah mulai gondrong. Dengan santai tukang ojekku terus mengendarai motornya melewati sungai buatan yang mulai terlihat bersih.

Aku melirik arloji ku yang menunjukan angka 06:23. Dan itu merupakan waktu yang pas untuk berangkat kerja. Jalanan belum terlalu macet dan bus transajkarta belum terlalu padat. Baru beberapa hari aku menjadi seorang pengguna bus transjakarta. Dan aku merasakan kenikmatan jalanan yang lancar. Tidak perlu mengendari di tengah kemacetan Jakarta yang luar biasa parahnya.

“Jurusan Penjaringan!” Kenek busway berteriak sekeras munngkin untuk segera menarik penumpang yang menggunakan jurusan itu. Ada beberapa yang memasuki tetapi bukan aku.

Senjata ampuh untuk menghadapi kerasnya dunia angkutan umum adalah sepatu dan earphone. Pertama kali aku menggunakan transjakarta, aku menggunakan sandal. Dan ternyata sukses kakiku dijadikan pijakan untuk orang-orang yang butuh pijakan.

Dan earphone sangat ampuh buat mendengarkan musik dan apapun untuk mengusir segala kebosanan menunggu bus. Dan ketika berdesakan, itu juga ampuh untuk mengangkat panggilan telpon.

Sebuah bus jurusan Harmoi terbuka lebar didepanku. Petugas memberikan senyuman manis kepada penumpangnya. Berhubung kenek itu memiliki senyum manis, aku berusaha membalas dengan manis pula.

By the way, gue belum memperkenalkan diri. Nama gue Joseph Darmawan. But you can call me Jojo. Gue seorang laki-laki keturunan Chinese berumur 22 tahun. Tetapi jangan harap lo menemukan seorang laki-laki putih bermata sipit. Gue memiliki kulit sawo matang dan mata yang lebar.

Gue berkerja di salah satu perusahaan swasta. Beruntung masih mendapatkan perkerjaan di tengah zaman susah cari kerja, apalagi hanya lulusan SMA. Tetapi hidup harus di syukuri dan terus dijalani bukan?

Mendapatkan bus sepi adalah suatu anugrah. Meskipun harus berdiri, asalkan tidak berdesakan itu sudah sangat anugrah dipagi hari. Aku mencoba membaca social media dan beberapa berita untuk mengusir kebosanan. Meskipun hanya melewati 3 halte sebelum aku transit di halte grogol. Perjalanan  itu tetap membosankan.

Dan sebuah rem mendadak diberikan oleh sopir dan sukses meluncurkan handphone terlepas dari tangan dan mendarat di sebuah kepala.

“Shit!” handphone berlayar 5inch itu mampir di jidat sebelum terjatuh di pangkuan seorang laki-laki.

Aku panic bukan karena kepala, tetapi karena handphonenya. Aku takut sesuatu terjadi dengan handphoneku.

“Sorry, gak sengaja. Rem mendadak supirnya.” Aku berusaha mengeluarkan wajah bersalah. Beberapa orang disekitarku menahan tawa melihat kejadian itu.

“Hapenya terbang” Kata seorang laki-laki tua disampingnya. Semua langsung senyum-senyum sendiri. Karena aku tidak enak hati dengan korban. Aku mencoba menahan tawa. Dan beberapa kali meminta maaf.

Setalah berlalu, aku mencoba mengecek sekeliling handphoneku. Siapa tau ada yang retak kena tulang kepala.

“Kepala masnya gak di cek juga?” seorang ibu-ibu celetuk dan mengundang tawa di sekitar. Aku merasakan wajahku memerah. Tengsin sekali!

“Tidak apa kok.” Korban itu berusaha untuk menyelesaikan masalah itu. Tidak mau berlarut-larut. Tetapi akhirnya membuat aku kembali meminta maaf. Dia hanya menganggukkan kepalanya yang terlihat bahwa jidatnya sedikit merah.

“Grogol masih lama ya?” Kataku dalam hati.

Ketika pemberitahuan menyebutkan kata grogol aku berjalan kearah pintu bersiap untuk pergi dari rasa memalukan ini. dengan dentuman musik di telingaku, aku berusaha mengurug diri sendiri. Melupakan semua kejadian memalukan. Karena untuk bertemu kembali dengan orang yang sama di esok harinya kecil kemungkinannya.

Dan ketika aku berada di bus selanjutnya yang akan membawaku ke slipi ternyata sang korban juga memasuki bus yang sama. Tetapi sepertinya dia menjaga jarak. Takut handphoneku terbang lagi mungkin.

***

06.30

Busway berhenti dengan manis di depanku. Dengan perlahan dan sigap aku mencari tempat yang nyaman. Karena sudah kubilang, kalau jam segini adalah jamnya busway sangat nyaman.

Tetapi kenyamanan itu berubah ketika aku melihat seseorang yang membuatku menjadi kembali teringagt kejadian memalukan beberapa hari yang lalu.

Dia menatapku sebentar lalu memalingkan wajahnya. Aku rasa dia masih mendendam tentang handphoneku yang menyapa keningnya.

“Tolong di geser kembali, supaya yang lain muat untuk masuk. Tolong bantuannya.” Teriak kenek dari depan pintu. Keadaan bus mulai penuh. Dan untuk menampung jumlah penumpang semaksimal mungkin, kami harus dipaksa merapatkan barisan.

Aku bergeser dan berada tepat di samping laki-laki itu. Aku memberikan senyuman, mencoba mencairkan suasana yang awkward. Dia hanya tersenyum sebentar lalu menoleh kembali kearah berlawanan.

“Sombong ya?” dalam hatiku.

Aku kembali asik dengan musik di telingaku. Mencoba mengabaikan laki-laki disampingku. Dilihat dari perawakannnya aku rasa dia sekitar umur 25an. Dan yang aku tau dia kerja kearah gatot subroto. Dia memiliki wajah yang sangat tegas. Tulang pipinya yang menjadikan wajahnya terlihat kotak tetapi tampan. Ditambah dengan bulu halus yang terlihat sedikit disisakan ketika bercukur menambah kesan maskulin.

Sebagai seorang gay, aku memang tertarik dengan wajahnya. Tetapi melihat sikapnya yang sombong, sedikit ilfeel.

Ketika hampir sampai di halte grogol aku berjalan menerobos pagar betis. Berusaha menggapai pintu sebelum terlewat. Dan laki-laki itu aku tau dia juga turun di halte yang sama. Dia berjalan dibelakangku perlahan.

Dan entah karena aku sedang sial atau aku yang sedang lemah. Rem mendadak kembali hadir. Dan sukses hampir membuat aku melayang dengan kecepatan tinggi. Tetapi sebuah tangan menahan lenganku dan membuatku tetap ditempat.

“Thanks” Ucapku tetapi hanya berbalas anggukan. Aku berlalu meninggalkannya dibelakang. Tetapi tentu tidak bisa, kami kembali bertemu di bus yang sama menuju kearah pinang ranti.

“Mungkin ketika kita bertemu kembali akan ada hal yang terbang kembali” ucapnya disampingku dan tersenyum.

“ah? Iya semoga saja. Dan semoga handphone gue tidak kena jidat lu lagi” kali ini sebuah senyum terlempar dari wajahnya yang maskulin itu.

“James” dia mengulurkan tangannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s