Next Stop

Kedua

Hari senin sudah terkenal dengan segala keruwetan. Hari dimana semua kendaraan menjadi berlipat ganda dan semua orang mendadak kesiangan. Mungkin karena masih asik dengan weekend akhirnya lupa kalau harus segera beraktivitas.

Dan aku harus mengalami itu juga. Busway terasa sangat ramai, butuh waktu 45menit untuk aku masuk ke dalam bus. Itu pun karena aku memaksakan untuk masuk. Karena kalau tidak, aku bisa telat.

“Jangan dipaksa ya” petugas busway terdengar sedikit menyerah mengendalikan penumpang yang semakin liar. Sedangkan aku hanya pura-pura tidak mendengar.

Kalau kalian pernah menggunakan fasilitas transjakarta dipagi hari. Kalian pasti tau betapa menyiksanya itu. Kita harus menjaga diri kita agar tidak terjatuh, dan menjaga diri kita dari sandaran orang-orang yang tidak tau diri.

Mereka seperti orang yang sangat kurang sandaran hidup. Yang bergantung dengan tubuh orang lain. Dan semua penderitaan itu akan bertambah ketika selesai dari penyiksaan itu.

Tubuh kita akan terasa sangat pegal-pegal. Seperti habis menggotong beras berkarung-karung. Seperti habis dipukul sama tukang panggul beras. Dan seperti habis melakukan gym pertama kalinya. Itu sangat-sangat menyiksa.

Dan jangan lupakan dengan orang-orang telat yang karena sudah sangat telat, mereka tidak sempat mandi ataupun pakai deodorant. Mereka akan dengan senang hati membagi penderitaannya itu dengan aroma keteknya yang sangat memikat.

“Halte selanjutnya, Halte Grogol! Bagi yang mau turun, persiapkan diri anda. Perhatikan barang bawaannya jangan sampai tertinggal atau berpindah tangan!”

Panggiilan surgawi! Pikirku. Karena setelah ini, aku pindah jurusan yang menurutku orang kantoran semua. wangi dan sedap dipandang. Meskipun jurusan yang aku naik jarang ramai, tetapi kalaupun ramai aku tetap suka.

Dan ketika aku mau menghampiri pintu antrian. Aku melihat seseorang yang aku kenal.

“Hei, telat juga?” aku menepuk pundaknya.

“Ah, hei. Nggak kok. Tadi rame banget gak kebagian terus. Tapi emang telat juga” dia menunjukan giginya yang rapih. Ada bapak-bapak melihat bingung kearahnya. Tetapi dia seakan tidak peduli.

“Macet banget ya hari ini” James membuka pembicaraan.

“Iya banget. Biasa lah hari senin.”

“memangnya kerja dimana?”

“AKu kerja di slipi. Di wisma 77.” Kataku. Dia mengangguk-anggukan kepalanya.

“Oh pantesan turunnya di slipi kemanggisan ya?”

“Iyalah” aku memutarkan bola mataku. Dia tertawa.

“Aku di Dipo Tower. Di sampign JDC” katanya tanpa aku tanya.

“Ohh, berarti turun di slipi petamburan?” Dia mengangguk kembali. Dan tidak beberapa lama, bus menuju kearah slipi berhenti di depan pintu dan membuat semua orang bergeser dan semakin mendesak.

Aku bisa melihat gerak-gerik James. Antara benar atau hanya kepedean. James melindungi aku. Dia berjalan dibelakangku dan menggengam lengaku. Aku merasakan dia menahan dorongan agar aku tidak mendapat dorongan tersebut.

Ketika di dalam. Dia memberikan berusaha memberikan duduk.

“TIdak usah, deket kan? Kasih yang lain saja.” Aku berjalan lebih dalam, lalu bersandar ke salah satu pintu emergency. Disini tempat palling asik untuk berdiri. Dia mengikutiku lalu tersenyum.

“Kenapa kamu suka berdiri disini?” Tanya James.

“Karena disini luas. Aku tidak perlu berdiri berdesakan. Dan ditambah aku bisa bersandar” aku tersenyum

“Tapi kan berbahaya. Kalau tiba-tiba pintu itu terbuka bagaimana?”

“Dan untungnya tidak pernah ada yang terbuka sih. Sekalipun terbuka aku kan cekatan. Jadi bisa menghindar” dia tertawa sangat geli.

“Kenapa?” Tanyaku

“kalau kamu cekatan, kamu pasti bisa mencegah handphonemu mendarat di keningku. Dan tidak perlu hampir terbang akibat rem mendadak” dia semakin tertawa ketika melihat wajahku yang memerah. Dia tepat sekali.

“Tapi tidak apa, aku suka” Aku tidak pasti dengan apa yang aku dengar. Aku mencobba meminta dia mengulang perkataannya

“Tidak apa, aku ngomong sendiri” Mendengar itu aku hanya bisa mendengus.

“By the way, kok kamu tau aku suka berdiri disini? Bukannya kita baru 3kali bertemu?”

“Hmm, ya kan selama itu kamu selalu berdiri disini.” Dia tersenyum memamerkan giginya yang sangat rapih itu

Aku hanya bisa iri dengan giginya. Dan mengangguk setuju. AKu malas berfikir panjang.

“Oke deh, see you next time” aku berjalan kearah pintu ketika petugas menyebutkan halte tujuanku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s