Next Stop

Ketiga

Sudah hampir 4bulan aku tidak melihat orang ceroboh itu lagi di busway. Entah kemana dia, mungkin dia sudah mendapatkan alternative kendaraan lain untuk mencapai tempat kerjanya. Tetapi selama empat bulan ini aku selalu melihat ke arah pintu masuk ketika bus yag aku tumpai berhenti di haltenya. Atau aku akan mencoba menunggunya di halte grogol untuk hanya bertemu dia kembali Tetapi tetap saja aku mendapatkan hasil yang nihil. Aku hanya mempersulit diriku dengan membuat jadwal ku berantakan. Datang mepet di kantor.

“Kenapa sih lo jadi sering dateng telat di kantor?” Tanya teman ku

“Gak apa, Cuma sering kesiangan ajah. Lalu busway mogok lah, kejebak macet lah.” Jawab ku sekenanya.

“James Wiguna kesiangan? Itu hal terbullshit yang gw denger. Come on man, lu jangan boong sama gue.” Mempunyai teman dekat itu enak enak susah. Karena dia mengerti kita, kita pasti gampang nyambung. Tapi susahnya kalau kita lagi bohong pasti dia tau.

“No lah, bukan apa-apa kok” Jawabku ke Ricky.

“Lah, dasar. Gue tau lu pasti lagi galau karena di tolak sama cowok ya?” Bisiknya di telingaku dan menghasilkan sebuah dorongan di kepalanya.

Ya, kita sudah sama-sama terbuka dengan orientasi seksual kami. Dia seorang biseksual dan aku seorang homoseksual.

“Gue ditolak? Gak ada sejarahnya. Kalau gue nembak lu pasti lu juga bakal terima gue kan?” Kami sama-sama tertawa dan kami melanjutkan hari kami.

Aku menatap layar handphoneku dan menuju ke sebuah gallery foto. Aku menatap seseorang yang telah membuatku sedikit kacau. Aku hanya bertemu dia di busway. Dan berlanjut dengan handphone dikepala dan sebuah obrolan sederhana. Ternyata itu yang membuat hatiku di jamah oleh dia.

“nah kan, jadi siapa dia? Kok lu seperti penguntit?”

Tidak secara aku duga, Ricky sudah berada dibelakangku. Dia langsung merebut handphoneku.

“Feck! Lu mau ngapain?” Aku berusaha merebut handphoneku dari tangannya.

“Jadi siapa namanya?” Ricky memberikan handphoneku dengan mata yang sedikit nakal.

“Gak tau” Aku membalas dengan ketus.

“Masa iya lu gak tau namanya? Lucu sih, tapi masih bocah keliatannya.”

“Gue cuma ketemu di busway. Dan Cuma ngobrol sedikit. Itu ajah”

“Terus u suka Cuma karena itu?” Aku mengangguk dengan malu dan tawa Ricky membahana di seluruh ruangan. Alhasil membuat semua orang penasaran.

“Seorang James Wiguna, Pria tampan dan mapan berhasil di taklukan oleh bocah alay di busway yang bahkan dia gak tau namanya??” Ricky berbisik kembali di telingaku.

“Go bitch! Jangan ganggu gue” Aku mengabaikan Ricky lalu pura-pura sibuk di layar komputerku.

Tapi setelah aku pikir memang ada benarnya dengan apa yang dikatakan oleh dia. Bukan aku bermaksud menyombongkan diri. AKu memang memiliki wajah yang lumayan, setiap aku menyatakan cinta pasti akan di terima. Dan aku memiliki tingkat kriteria tinggi.

Tetapi ternyata sekarang aku seperti mendaptakan karma. Aku mencintai seseorang yang aku gak kenal, bukan tipeku sama sekali, tetapi mampu membuatku sepertai orang gila. Dia terlihat seperti umur 20an, berbadan tidak muscle bahkan bisa dibilang kurus. Dan tidak memiliki sex appeal sama sekali. Mungkin kalau aku menunjukan ke mantanku, aku akan mendapatkan ejekan luar biasa.

Mungkin memang aku harus melupakan kebodohan ku yang luar biasa ini. mungkin aku hanya penasaran dan hanya ingin mencoba hal baru.

***

“James kan ya?” Seorang menepuk ku dari belakang ketika aku sedang memilih  buku di sebuah took buku di mall.  Dan aku seperti merasakan kejutan yang sangat mengejutkan. Bocah busway itu muncul kembali!

“Hei! Bocah ceroboh!” Ada sebuah kegirangan tergambar jelas di nadaku. Dan membuat dia mengkerutkan dahinya.

“Kok ceroboh? Dan biasa ajah jangan teriak. Seneng amat. Hahaha” Dia tertawa dan memperlihatkan giginya yang bolong di depan.

“Kaget sih, gue pikir gue lagi dibusway. Soalnya kan gue ketemu lu di busway biasanya.”

“Hahaha, tapi kan gue udah lama gak naik busway. Baru balik dari luar kota”

“Oh gitu. Gak nyadar juga sih” BOHONG!! Demi menjaga image seorang laki-laki tampan dan mapan aku harus berbohong. Kalau ada Ricky aku pasti langsung di teriyaki pembohong bodoh.

“iyaya? Pede banget ya gue. Yaudah gue cabut dulu ya. Bye!” Dia berbalik dan sebuah tindakan bodoh aku memanggilnya. Aku ingin mengetahui namanya. Setidaknya namanya baru nomornya.

“Hei!” dia berbalik, tetapi ketika aku mau menanyakan namanya, tiba-tiba seorang laki-laki menghampirinya.

“udah ketemu bukunya?”

“Ah, belum nih. Tadi ngobrol sama temen.” Lalu dia pergi dengan pria itu tanpa tau aku memanggilnya.

“Ah! SIAL! SIAL!” aku mengambil sebuah buku yang aku mau beli dengan kasar, lalu pergi ke kasir. Dan ketika sampai dikasir, aku baru sadar itu buku untuk ibu hamil.

“Mbak, saya salah beli. BOleh ditukar? Kan saya baru kan bayarnya”

“Tidak bisa bapak. SEmua yang sudah dibeli tidak bisa di kembalikan atau ditukar” mba-mba itu hanya memberikan senyum manis yang sudah biasa dia berikan ke customernya.

Dengan maki-maki dalam hati aku meninggalkan toko itu dan berharap aku tidak mendapatkan kesialan selanjutnya akibat kurang fokus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s